Sekali
lagi saya katakan membaca adalah perkara penting dalam kehidupan, selain
menulis. Sebuah kata mutiara mengatakan "jadilah pembaca dan bertemanlah
dengan buku. Pikiran yang luas akan menjadikan hidup Anda tak terbatas".
Terlepas dari kata mutiara ini, sebaiknya kita juga mengetahui dengan pasti apa
yang kita baca. Bukan hanya asal-asalan membaca tanpa menelaah, mendalami dan
mengkritisi isinya.
Baru-baru ini judul sebuah novel
memenuhi atmosfer dunia remaja. Mereka berbondong-bondong memborong buku ini
seolah menjadi bacaan wajib warga negara Indonesia. Yang tidak mampu membeli
bahkan rela antri berhari-hari untuk mendapat giliran baca. Yang selesai
membaca, bercerita tentang betapa hebatnya novel ini. Alur romantis, kata-kata
puitis dan berbagai macam pujian berterbangan.
Saat
itu saya berpikir novel ini memang bagus dan layak dibaca. Namun kekecewaan
jelas sekali menghujam ulu hati ketika lembar demi lembar novel mulai terbaca
oleh mata kepala. Mendadak rasa sedih menyergap, sadar akan kekeliruan yang
terjadi. Selera baca masyarakat Indonesia jelas sekali sangat bobrok. Entah
karena promosi novel ini begitu tinggi sehingga alam bawah sadar masyarakat
terpengaruhi, atau memang masyarakat Indonesia, terutama para remajanya belum
bisa menyaring bacaan-bacaan yang layak dan tidak.
Novel
Dilan memiliki tata bahasa yang bisa dibilang buruk, sama sekali tidak memenuhi
aturan EYD. Kosakata yang digunakan juga benar-benar jauh dari istilah
"menyastra" apalagi seni menulis. Menggunakan kosakata sehari-hari
memang bukan hal buruk dalam penulisan novel, namun dalam novel Dilan penggunaan
kata sehari-hari terlalu berlebihan sehingga bisa dikatakan, novel ini seperti
naskah drama kontemporer. Tidak ada kebaikan yang bisa dipetik dari kata-kata yang
digunakan dalam novel ini. Meskipun beberapa pembaca mengaku nyaman-nyaman saja
dengan kosakata yang dugunakan.
Selain
dari segi penggunaan bahasa, alur yang terjadi dalam cerita juga dinilai sangat
lambat dan bertele-tele. Entah karena penulis merasa kekurangan jalan cerita
atau memang dibuat seperti itu sehingga banyak sekali percakapan yang terkadang
tidak penting. Dan sekali lagi, beberapa pembaca mengaku menyukai alur cerita
yang menurut mereka romantis dan bikin baper.
Fenomena
boomingnya novel Dilan memperjelas kenyataan bahwa remaja sekarang
kurang memiliki rasa kritis terhadap apa yang mereka baca. sebagian besar hanya
menerima mentah-mentah setiap bacaan yang direkomendasikan, bacaan yang banyak
dipromosikan, tanpa ingin tahu lebih lanjut sebenarnya bacaan macam apa itu. Yang
lebih mengerikan lagi, semua media tidak menyadari kebobrokan bahasa novel ini.
Apakah mereka benar-benar tidak menyadari atau sengaja menutup mata. Tidak ada
satupun artikel dalam mesin pencari nomor satu, Google, yang menyadarkan
masyarakat. Semua seolah bungkam.
Pada
hakikatnya semua karya memang berhak diapresiasi dan dihargai, terutama karya
tulis. Namun sangat diperlukan penyaringan terhadap karya-karya yang akan
beredar. Ini adalah kewajiban para penerbit, editor, dan pengamat media senior.
Jangan menutup diri dari hal penting ini. Terutama para remaja penggemar novel,
jadilah pembaca yang kritis namun tidak anarkis demi kemajuan bangsa Indonesia.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar