Hujan
baru saja reda, menyisakan rintik kecil dan halaman rumah yang basah. Hamparan
rumput Gajah yang menghiasi halaman depan rumahku tergenang sisa-sisa air
hujan. Namun perlahan air itu terserap ke dasar rumput, menuju tanah yang haus
akan air. Ini hujan pertama sejak kemarau panjang beberapa bulan terakhir.
Berbagai jenis bunga merunduk lemah
setelah diterpa hujan deras dan angin kencang. Beberapa lainnya yang memang
berdaun kuat masih berdiri gagah, menghiasi taman. Aku tersenyum melihat
halaman rumah yang sudah tampak seperti taman bunga itu kehilangan kekuatannya
akibat hujan. Namun nuansa segar dan menenangkan menyelimuti taman bunga
keluarga kami.
“Hai, Jade!”
Aku menoleh mendengar namaku
dipanggil. Nirmala telah berdiri di tengah ruangan. Tangan kanannya menenteng
tas cokelat yang tampak agak berat. Di sebelah Nirmala juga berdiri Dani dengan
buku matematika tebal di tangannya.
“Dasar tukang melamun,” celetuk Dani
ringan sambil berjalan mendekat, disusul Nirmala.
“Aku tidak melamun,” jawabku ketus.
Dani memang selalu menyebalkan.
“Taman
bungamu tambah keren, Jade!” Nirmala tersenyum melihat ke arah luar melalui
pintu kaca. Mama memang sengaja membuat pintu ruang depan transparan, agar
keindahan tamannya bisa dinikmati dari dalam rumah sekalipun.
“Kalian memang keluarga bunga.” Dani
berkata lirih. Aku dan Nirmala menoleh sambil mengerutkan kening. Lalu?
Masalah?
Dani melihat kami dengan tatapan sok
tahunya, seulas senyum menggaris di bibirnya.
“Asal kamu tahu, Jade,” kata Dani
santai, “namamu itu diambil dari nama sebuah bunga paling langka di dunia. Bisa
dibilang sudah punah.”
“Bunga paling langka?” Aku bertanya
memastikan.
Dani tampak tersenyum puas, berhasil
membuatku penasaran. Kemudian, dengan cekatan ia mencari sesuatu dari tablet yang dibawanya.
“Lihatlah!”
Aku dan Nirmala berjalan mendekati
Dani dengan cepat, melihat ke layar. Disana terpampang foto sebuah bunga
berwarna biru kehijauan berbentuk ujung cakar kucing namun dengan ukuran lebih
besar. Saling bertumpuk satu sama lain, menciptakan rangkaian bunga yang tampak
kuat dan indah.
“Itulah kenapa kamu suka warna biru
dan hijau.” Dani berkata yakin. Kemudian kembali mengetik sebuah nama yang
tidak asing, nama mamaku.
“Kokio, bunga Hawai yang hanya
tersisa 23 batang di dunia. Bunga ini sangat susah dikembang biakkan.” Dani
menerangkan sambil menunjuk gambar sebuah bunga berwarna orange dengan mahkota
bunga yang lebar di layar tabletnya.
“Ini adalah mamamu, Jade.”
“Bagaimana dengan papa? Jangan bilang
nama papa juga berasal dari bunga.” Aku berusaha mengelak dari kenyataan aneh
ini. berharap aku bukan keluarga keturunan bunga, aneh sekali.
“Papamu.” Ali mengetik nama papa.
“Youtan Pulou adalah nama bunga kecil yang mekar 3000 tahun sekali di
tempat-tempat tidak terduga seperti pipa saluran air dan mesin cuci.”
Aku menghela nafas, aneh sekali.
Sejak kapan pula Dani memikirkan fakta tentang keluargaku ini?
“Sudah lama aku penasaran dengan ini
semua, Jade.” Dani berkata padaku, seolah bisa mengerti apa yang aku pikirkan
dan menjawabnya dengan tepat.
“Sejak aku tau nama papamu sama
seperti nama bunga yang selama ini membuatku penasaran, aku mulai mencari tahu.
Dan sekarang kita menemukan bahwa semua anggota keluargamu menggunakan
nama-nama bunga langka dari berbagai belahan dunia,” jelas Dani, “Bahkan aku
tahu nama kakek, nenek, dan kerabat-kerabatmu yang lain. Mereka semua
menggunakan nama bunga langka, keren!” Mata Dani berbinar semangat, wajah ingin
tahunya itu lagi-lagi muncul. Ini berarti Dani tidak akan berhenti sampai rasa
penasarannya terjawab sempurna.
Aku menarik nafas dalam. “Mungkin
ini memang tradisi keluarga kami, menggunakan nama bunga langka,” kataku asal.
Dani menggeleng cepat. “Tidak-tidak.
Tidak sesederhana itu. Aku tahu ada yang istimewa di sini. Ada yang
tersembunyi.”
“Sudahlah, lebih baik kita
mengerjakan PR matematika daripada berdiskusi masalah tidak jelas.” Nirmala
angkat bicara setelah diam sejak tadi.
“Pertama,” Dani kembali bicara tanpa
memperdulikan sindiran Nirmala barusan. “Tahun kelahiranmu sama dengan tahun
ketika bunga Jade Vine ditetapkan sebagai bunga langka. Kedua, kelahiran papamu
bertepatan dengan ditemukannya bunga Youtan Poluo pertama kali. Lalu mamamu,
kelahirannya bersamaan dengan kebakaran besar di Hawai pada tahun 1978 yang
memusnahkan seluruh populasi Kokoi.”
“Lalu?” Aku bertanya datar, tidak
tertarik.
“Apa kamu benar-benar tidak tahu ada
rahasia di balik semua ini? Apa papa dan mamamu tidak memberitahu?” Dani
bertanya dengan tatapan menyelidik.
Aku menggeleng pelan. Benar-benar
tidak ada rahasia seperti yang dimaksud Dani di dalam keluarga kami.
Imajinasinya terlalu tinggi, efek kebanyakan bermain game dan menonton film
animasi. Aku mendengus kesal.
“Coba diingat sekali lagi,” desak
Dani. “Apa kamu tidak penasaran dengan semua kebetulan ini, Jade? Ini seru! Lebih memusingkan daripada
matematika. Bukannya kamu menyukai hal-hal yang memusingkan?” Dani nyengir.
Memaksaku kembali mengingat sekaligus menyindir mata pelajaran favoritku,
matematika.
Saat itulah, memoriku menyuguhkan
sebuah ingatan samar yang telah lama terkubur. Aku ingat ketika usiaku masih
sekitar dua tahun, mama memberiku bunga berbentuk cakar kucing dengan versi
lebih besar berwarna biru kehijauan. Mama memintaku menginjak bunga itu, lalu
entah bagaimana bunganya menghilang.
“Bagaimana?” tanya Dani.
Aku menatap matanya nanar. Setelah
berfikir beberapa detik, kuputuskan untuk bercerita. Mata Dani melebar demi
mendengar ceritaku itu. Tangannya terkepal, entah apa maksud bocah itu. Nirmala
mulai memperhatikan dan tertarik.
“Satu hal lagi,” lanjutku, “di rumah
ini ada gudang yang tidak pernah aku datangi. Kata mama gudang itu kotor sekali
dan aku dilarang kesana.”
“Baiklah!” Dani berseru. “Kita
kesana, sekarang!”
Aku mengangguk. Tidak bisa
dipungkiri, rasa penasaran menjalari hatiku. Apalagi ketika mengingat bunga
berwarna biru kehijau-hijaun yang menghilang di bawah telapak kakiku beberapa
tahun yang lalu itu.
Kebetulan papa dan mama sedang
keluar rumah, menghadiri acara pernikahan teman kantor papa. Paling tidak kami
bisa bergerak bebas meski harus bergerak cepat, sebelum mereka pulang.
“Itu.” Telunjukku mengarah pada
pintu bercat putih di ujung lorong. Dani mempercepat langkahnya, diikuti aku
dan Nirmala yang entah bagaimana mulai berkeringat. Antara takut dan penasaran,
hatiku berkecamuk. Ada sesuatu yang melarangku melakukan ini. Di sisi lain,
rasa penasaran membuatku susah bernafas.
Dani memutar gagang pintu, tidak
dikunci. Perlahan pintu itu berdecit karena sudah lama tidak dibuka. Dani yang
pertama melongokkan kepala melihat isi ruangan. Beberapa saaat kemudian aku
mendengar Dani mengeluarkan suara aneh, seperti menarik nafas menggunakan
mulut, ekspresi orang yang terkejut.
“Ada apa?” tanyaku dari balik
punggung Dani, cemas.
“Ini keren!” Serunya sambil menoleh
ke arahku. Wajah Dani yang menyebalkan itu tepat beberapa centi di hadapanku.
Jika bukan dalam situasi seperti ini, tentu aku sudah mencakar wajah jeleknya.
Sepersekian detik setelah itu, Dani
membuka pintu lebar-lebar. Reflek aku dan Nirmala mengeluarkan suara yang sama
anehnya seperti Dani. Tangan kami membekap mulut yang menganga lebar,
menakjubkan.
Dibalik pintu putih yang polos dan
tak pernah tersentuh itu, terhampar lembah hijau yang subur dengan ratusan
bunga berwana-warni, taman terindah yang pernah melintasi mataku. Bahkan tidak
pernah terbersit sedikitpun ada taman seindah ini di atas bumi, atau
jangan-jangan, itu taman surga, pintu putih itu sebenarnya adalah pintu menuju
surga. Ah, pikiranku mulai tak terkontrol.
Seperti terhipnotis, aku melangkah
masuk. Udara segar segera menyambutku, wangi-wangian yang begitu menenangkan
menyebar di lorong hidung. Dani dan Nirmala berdiri mematung, kami tenggelam
dalam ketakjuban yang teramat sangat. Seekor burung kecil berwarna biru melintas
di hadapan kami, seperti terheran oleh kedatangan orang asing ini.
“Jade!” Suara mama. “Apa yang kamu
lakukan?!”
Aku, Dani dan Nirmala menoleh cepat.
Papa dan mama telah berdiri di ambang pintu dengan ekspresi marah dan kaget.
Bahkan mama sampai memegang dadanya, aku yakin penyakit asma mama kumat.
“Cepat keluar!” perintah papa dengan
nada tinggi. Entah bagaimana, aku bisa mendengar nada ketakutan dan khawatir
yang teramat sangat dari suara itu.
Sekonyong-konyong Dani dan Nirmala
berbalik, segera bergegas keluar taman. Mereka pasti takut melihat kemarahan
papa dan mama. Biarlah, paling tidak ini semua ide Dani, aku tidak akan banyak
disalahkan dalam kasus ini.
“Jade! Cepat keluar!” teriak papa
sekali lagi.
Aku mengernyit, Dani dan Nirmala
sudah berdiri tegang di sebelah papa. Kenapa aku masih di sini?
Aku kembali mencoba berkonsentrasi
pada diriku sendiri, mencoba melangkahkan kaki keluar dari taman. Tapi apa yang
terjadi? Kakiku terasa kaku dan berat, tubuhku tidak bisa bergerak. Mataku
berkunang-kunang, sekelilingku berputar seperti gangsing. Sempat kulihat
bayangan papa, mama, dan kedua temanku berputar-putar tidak jelas. Teriakan
mereka memanggil namaku, suara mama yang histeris. Ada apa ini? Kenapa semuanya
perlahan menjadi gelap. Ah, suasana gelap yang menenangkan. Tidak ada lagi
suara teriakan, kegelisahan, rasa penasaran. Satu persatu masalah dalam hidupku
seakan terbang ditiup angin.
***
Berita flora dan fauna hari ini
mengabarkan tentang tumbuhnya bunga paling langka sedunia, yang bahkan sudah
hampir punah. Bunga berwarna biru kehijauan itu tiba-tiba saja tumbuh di banyak
tempat diberbagai belahan dunia setelah hujan deras yang terjadi kemarin sore.
Penduduk menyambut kedatangannya dengan bersuka cita, ini anugerah Tuhan. Meski
tidak bisa dipungkiri, sebagian besar masyarakat tentu tidak mengetahui nama
bunga yang juga tumbuh di Indonesia itu. Beberapa kelompok menyebutnya bunga
api, bunga naga, bahkan bunga keberanian karena bentuknya yang berani, seperti
cakar.
Bunga langka itu juga tumbuh tepat di
halaman depan kamar seorang bocah SMP bernama Dani. Saat diwawancarai, Dani
dengan yakin menyebutkan nama bunga yang belum banyak diketahui orang itu.
“Bunga indah ini bernama Jade Vine,”
ucap Dani. “Sama seperti nama temanku yang meninggal kemarin sore, Jade.”
Dani mengaku dia sangat bersyukur
karena bunga itu tumbuh tepat di halaman depan kamarnya, persis di bawah
jendela. Dengan begitu ia bisa melihat keindahan Jade Vine kapan saja,
sekaligus mengenang teman yang disebutnya telah meninggal itu.
“Mungkin beberapa bunga langka yang
lain, seperti Koko’i dan Youtan Pulou akan tumbuh beberapa hari lagi.” Dani
berkata lirih, namun mantab. Ada kepiluan dari nada suaranya.
Sementara dunia gempar dalam
kesukacitaan, papa dan mama Jade terus menimbang-nimbang keputusan yang mereka
pikirkan sejak kemarin.
“Mereka semua bahagia karena bunga
langka itu telah kembali menghiasi bumi.” Papa menatap layar televisi.
“Kepergian Jade sungguh sangat berarti.”
“Sebaiknya kita mengikuti langkah
Jade, Pa” kata mama. “Kita juga akan sangat bangga melihat mereka semua
bahagia.”
Papa termenung beberapa saat,
kemudian menatap bola mata mama dalam-dalam sebelum akhirnya mengangguk sambil
tersenyum.
Sepasang suami isteri itu berjalan
bergandengan menuju pintu putih di ujung lorong belakang. Daun pintu diputar
perlahan, suara berdecit menyapu telinga ketika pintu terbuka. Hamparan lembah
hijau nan indah tersuguh dihadapan keduanya, aroma wangi dan rasa tenang
menyambut. Dengan langkah mantab, mereka masuk dan menutup pintu rapat-rapat.
Keesokan harinya, dunia kembali
gempar dengan kembalinya bunga Koko’i di Hawai dan bermekarannya bunga Youtan
Pulou yang konon hanya mekar 3000 tahun sekali. Para peneliti flora mulai sibuk
bereksperimen, mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada tumbuhan-tumbuhan
langka di dunia. Sementara kita semua tahu, para ilmuan itu tidak akan pernah
tahu kejadian nyata dibalik semua keanehan ini. Beberapa wartawan mulai
mendatangi Dani, meminta penjelasan, mengingat kata-katanya beberapa hari lalu
benar-benar menjadi kenyataan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar