Mataku
terbuka di tengah petang, entah pukul berapa ini. Suara jangkrik dan hewan
malam terdengar jelas. Hawa dingin juga amat terasa dalam kamar kecilku.
Hembusan angin malam menerobos melalui celah jendela, meniup api lentera yang
bertengger di sudut kamar, membuatnya bergoyang tidak stabil. Pintu kamar
terbuka perlahan dan terlihat siluet tubuh seseorang berdiri di ambang pintu.
Bahkan dalam kedaan setengah sadarpun aku yakin itu adalah siluet tubuh ibuku.
“Aisyah
cepat bangun!” seru ibu.
Secepat
kilat aku beranjak dari kasur, meraih baju rajutan hangat pemberian ibu yang
tergeletak di atas meja belajar. Setelah mengenakannya sembarangan aku melihat
wajahku dalam cermin berukuran sebesar telapak tangan. Cermin itu bapak yang
menemukan beberapa hari lalu, terkubur di belakang rumah. Kata bapak mungkin
pecahan cermin itu milik putri kerajaan-kerajaan pada masa lalu. Setelah yakin
wajahku masih bersih, aku bergegas keluar.
Sebentar
lagi tengah malam tiba, waktu yang kami nanti. Karena saat tengah malam,
purnama berada pada puncak cahaya dan keindahannya. Sudah merupakan tradisi
masyarakat desa kami untuk bangun menikmati purnama. Ini adalah waktu untuk
merenung mensyukuri nikmat yang telah Tuhan berikan selama satu bulan penuh.
Waktu yang baik untuk berdo’a memohon apa saja.
Tokk!
Tokk! Tookkkk! Tookkk! Toookk!
Itu
dia. Suara kentongan di pukul bertalu-talu. Pertanda waktu telah menunjukkan
tepat tengah malam. Aku mendongak menatap langit beberapa saat, melihat betapa
indahnya langit yang bermandikan cahaya purnama dan bertabur bintang. Setelah
itu aku menunduk, mengatupkan kedua tangan tepat di depan wajah dan berdo’a.
Sama seperti yang orang-orang lakukan.
Angin
lembut menampar pipiku. Ketika aku membuka mata, masih banyak orang yang
tenggelam dalam do’a. Sekilas aku melihat seekor tupai melompat diantara
pepohonan. Kemudian berhenti pada salah satu ranting dan melihat ke arahku. Aku
mengernyitkan dahi heran. Kemudian entah kenapa kepalaku tiba-tiba terasa berat
dan pandanganku menghitam.
***
“Hai!
Bangunlah!”
Sayup-sayup
ku dengar suara asing di telingaku. Perlahan kubuka mata yang terasa berat ini.
Aku tergeletak di bawah pohon beringin.
“Kenapa
aku?” tanyaku, entah pada siapa. Mungkin pada suara asing itu.
“Lihat
saja” jawabnya datar.
Aku
berusaha berkonsentrasi, secepat mungkin kembali pada kenyataan.
“Hah!?
Apa ini??”
Aku
melihat cahaya purnama dimana-mana. Ada purnama-purnama kecil bersinar di ujung
besi yang menancap di tanah. Rumah dengan cahaya putih, benda-benda aneh
bergerak dan bercahaya. Yang paling mengherankan adalah orang-orang yang
menggenggam purnama berbentuk kotak.
“Mereka
mengambil cahaya purnama! Mereka semua penjahat!” Teriakku marah.
“Inilah
kenyataan.” Suara itu berasal dari seekor tupai yang sekarang tepat didepanku.
Aku
mengernyit heran. Namun tak sempat lagi meminta penjelasan tentang tupai itu,
aku harus segera melaporkan kejadian kejam ini pada petugas desa.
“Dimana
aku? Besok akan kulaporkan tempat ini pada petugas dan mereka akan mendapat hukuman
karena telah mengambil cahaya purnama!” Seruku penuh emosi. Mereka benar-benar
jahat. Apa yang telah mereka lakukan pada purnama hingga menjadi bagian-bagian
kecil seperti itu? Kenapa tidak ada petugas yang melarang perbuatan mereka?
“Mereka
tidak melakukan apapun pada purnama. Lihatlah di langit, purnamamu masih utuh.”
Tupai itu berkata dengan suara lembut.
Aku
mendongak melihat langit. Benar saja, di atas sana ada bulan purnama. Masih
utuh dan bulat, tidak berkurang sedikitpun. Hanya saja cahayanya sedikit
meredup. Pasti tupai itu tidak tahu mereka telah mengambil sebagian cahaya
purnama untuk membuat purnama-purnama kecil di bumi dengan bentuk yang aneh
itu.
Tapi
tidak, ada yang janggal. Aku melihat sekeliling kemudian kembali melihat langit.
Ya, aku tahu. Langit di atas sana sudah tidak gelap, bumi juga sudah terang
benderang tanpa bantuan matahari ataupun purnama. Siapa sebenarnya orang-orang
ini? Mereka menciptakan benda ajaib untuk menyaingi matahari dan bulan.
“Ini
adalah teknologi, mereka menyebutnya lampu. Tidak lama lagi juga akan masuk ke
desamu.” Kata tupai itu.
Aku
terkagum sambil melihat sekelilingku. Teknologi? Lampu? Hebat sekali.
“Lalu
kenapa mereka tidak berdo’a?” tanyaku, “ini malam bulan purnama.”
“Haha.”
Aku melihat tupai itu tertawa. Gigi taringnya yang panjang terlihat janggal di
mataku. “Sekarang kita bukan berada di zamanmu, kita ada di tahun 2016. Di
zaman ini mereka sudah tidak pernah peduli pada purnama. Cahaya purnama yang
hanya sekecil itu tidak berguna saat ini.”
Aku
terenyuh, jantungku berdegup ratusan kali lebih cepat, mataku berkunang-kunang.
Bukan karena aku terkejut tupai itu membawaku melewati waktu. Tapi karena
kelakuan orang-orang itu. Ada rasa sakit yang teramat sangat menusuk ke dalam
jantung. Miris sekali, mereka tidak peduli pada purnama? Apa mereka tidak
tahu betapa berharganya purnama pada zaman kami? Sesombong itukah mereka setelah
menemukan teknologi bernama lampu? Tanpa sadar aku melelehkan air mata .
“Kembalikan
aku ke rumah. Aku tidak tahan melihat semua ini...” kataku lirih.
“Baiklah.
Tapi asal kau tahu, tidak lama lagi teknologi juga akan masuk ke desamu.”
“Aku
tidak akan membiarkannya.” Aku bertekad dalam hati.
"Apa kuasamu atas kehebatan penemu tekhnologi? Kau tidak akan bisa berbuat apa-apa."
Tupai
itu kemudain diam. Aku memejamkan mata dan terus menangis. Hati ini begitu terasa sakit. Begitu hebatnya benda bernama tekhnologi itu, sampai bisa mencuil cahaya purnama dan mempengaruhi orang-orang untuk melupakannya.
Setelah
semua yang kualami, aku bercerita pada bapak dan ibu, sayangnya mereka tidak
percaya. Aku mencoba berbicara kepada Pak Lurah, beliau juga tidak percaya. Aku
menceritakan hal ini pada teman-temanku, tapi tak seorangpun percaya. Aku sedih
sekali, beberapa orang bahkan mengataiku gila. Oh, Tuhan... Seandainya mereka
mengalami apa yang aku alami, mungkin mereka semua akan gila sepertiku. Gila
dalam ketakutan akan kehilangan sang bulan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar