Rabu,
19 Oktober 2016 diadakan kuliah umum di ruang teatrikal fakultas Dakwah dan
Komunikasi UIN Sunan Kalijaga. Kuliah umum bertema besar "Prospek dan
Tantangan Jurnalis di Era Digital" ini diikuti oleh mahasiswa semester 1
dan 3 jurusan KPI (Komunikasi dan Penyiaran Islam).
Penyaji materi kuliah umum adalah
Ibu Hj. Sri Syamsiyah, S.Sos. M.Si., beliau adalah kepala desk SKH Solo Metro di
harian surat kabar Suara Merdeka.
Walaupun harus datang terlambat karena
terjadi kecelakaan yang mengakibatkan macet di jalan, Ibu Hj. Sri Syamsiyah
tetap semangat mengisi acara pagi itu. Beliau yang telah berkecimpung lama
dalam dunia kejurnalistikan mencoba membagi ilmu dan pengalaman kepada
mahasiswa-mahasiswi KPI sebagai para calon jurnalis.
Jumlah
mahasiswa yang datang dalam kuliah umum terbilang cukup banyak. Tema menarik
yang diangkat membangkitkan antusiasme mahasiswa untuk hadir dan turut
berpartisispasi secara aktif. Terbukti dengan banyaknya jumlah penanya selama
forum tanya-jawab. Beberapa orang bahkan harus rela menyimpan kembali
pertanyaannya karena jatah waktu kuliah umum telah usai.
Ibu
Hj. Sri Syamsiyah memberikan beberapa materi tentang gambaran dunia jurnalistik
di era digital seperti sekarang. Apa saja tantangannya dan bagaimana seharusnya
cara seorang jurnalis menyesuaikan diri. Lebih dalam lagi, pemateri juga
menjabarkan kenyataan dunia surat kabar zaman sekarang melalui jawabannya dari
pertanyaan salah seorang audien. Dunia
pemberitaan zaman sekarang dianggap sudah tidak lagi berada pada fungsinya
yakni menyiarkan berita kepada khalayak luas. Dunia pemberitaan baik itu cetak
maupun elektrolik, sama-sama telah dikuasia oleh komersialisme media massa.
"Tinggal
bagaimana pilihan kita. Berdiri sendiri secara independen dan berusaha
meluruskan fungsi media tersebut dari luar atau masuk menjadi bagian di
dalamnya sambil berusaha memperbaiki dari dalam."
Materi-materi
yang disajikan oleh pemateri kuliah umum antara lain tentang prospek media
massa yang dapat dimanfaatkan oleh para calon jurnalis muda. Kenyataan bahwa
media massa mempengaruhi cara berpikir masyarakat, bisa digunakan sebagai media
dakwah Islam melalui berbagai kajian. Kajian muslim melalui media massa adalah
pada bidang makanan, tour and travel, hotel, obat, kosmetik, mode dan
media itu sendiri.
"Menjadi
jurnalis berarti juga turut mencatatkan sejarah, bahkan tidak menutup
kemungkinan untuk menjadi pelaku sejarah, kita harus meraih kesempatan ini
sebaik mungkin," tutur beliau. Sebelum terjun ke dalam dunia
jurnalistik, hendaknya calon jurnalis menyiapkan fondasi berupa niat dan tekad,
keterampilan, kreatifitas dan keahlian. Disamping itu ia juga harus mencari
tahu apa fungsi pers dan etika di dalamnya. Perlu diketahui bahwa pers bukan
hanya menyampaikan informasi, tetapi juga memenuhi kebutuhan informasi yang
lengkap dan akurat tanpa memnimbulkan lagi pertanyaan.
Menulis
adalah cerminan dari rasa syukur terhadap apa yang telah kita miliki. Menulis
juga merupakan cara berbagi dengan orang lain, mendidik, memberi informasi,
inspirasi, kontrol sosial, hiburan dan lain sebagainya. Banyak sekali orang
yang membutuhkan uluran tangan para jurnalis. Memang bukan berupa materi, hanya
penyebaran informasi bahwa disekitar kita ada orang yang membutuhkan
pertolongan. Namun tanpa jurnalis, berita ini tidak akan sampai kepada calon
penolong.
Sayangnya
dunia kejurnalistikan zaman sekarang semakin diwarnai dengan berbagai jenis tantangan.
Saingan-saingan penyaji berita semakin ketat karena perkembangan teknologi dan pertambahan
jenis media massa. Ditambah dengan cara konsumsi masyarakat yang cenderung
terseret arus globalisasi. Kondisi tersebut seharusnya menjadikan kita lebih berpikir
maju. Tekhnologi bisa dimanfaatkan dan diambil pengaruh positifnya seperti
kecepatan penyebaran informasi dan kemampuan percetakan mencetak media-media
menjadi lebih berwarna dan menarik. Bukan sebaliknya membuat para jurnalis
malas mengejar berita. Tekhnologi adalah sebuah alat yang jangan sampai memperbudak
kita.
Selain
itu Ibu Hj. Sri Syamsiyah juga menjamin lulusan prodi KPI akan mudah mendapat
pekerjaan dalam dunia kewartawanan. Kriteria wartawan yang banyak dicari
sekarang adalah yang telah memiliki pengalaman dalam bidangnya. Bahkan pemateri
mengatakan bahwa jurnalis adalah profesi dimana seseorang bisa menguasai ilmu
dari berbagai bidang. Orang lain boleh saja adalah seorang ahli fiqih, ahli
hukum, dan ahli-ahli lainnya. Tapi seorang jurnalis bisa menuliskan semua
bidang kedalam satu tulisan.
Kuliah
umum yang telah diselenggarakan kedua kalinya selama satu semester itu selesai
sekitar pukul 12 siang. Bapak Saptoni, M.A sebagai moderator acara memutuskan
untuk tidak menarik kesimpulan dari
materi kuliah umum siang itu. Menurutnya semua aspek materi berbobot dan
penting untuk diingat. Kepala dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi, Bapak Drs. Abdul
Rozaki berharap mahasiswa yang menghadiri kuliah umum bisa mendapat bekal ilmu
tentang kejurnalistikan yang bermanfaat untuk kedepannya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar