Senin, 31 Oktober 2016

Remaja Indonesia, Kambing Congek yang Membaca

Sekali lagi saya katakan membaca adalah perkara penting dalam kehidupan, selain menulis. Sebuah kata mutiara mengatakan "jadilah pembaca dan bertemanlah dengan buku. Pikiran yang luas akan menjadikan hidup Anda tak terbatas". Terlepas dari kata mutiara ini, sebaiknya kita juga mengetahui dengan pasti apa yang kita baca. Bukan hanya asal-asalan membaca tanpa menelaah, mendalami dan mengkritisi isinya.

            Baru-baru ini judul sebuah novel memenuhi atmosfer dunia remaja. Mereka berbondong-bondong memborong buku ini seolah menjadi bacaan wajib warga negara Indonesia. Yang tidak mampu membeli bahkan rela antri berhari-hari untuk mendapat giliran baca. Yang selesai membaca, bercerita tentang betapa hebatnya novel ini. Alur romantis, kata-kata puitis dan berbagai macam pujian berterbangan.
Saat itu saya berpikir novel ini memang bagus dan layak dibaca. Namun kekecewaan jelas sekali menghujam ulu hati ketika lembar demi lembar novel mulai terbaca oleh mata kepala. Mendadak rasa sedih menyergap, sadar akan kekeliruan yang terjadi. Selera baca masyarakat Indonesia jelas sekali sangat bobrok. Entah karena promosi novel ini begitu tinggi sehingga alam bawah sadar masyarakat terpengaruhi, atau memang masyarakat Indonesia, terutama para remajanya belum bisa menyaring bacaan-bacaan yang layak dan tidak.
Novel Dilan memiliki tata bahasa yang bisa dibilang buruk, sama sekali tidak memenuhi aturan EYD. Kosakata yang digunakan juga benar-benar jauh dari istilah "menyastra" apalagi seni menulis. Menggunakan kosakata sehari-hari memang bukan hal buruk dalam penulisan novel, namun dalam novel Dilan penggunaan kata sehari-hari terlalu berlebihan sehingga bisa dikatakan, novel ini seperti naskah drama kontemporer. Tidak ada kebaikan yang bisa dipetik dari kata-kata yang digunakan dalam novel ini. Meskipun beberapa pembaca mengaku nyaman-nyaman saja dengan kosakata yang dugunakan.
Selain dari segi penggunaan bahasa, alur yang terjadi dalam cerita juga dinilai sangat lambat dan bertele-tele. Entah karena penulis merasa kekurangan jalan cerita atau memang dibuat seperti itu sehingga banyak sekali percakapan yang terkadang tidak penting. Dan sekali lagi, beberapa pembaca mengaku menyukai alur cerita yang menurut mereka romantis dan bikin baper.
Fenomena ­boomingnya novel Dilan memperjelas kenyataan bahwa remaja sekarang kurang memiliki rasa kritis terhadap apa yang mereka baca. sebagian besar hanya menerima mentah-mentah setiap bacaan yang direkomendasikan, bacaan yang banyak dipromosikan, tanpa ingin tahu lebih lanjut sebenarnya bacaan macam apa itu. Yang lebih mengerikan lagi, semua media tidak menyadari kebobrokan bahasa novel ini. Apakah mereka benar-benar tidak menyadari atau sengaja menutup mata. Tidak ada satupun artikel dalam mesin pencari nomor satu, Google, yang menyadarkan masyarakat. Semua seolah bungkam.
Pada hakikatnya semua karya memang berhak diapresiasi dan dihargai, terutama karya tulis. Namun sangat diperlukan penyaringan terhadap karya-karya yang akan beredar. Ini adalah kewajiban para penerbit, editor, dan pengamat media senior. Jangan menutup diri dari hal penting ini. Terutama para remaja penggemar novel, jadilah pembaca yang kritis namun tidak anarkis demi kemajuan bangsa Indonesia.

            

Tidak ada komentar:

Posting Komentar