Kamis, 20 Oktober 2016

Purnama 2016

Mataku terbuka di tengah petang, entah pukul berapa ini. Suara jangkrik dan hewan malam terdengar jelas. Hawa dingin juga amat terasa dalam kamar kecilku. Hembusan angin malam menerobos melalui celah jendela, meniup api lentera yang bertengger di sudut kamar, membuatnya bergoyang tidak stabil. Pintu kamar terbuka perlahan dan terlihat siluet tubuh seseorang berdiri di ambang pintu. Bahkan dalam kedaan setengah sadarpun aku yakin itu adalah siluet tubuh ibuku.

“Aisyah cepat bangun!” seru ibu.
Secepat kilat aku beranjak dari kasur, meraih baju rajutan hangat pemberian ibu yang tergeletak di atas meja belajar. Setelah mengenakannya sembarangan aku melihat wajahku dalam cermin berukuran sebesar telapak tangan. Cermin itu bapak yang menemukan beberapa hari lalu, terkubur di belakang rumah. Kata bapak mungkin pecahan cermin itu milik putri kerajaan-kerajaan pada masa lalu. Setelah yakin wajahku masih bersih, aku bergegas keluar.
Sebentar lagi tengah malam tiba, waktu yang kami nanti. Karena saat tengah malam, purnama berada pada puncak cahaya dan keindahannya. Sudah merupakan tradisi masyarakat desa kami untuk bangun menikmati purnama. Ini adalah waktu untuk merenung mensyukuri nikmat yang telah Tuhan berikan selama satu bulan penuh. Waktu yang baik untuk berdo’a memohon apa saja.
Tokk! Tokk! Tookkkk! Tookkk! Toookk!
Itu dia. Suara kentongan di pukul bertalu-talu. Pertanda waktu telah menunjukkan tepat tengah malam. Aku mendongak menatap langit beberapa saat, melihat betapa indahnya langit yang bermandikan cahaya purnama dan bertabur bintang. Setelah itu aku menunduk, mengatupkan kedua tangan tepat di depan wajah dan berdo’a. Sama seperti yang orang-orang lakukan.
Angin lembut menampar pipiku. Ketika aku membuka mata, masih banyak orang yang tenggelam dalam do’a. Sekilas aku melihat seekor tupai melompat diantara pepohonan. Kemudian berhenti pada salah satu ranting dan melihat ke arahku. Aku mengernyitkan dahi heran. Kemudian entah kenapa kepalaku tiba-tiba terasa berat dan pandanganku menghitam.
***
“Hai! Bangunlah!”
Sayup-sayup ku dengar suara asing di telingaku. Perlahan kubuka mata yang terasa berat ini. Aku tergeletak di bawah pohon beringin.
“Kenapa aku?” tanyaku, entah pada siapa. Mungkin pada suara asing itu.
“Lihat saja” jawabnya datar.
Aku berusaha berkonsentrasi, secepat mungkin kembali pada kenyataan.
“Hah!? Apa ini??”
Aku melihat cahaya purnama dimana-mana. Ada purnama-purnama kecil bersinar di ujung besi yang menancap di tanah. Rumah dengan cahaya putih, benda-benda aneh bergerak dan bercahaya. Yang paling mengherankan adalah orang-orang yang menggenggam purnama berbentuk kotak.
“Mereka mengambil cahaya purnama! Mereka semua penjahat!” Teriakku marah.
“Inilah kenyataan.” Suara itu berasal dari seekor tupai yang sekarang tepat didepanku.
Aku mengernyit heran. Namun tak sempat lagi meminta penjelasan tentang tupai itu, aku harus segera melaporkan kejadian kejam ini pada petugas desa.
“Dimana aku? Besok akan kulaporkan tempat ini pada petugas dan mereka akan mendapat hukuman karena telah mengambil cahaya purnama!” Seruku penuh emosi. Mereka benar-benar jahat. Apa yang telah mereka lakukan pada purnama hingga menjadi bagian-bagian kecil seperti itu? Kenapa tidak ada petugas yang melarang perbuatan mereka?
“Mereka tidak melakukan apapun pada purnama. Lihatlah di langit, purnamamu masih utuh.” Tupai itu berkata dengan suara lembut.
Aku mendongak melihat langit. Benar saja, di atas sana ada bulan purnama. Masih utuh dan bulat, tidak berkurang sedikitpun. Hanya saja cahayanya sedikit meredup. Pasti tupai itu tidak tahu mereka telah mengambil sebagian cahaya purnama untuk membuat purnama-purnama kecil di bumi dengan bentuk yang aneh itu.
Tapi tidak, ada yang janggal. Aku melihat sekeliling kemudian kembali melihat langit. Ya, aku tahu. Langit di atas sana sudah tidak gelap, bumi juga sudah terang benderang tanpa bantuan matahari ataupun purnama. Siapa sebenarnya orang-orang ini? Mereka menciptakan benda ajaib untuk menyaingi matahari dan bulan.
“Ini adalah teknologi, mereka menyebutnya lampu. Tidak lama lagi juga akan masuk ke desamu.” Kata tupai itu.
Aku terkagum sambil melihat sekelilingku. Teknologi? Lampu? Hebat sekali.
“Lalu kenapa mereka tidak berdo’a?” tanyaku, “ini malam bulan purnama.”
“Haha.” Aku melihat tupai itu tertawa. Gigi taringnya yang panjang terlihat janggal di mataku. “Sekarang kita bukan berada di zamanmu, kita ada di tahun 2016. Di zaman ini mereka sudah tidak pernah peduli pada purnama. Cahaya purnama yang hanya sekecil itu tidak berguna saat ini.”
Aku terenyuh, jantungku berdegup ratusan kali lebih cepat, mataku berkunang-kunang. Bukan karena aku terkejut tupai itu membawaku melewati waktu. Tapi karena kelakuan orang-orang itu. Ada rasa sakit yang teramat sangat menusuk ke dalam jantung. Miris sekali, mereka tidak peduli pada purnama? Apa mereka tidak tahu betapa berharganya purnama pada zaman kami? Sesombong itukah mereka setelah menemukan teknologi bernama lampu? Tanpa sadar aku melelehkan air mata .
“Kembalikan aku ke rumah. Aku tidak tahan melihat semua ini...” kataku lirih.
“Baiklah. Tapi asal kau tahu, tidak lama lagi teknologi juga akan masuk ke desamu.”
“Aku tidak akan membiarkannya.” Aku bertekad dalam hati.
"Apa kuasamu atas kehebatan penemu tekhnologi? Kau tidak akan bisa berbuat apa-apa."
Tupai itu kemudain diam. Aku memejamkan mata dan terus menangis. Hati ini begitu terasa sakit. Begitu hebatnya benda bernama tekhnologi itu, sampai bisa mencuil cahaya purnama dan mempengaruhi orang-orang untuk melupakannya.
Setelah semua yang kualami, aku bercerita pada bapak dan ibu, sayangnya mereka tidak percaya. Aku mencoba berbicara kepada Pak Lurah, beliau juga tidak percaya. Aku menceritakan hal ini pada teman-temanku, tapi tak seorangpun percaya. Aku sedih sekali, beberapa orang bahkan mengataiku gila. Oh, Tuhan... Seandainya mereka mengalami apa yang aku alami, mungkin mereka semua akan gila sepertiku. Gila dalam ketakutan akan kehilangan sang bulan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar