“Kemarin aku begitu cerdas, maka aku ingin mengubah dunia. Kini aku menjadi bijak, maka aku pun mengubah diriku sendiri.”
– Jalaludin Rumi
Menurut KBBI, tangguh adalah adjektiva yang berarti kuat, andal, dan sukar dikalahkan. Setiap orang yang memiliki sifat tangguh tentu akan sangat bahagia. Walau semua terasa tak mudah, tapi dia bisa melewatinya dengan baik. Lantas, bagaimanakah menjadi tangguh untuk seorang yang memilih profesi sebagai penulis?
Hal-hal berikut saya kira cukup penting untuk Anda notice, beberapa hal yang saya sarikan dari para praktisi dunia kepenulisan.
Pertama, pastikan Anda tahu alasan memilih menjadi penulis. Milikilah alasan yang bisa menggerakkan Anda, big enough to inpire you. Anda ingin menjadi penulis best-seller? Menginspirasi banyak orang? Atau terkenal? Tuliskanlah setidaknya lima motif dan alasan Anda memilih menjadi penulis. Alasan-alasan tersebut akan menuntun Anda untuk fokus serta memberikan energi yang kuat bagi Anda.
Ciptakan karya sebanyak mungkin. Anda pasti tahu sebuah ungkapan practice makes perfect. Jika anda ingin menjadi seorang expert, buatlah tulisan sebanyak-banyaknya. Faiz Mansur dalam Genius Menulis mengungkapkan bahwa Mozart menjadi maestro musik klasik setelah menuliskan 600 karya musik, Pablo Picasso dianggap dewa melukis setelah menggarap 20.000 lukisan. Mungkin ada seorang penulis yang karyanya hanya sedikit tetapi berkualitas. Namun apakah kita tahu berapa banyak karyanya yang tak dipublikasikan? Saya kira penulis tersebut tetaplah menulis dalam jumlah besar, hanya saja kita tak diperbolehkan membaca karyanya. Jadi jelas, kuantitas adalah hal yang bisa mengasah kualitas diri Anda sebagai penulis.
Berkaryalah dengan hati. Banyak kita jumpai, di ranah penulisan maupun bidang lain, karya yang terlihat seragam, mainstream, kaku, dibikin asal-asalan atau malah hasil jiplakan. Mengapa hal itu bisa terjadi? Kita sama tahu, menulis adalah proses sebuah kreativitas. Sedangkan dari kreativitas akan dihasilkan karya yang lebih baik dan berbeda. Maka jawabannya terletak pada hati. Karya-karya itu tak dibuat dengan hati, sehingga tak menyentuh sisi emosional dan mental pembacanya. Padahal karya yang baik tentu akan hinggap di hati pembaca lebih lama, mempengaruhi sikap dan pandangannya. Jika Anda ingin karya Anda tinggal di hati pembaca, maka menulislah dengan sepenuh hati.
Carilah value yang lebih tinggi dari uang. Anda bisa saja menjadikan menulis sebagai pekerjaan utama atau sampingan. Tapi jika fokus utama Anda adalah mencari uang, maka karya Anda akan membosankan dan tak berkembang. Anda tak akan berminat mencoba mengembangkan naluri dalam mengolah kata-kata ketika tujuan Anda akan uang terpenuhkan.
– Jalaludin Rumi
Menurut KBBI, tangguh adalah adjektiva yang berarti kuat, andal, dan sukar dikalahkan. Setiap orang yang memiliki sifat tangguh tentu akan sangat bahagia. Walau semua terasa tak mudah, tapi dia bisa melewatinya dengan baik. Lantas, bagaimanakah menjadi tangguh untuk seorang yang memilih profesi sebagai penulis?
Hal-hal berikut saya kira cukup penting untuk Anda notice, beberapa hal yang saya sarikan dari para praktisi dunia kepenulisan.
Pertama, pastikan Anda tahu alasan memilih menjadi penulis. Milikilah alasan yang bisa menggerakkan Anda, big enough to inpire you. Anda ingin menjadi penulis best-seller? Menginspirasi banyak orang? Atau terkenal? Tuliskanlah setidaknya lima motif dan alasan Anda memilih menjadi penulis. Alasan-alasan tersebut akan menuntun Anda untuk fokus serta memberikan energi yang kuat bagi Anda.
Ciptakan karya sebanyak mungkin. Anda pasti tahu sebuah ungkapan practice makes perfect. Jika anda ingin menjadi seorang expert, buatlah tulisan sebanyak-banyaknya. Faiz Mansur dalam Genius Menulis mengungkapkan bahwa Mozart menjadi maestro musik klasik setelah menuliskan 600 karya musik, Pablo Picasso dianggap dewa melukis setelah menggarap 20.000 lukisan. Mungkin ada seorang penulis yang karyanya hanya sedikit tetapi berkualitas. Namun apakah kita tahu berapa banyak karyanya yang tak dipublikasikan? Saya kira penulis tersebut tetaplah menulis dalam jumlah besar, hanya saja kita tak diperbolehkan membaca karyanya. Jadi jelas, kuantitas adalah hal yang bisa mengasah kualitas diri Anda sebagai penulis.
Berkaryalah dengan hati. Banyak kita jumpai, di ranah penulisan maupun bidang lain, karya yang terlihat seragam, mainstream, kaku, dibikin asal-asalan atau malah hasil jiplakan. Mengapa hal itu bisa terjadi? Kita sama tahu, menulis adalah proses sebuah kreativitas. Sedangkan dari kreativitas akan dihasilkan karya yang lebih baik dan berbeda. Maka jawabannya terletak pada hati. Karya-karya itu tak dibuat dengan hati, sehingga tak menyentuh sisi emosional dan mental pembacanya. Padahal karya yang baik tentu akan hinggap di hati pembaca lebih lama, mempengaruhi sikap dan pandangannya. Jika Anda ingin karya Anda tinggal di hati pembaca, maka menulislah dengan sepenuh hati.
Carilah value yang lebih tinggi dari uang. Anda bisa saja menjadikan menulis sebagai pekerjaan utama atau sampingan. Tapi jika fokus utama Anda adalah mencari uang, maka karya Anda akan membosankan dan tak berkembang. Anda tak akan berminat mencoba mengembangkan naluri dalam mengolah kata-kata ketika tujuan Anda akan uang terpenuhkan.
“Uang itu sendiri tidak akan membawa kebahagiaan untuk Anda. Uang ditambah memiliki pekerjaan yang tepat akan membawa kebahagiaan yang besar.” (Jean B. Rosenbaum, M. D.)
Jadilah seperti kanak-kanak, hilangkan prasangka agar tercipta karya-karya kreatif, demikian wejangan Thomas Huxley. Hal ini yang bisa menjawab mengapa Anda sering mengalami kejemuan, mandek dan kebosanan yang akut ketika beraktivitas menulis. Anda tahu, seorang anak kecil adalah gudangnya pikiran kreatif dan imajinasi tak terbatas. Mereka tak kenal rasa takut atau khawatir. Tirulah semangat mereka yang seperti tak habis dengan dunia khayalan yang lugu.
Terakhir, nikmatilah pekerjaan ini. Mungkin kita harus setuju dengan Linda Fay, seorang praktisi CM Method, bahwa menulis barangkali memang perlu kerja keras, tapi bisa juga dinikmati. Faktanya, menulis itu sebuah seni, dan bukan sains. Yang sungguh-sungguh Anda butuhkan untuk jadi penulis tangguh adalah sejumlah besar bacaan berkualitas dan berjam-jam praktik menulis. Jadi, membaca dan menulislah dalam jumlah besar, melampaui apa yang bisa Anda perkirakan.
Sebagai penutup, saya akan kutip sebuah nasihat dari Pramoedya Ananta Toer, sastrawan terkemuka negeri ini, bahwa menulis merupakan terjemahan dari keadaan bahwa kehadiranku masih ada gunanya bagi kehidupan. Jika Anda setuju, saya berikan tanda selamat, Anda telah memilih jalan yang luar biasa.
narasumber: http://www.arthinkle.com/articles/detail/kiat-menjadi-penulis-tangguh

Tidak ada komentar:
Posting Komentar