Membaca
adalah hal pokok yang dibutuhkan setiap individu di dunia. Membaca
bisa menambah wawasan dan ilmu pengetahuan. “Buku adalah jendela dunia.”
Pepatah itu sudah seringkali digembor-gemborkan meskipun tanpa sadar kita tidak
pernah benar-benar memahaminya. Minat baca di Indonesia masih sangat rendah
ketimbang negara-negara berkembang lainnya. Melihat kenyataan ini, tidak
menutup kemungkinan jika suatu saat negara-negara itu berubah menjadi negara
maju dan Indonesia masih saja pada titik negara berkembang, mengerikan.
Selain minat baca yang rendah, minat
menulis lebih parah dan memprihatinkan. Jarang sekali orang meluangkan satu jam
saja waktu seharinya untuk menulis. Menulis disini bukanlah menulis perkataan
orang lain atau menulis rangkuman mata kuliah, tapi lebih ditekankan kepada
proses menulis kreatif atau menghasilkan karya tulis seperti mengarang. Dalam
kegiatan mengarang otak kita bekerja penuh konsentrasi. Hal itu sangat bagus
untuk mengasah ketajaman dan kreatifitas otak manusia.
Kedua hal pokok yang begitu penting
dalam dimensi kehidupan manusia justru telah lama diabaikan oleh sebagian besar
masyarakat Indonesia. Usut punya usut, ternyata ini adalah salah satu masalah
besar kenapa negara tercinta kita tidak juga berubah dari negara berkembang
menjadi negara maju. Proses kreatif membaca dan menulis telah lama ditinggalkan
dan dianggap sebagai sesuatu yang tidak terlalu penting.
Di Jepang, meskipun setiap orang
sibuk bekerja mereka tidak pernah melewatkan seharipun tanpa membaca. Disana
membaca sudah seperti kebutuhan pokok yang tidak dapat ditinggalkan. Seharusnya
msyarakat Indonesia banyak bercermin kepada kebiasaan orang-orang dari negara
maju. Bagaimana Indonesia bisa maju jika sumberdaya manusianya menutup mata
dari ilmu pengetahuan dan kebiasaan penting seperti membaca dan menulis.
Pepatah lain mengatakan “menulislah
jika kau ingin hidup abadi.” Menjadi penulis hebat yang karyanya menyebar
keseluruh dunia memang membuat seseorang
menjadi abadi. Walaupun jasadnya suatu saat menghilang sesuai hukum
alam, namanya akan tetap ada diantara masyarakat. Karya-karyanya akan selalu
dibaca dan dibutuhkan. Dalam Islam kejadian semacam ini disebut sebagai ilmu yang bermanfaat yang menjadikan
pahala terus mengalir. Hal ini juga dikenal dengan istilah amal jariyah. Sepanjang ini kita bisa melihat betapa banyak manfaat
membaca dan menulis yang seringkali diabaikan.
Kendala yang menjadi momok sebagian
besar orang sehingga takut menulis adalah persepsi tentang “menulis itu sulit.”
Pada dasarnya tidak ada yang sulit di dunia ini. Hanya apakah kita mau tekun
berusaha dan terus mencoba atau tidak. Menulis bukanlah proses yang memerlukan
bakat bawaan sejak lahir. Semua orang yang rajin berlatih akan menemui
kemudahan dalam menulis. Karena penulis yang hebat adalah penulis yang lahir
dari lamanya proses kreatif.
Para penulis hebat yang namanya
telah mashur dikalangan masyarakat adalah orang-orang yang telah lama melewati
proses belajar menulis. Tidak semua orang tau seberapa lama mereka berjuang hingga
berhasil melahirkan karya tulis fenomenal. Kebanyakan orang hanya mau melihat
kesuksesan yang telah diraihnya sekarang tanpa melihat prosesnya.
Mulailah menulis sejak dini. sebelum
proses menulis itu berlangsung, alangkah baiknya jika kita mengisi kepala
dengan bahan-bahan utama menulis yaitu ilmu-ilmu dari bahan bacaan. Membaca
secara tidak langsung akan mempengaruhi seseorang untuk menuangkan apa yang
telah dibacanya kedalam tulisan. Orang yang membaca akan lebih mudah menulis
karena ia telah membaca berbagai tulisan orang lain.
Membaca
dan menulis adalah pasangan proses kreatif yang tidak bisa dipisahkan. Jika
kita berhasil mensinkronkan keduanya maka jaminannya adalah kita akan
menjadi abadi. Yaitu bermanfaat bagi banyak orang dalam jangka waktu begitu
lama. Jadikanlah pasangan ini perkara pokok yang harus dilakukan setiap saat dan
setiap waktu. Lakukan dengan kontinue dan sepenuh hati, yakinlah bahwa proses
tidak akan pernah megkhianati hasil.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar