Minggu, 09 Oktober 2016

Hilangnya Jade Vine

Hujan baru saja reda, menyisakan rintik kecil dan halaman rumah yang basah. Hamparan rumput Gajah yang menghiasi halaman depan rumahku tergenang sisa-sisa air hujan. Namun perlahan air itu terserap ke dasar rumput, menuju tanah yang haus akan air. Ini hujan pertama sejak kemarau panjang beberapa bulan terakhir.

            Berbagai jenis bunga merunduk lemah setelah diterpa hujan deras dan angin kencang. Beberapa lainnya yang memang berdaun kuat masih berdiri gagah, menghiasi taman. Aku tersenyum melihat halaman rumah yang sudah tampak seperti taman bunga itu kehilangan kekuatannya akibat hujan. Namun nuansa segar dan menenangkan menyelimuti taman bunga keluarga kami.
            “Hai, Jade!”
            Aku menoleh mendengar namaku dipanggil. Nirmala telah berdiri di tengah ruangan. Tangan kanannya menenteng tas cokelat yang tampak agak berat. Di sebelah Nirmala juga berdiri Dani dengan buku matematika tebal di tangannya.
            “Dasar tukang melamun,” celetuk Dani ringan sambil berjalan mendekat, disusul Nirmala.
            “Aku tidak melamun,” jawabku ketus. Dani memang selalu menyebalkan.
“Taman bungamu tambah keren, Jade!” Nirmala tersenyum melihat ke arah luar melalui pintu kaca. Mama memang sengaja membuat pintu ruang depan transparan, agar keindahan tamannya bisa dinikmati dari dalam rumah sekalipun.
            “Kalian memang keluarga bunga.” Dani berkata lirih. Aku dan Nirmala menoleh sambil mengerutkan kening. Lalu? Masalah?
            Dani melihat kami dengan tatapan sok tahunya, seulas senyum menggaris di bibirnya.
            “Asal kamu tahu, Jade,” kata Dani santai, “namamu itu diambil dari nama sebuah bunga paling langka di dunia. Bisa dibilang sudah punah.”
            “Bunga paling langka?” Aku bertanya memastikan.
            Dani tampak tersenyum puas, berhasil membuatku penasaran. Kemudian, dengan cekatan ia mencari sesuatu dari tablet yang dibawanya.
            “Lihatlah!”
            Aku dan Nirmala berjalan mendekati Dani dengan cepat, melihat ke layar. Disana terpampang foto sebuah bunga berwarna biru kehijauan berbentuk ujung cakar kucing namun dengan ukuran lebih besar. Saling bertumpuk satu sama lain, menciptakan rangkaian bunga yang tampak kuat dan indah.
            “Itulah kenapa kamu suka warna biru dan hijau.” Dani berkata yakin. Kemudian kembali mengetik sebuah nama yang tidak asing, nama mamaku.
            “Kokio, bunga Hawai yang hanya tersisa 23 batang di dunia. Bunga ini sangat susah dikembang biakkan.” Dani menerangkan sambil menunjuk gambar sebuah bunga berwarna orange dengan mahkota bunga yang lebar di layar tabletnya. “Ini adalah mamamu, Jade.”
            “Bagaimana dengan papa? Jangan bilang nama papa juga berasal dari bunga.” Aku berusaha mengelak dari kenyataan aneh ini. berharap aku bukan keluarga keturunan bunga, aneh sekali.
            “Papamu.” Ali mengetik nama papa. “Youtan Pulou adalah nama bunga kecil yang mekar 3000 tahun sekali di tempat-tempat tidak terduga seperti pipa saluran air dan mesin cuci.”
            Aku menghela nafas, aneh sekali. Sejak kapan pula Dani memikirkan fakta tentang keluargaku ini?
            “Sudah lama aku penasaran dengan ini semua, Jade.” Dani berkata padaku, seolah bisa mengerti apa yang aku pikirkan dan menjawabnya dengan tepat.
            “Sejak aku tau nama papamu sama seperti nama bunga yang selama ini membuatku penasaran, aku mulai mencari tahu. Dan sekarang kita menemukan bahwa semua anggota keluargamu menggunakan nama-nama bunga langka dari berbagai belahan dunia,” jelas Dani, “Bahkan aku tahu nama kakek, nenek, dan kerabat-kerabatmu yang lain. Mereka semua menggunakan nama bunga langka, keren!” Mata Dani berbinar semangat, wajah ingin tahunya itu lagi-lagi muncul. Ini berarti Dani tidak akan berhenti sampai rasa penasarannya terjawab sempurna.
            Aku menarik nafas dalam. “Mungkin ini memang tradisi keluarga kami, menggunakan nama bunga langka,” kataku asal.
            Dani menggeleng cepat. “Tidak-tidak. Tidak sesederhana itu. Aku tahu ada yang istimewa di sini. Ada yang tersembunyi.”
            “Sudahlah, lebih baik kita mengerjakan PR matematika daripada berdiskusi masalah tidak jelas.” Nirmala angkat bicara setelah diam sejak tadi.
            “Pertama,” Dani kembali bicara tanpa memperdulikan sindiran Nirmala barusan. “Tahun kelahiranmu sama dengan tahun ketika bunga Jade Vine ditetapkan sebagai bunga langka. Kedua, kelahiran papamu bertepatan dengan ditemukannya bunga Youtan Poluo pertama kali. Lalu mamamu, kelahirannya bersamaan dengan kebakaran besar di Hawai pada tahun 1978 yang memusnahkan seluruh populasi Kokoi.”
            “Lalu?” Aku bertanya datar, tidak tertarik.
            “Apa kamu benar-benar tidak tahu ada rahasia di balik semua ini? Apa papa dan mamamu tidak memberitahu?” Dani bertanya dengan tatapan menyelidik.
            Aku menggeleng pelan. Benar-benar tidak ada rahasia seperti yang dimaksud Dani di dalam keluarga kami. Imajinasinya terlalu tinggi, efek kebanyakan bermain game dan menonton film animasi. Aku mendengus kesal.
            “Coba diingat sekali lagi,” desak Dani. “Apa kamu tidak penasaran dengan semua kebetulan ini, Jade?  Ini seru! Lebih memusingkan daripada matematika. Bukannya kamu menyukai hal-hal yang memusingkan?” Dani nyengir. Memaksaku kembali mengingat sekaligus menyindir mata pelajaran favoritku, matematika.
            Saat itulah, memoriku menyuguhkan sebuah ingatan samar yang telah lama terkubur. Aku ingat ketika usiaku masih sekitar dua tahun, mama memberiku bunga berbentuk cakar kucing dengan versi lebih besar berwarna biru kehijauan. Mama memintaku menginjak bunga itu, lalu entah bagaimana bunganya menghilang.
            “Bagaimana?” tanya Dani.
            Aku menatap matanya nanar. Setelah berfikir beberapa detik, kuputuskan untuk bercerita. Mata Dani melebar demi mendengar ceritaku itu. Tangannya terkepal, entah apa maksud bocah itu. Nirmala mulai memperhatikan dan tertarik.
            “Satu hal lagi,” lanjutku, “di rumah ini ada gudang yang tidak pernah aku datangi. Kata mama gudang itu kotor sekali dan aku dilarang kesana.”
            “Baiklah!” Dani berseru. “Kita kesana, sekarang!”
            Aku mengangguk. Tidak bisa dipungkiri, rasa penasaran menjalari hatiku. Apalagi ketika mengingat bunga berwarna biru kehijau-hijaun yang menghilang di bawah telapak kakiku beberapa tahun yang lalu itu.
            Kebetulan papa dan mama sedang keluar rumah, menghadiri acara pernikahan teman kantor papa. Paling tidak kami bisa bergerak bebas meski harus bergerak cepat, sebelum mereka pulang.
            “Itu.” Telunjukku mengarah pada pintu bercat putih di ujung lorong. Dani mempercepat langkahnya, diikuti aku dan Nirmala yang entah bagaimana mulai berkeringat. Antara takut dan penasaran, hatiku berkecamuk. Ada sesuatu yang melarangku melakukan ini. Di sisi lain, rasa penasaran membuatku susah bernafas.
            Dani memutar gagang pintu, tidak dikunci. Perlahan pintu itu berdecit karena sudah lama tidak dibuka. Dani yang pertama melongokkan kepala melihat isi ruangan. Beberapa saaat kemudian aku mendengar Dani mengeluarkan suara aneh, seperti menarik nafas menggunakan mulut, ekspresi orang yang terkejut.
            “Ada apa?” tanyaku dari balik punggung Dani, cemas.
            “Ini keren!” Serunya sambil menoleh ke arahku. Wajah Dani yang menyebalkan itu tepat beberapa centi di hadapanku. Jika bukan dalam situasi seperti ini, tentu aku sudah mencakar wajah jeleknya.
            Sepersekian detik setelah itu, Dani membuka pintu lebar-lebar. Reflek aku dan Nirmala mengeluarkan suara yang sama anehnya seperti Dani. Tangan kami membekap mulut yang menganga lebar, menakjubkan.
            Dibalik pintu putih yang polos dan tak pernah tersentuh itu, terhampar lembah hijau yang subur dengan ratusan bunga berwana-warni, taman terindah yang pernah melintasi mataku. Bahkan tidak pernah terbersit sedikitpun ada taman seindah ini di atas bumi, atau jangan-jangan, itu taman surga, pintu putih itu sebenarnya adalah pintu menuju surga. Ah, pikiranku mulai tak terkontrol.
            Seperti terhipnotis, aku melangkah masuk. Udara segar segera menyambutku, wangi-wangian yang begitu menenangkan menyebar di lorong hidung. Dani dan Nirmala berdiri mematung, kami tenggelam dalam ketakjuban yang teramat sangat. Seekor burung kecil berwarna biru melintas di hadapan kami, seperti terheran oleh kedatangan orang asing ini.
            “Jade!” Suara mama. “Apa yang kamu lakukan?!”
            Aku, Dani dan Nirmala menoleh cepat. Papa dan mama telah berdiri di ambang pintu dengan ekspresi marah dan kaget. Bahkan mama sampai memegang dadanya, aku yakin penyakit asma mama kumat.
            “Cepat keluar!” perintah papa dengan nada tinggi. Entah bagaimana, aku bisa mendengar nada ketakutan dan khawatir yang teramat sangat dari suara itu.
            Sekonyong-konyong Dani dan Nirmala berbalik, segera bergegas keluar taman. Mereka pasti takut melihat kemarahan papa dan mama. Biarlah, paling tidak ini semua ide Dani, aku tidak akan banyak disalahkan dalam kasus ini.
            “Jade! Cepat keluar!” teriak papa sekali lagi.
            Aku mengernyit, Dani dan Nirmala sudah berdiri tegang di sebelah papa. Kenapa aku masih di sini?
            Aku kembali mencoba berkonsentrasi pada diriku sendiri, mencoba melangkahkan kaki keluar dari taman. Tapi apa yang terjadi? Kakiku terasa kaku dan berat, tubuhku tidak bisa bergerak. Mataku berkunang-kunang, sekelilingku berputar seperti gangsing. Sempat kulihat bayangan papa, mama, dan kedua temanku berputar-putar tidak jelas. Teriakan mereka memanggil namaku, suara mama yang histeris. Ada apa ini? Kenapa semuanya perlahan menjadi gelap. Ah, suasana gelap yang menenangkan. Tidak ada lagi suara teriakan, kegelisahan, rasa penasaran. Satu persatu masalah dalam hidupku seakan terbang ditiup angin.
***
            Berita flora dan fauna hari ini mengabarkan tentang tumbuhnya bunga paling langka sedunia, yang bahkan sudah hampir punah. Bunga berwarna biru kehijauan itu tiba-tiba saja tumbuh di banyak tempat diberbagai belahan dunia setelah hujan deras yang terjadi kemarin sore. Penduduk menyambut kedatangannya dengan bersuka cita, ini anugerah Tuhan. Meski tidak bisa dipungkiri, sebagian besar masyarakat tentu tidak mengetahui nama bunga yang juga tumbuh di Indonesia itu. Beberapa kelompok menyebutnya bunga api, bunga naga, bahkan bunga keberanian karena bentuknya yang berani, seperti cakar.
            Bunga langka itu juga tumbuh tepat di halaman depan kamar seorang bocah SMP bernama Dani. Saat diwawancarai, Dani dengan yakin menyebutkan nama bunga yang belum banyak diketahui orang itu.
            “Bunga indah ini bernama Jade Vine,” ucap Dani. “Sama seperti nama temanku yang meninggal kemarin sore, Jade.”
            Dani mengaku dia sangat bersyukur karena bunga itu tumbuh tepat di halaman depan kamarnya, persis di bawah jendela. Dengan begitu ia bisa melihat keindahan Jade Vine kapan saja, sekaligus mengenang teman yang disebutnya telah meninggal itu.
            “Mungkin beberapa bunga langka yang lain, seperti Koko’i dan Youtan Pulou akan tumbuh beberapa hari lagi.” Dani berkata lirih, namun mantab. Ada kepiluan dari nada suaranya.
            Sementara dunia gempar dalam kesukacitaan, papa dan mama Jade terus menimbang-nimbang keputusan yang mereka pikirkan sejak kemarin.
            “Mereka semua bahagia karena bunga langka itu telah kembali menghiasi bumi.” Papa menatap layar televisi. “Kepergian Jade sungguh sangat berarti.”
            “Sebaiknya kita mengikuti langkah Jade, Pa” kata mama. “Kita juga akan sangat bangga melihat mereka semua bahagia.”
            Papa termenung beberapa saat, kemudian menatap bola mata mama dalam-dalam sebelum akhirnya mengangguk sambil tersenyum.
            Sepasang suami isteri itu berjalan bergandengan menuju pintu putih di ujung lorong belakang. Daun pintu diputar perlahan, suara berdecit menyapu telinga ketika pintu terbuka. Hamparan lembah hijau nan indah tersuguh dihadapan keduanya, aroma wangi dan rasa tenang menyambut. Dengan langkah mantab, mereka masuk dan menutup pintu rapat-rapat.

            Keesokan harinya, dunia kembali gempar dengan kembalinya bunga Koko’i di Hawai dan bermekarannya bunga Youtan Pulou yang konon hanya mekar 3000 tahun sekali. Para peneliti flora mulai sibuk bereksperimen, mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada tumbuhan-tumbuhan langka di dunia. Sementara kita semua tahu, para ilmuan itu tidak akan pernah tahu kejadian nyata dibalik semua keanehan ini. Beberapa wartawan mulai mendatangi Dani, meminta penjelasan, mengingat kata-katanya beberapa hari lalu benar-benar menjadi kenyataan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar