Beberapa
hari yang lalu aku dan teman-teman seangkatan berhasil berperang di atas
selembar kertas putih dengan bersenjatakan sebatang pensil runcing. Ujian
Nasional telah kami lewati. Semua berjalan lancar. Rencana kami, tak-tik para
guru, dan kecerdikan pengawas membuat kami yakin akan lulus seratus persen
dengan nilai yang amat-sangat-sangat baik.
Untuk
merayakan hal itu, kami sepakat mengadakan kemah bersama di halaman belakang
sekolah selama 2 hari 2 malam. Di mulai sejak malam ini, malam minggu yang
cerah.
Aku
menyiapkan peralatan berkemahku. Beberapa potong baju, makanan ringan,
perlengkapan mandi, dan segala serba-serbinya. Urusan tenda, para guru sudah
bersedia menyiapkan. Ini akan menjadi kenangan yang tak terlupakan sebelum kami
berpisah dengan seragam SMP dan menggantinya dengan seragam putih abu-abu.
Pukul
19.30 aku berangkat bersama dua orang sahabat karibku. Hilmi dan Helmi, mereka
berdua kembar. Namanya saja sudah mirip, apalagi orangnya. Mungkin mereka
berdua hanya berbeda sedikit dari segi watak. Hilmi si kakak yang pendiam dan
cenderung pasif. Sementara Helmi sangat aktif dan macho. Hahaha... Sebenarnya
dia `sok macho` saja.
“Anak-anak,
ada sedikit kendala dalam acara kita malam ini” Kata Pak Joko, pemandu utama
acara kemah SMP 1 Selompang. “Tenda yang disiapkan panitia ternyata tidak
memenuhi target yang kita butuhkan.”
Spontan
kami semua yang berkumpul merasa kecewa dengan menggerutu panjang-pendek tidak
jelas. Beberapa anak bahkan sampai mengepalkan tangannya meninju ke arah angin
yang diam. Cara pelampiasan emosi yang paling aman memang.
“Ssstt!
Harap tenang anak-anak!” Seru Pak Joko dengan suara yang sengaja di keraskan.
Suara gerutuan itu perlahan-lahan mereda. Suasana kembali tenang.
“Kalian
tidak usah khawatir, acara kemah ini tetap bisa dilaksanakan di dalam gedung
sekolah” Pak Joko menjelaskan. “Kita bisa memanfaatkan ruang kelas untuk tidur
dan ruang aula untuk acara-acara kita.”
Mendengar
hal itu, beberapa anak tampak setuju. Sementara beberapa lainnya terlihat
kecewa dan enggan. Kalian tahu, sekolahku ini terkenal angker dan banyak
‘penghuninya’. Sudah banyak siswa yang mengaku pernah melihat sosok-sosok hantu
bergentayangan di area sekolah. Mendengar suara-suara aneh, dan hal-hal di luar
nalar lainnya.
Namun
akhirnya, acara “kemah indoor” ini benar-benar terlaksana. Mau bagaimana lagi,
tidak ada pilihan lain. Pak Joko juga pandai mempengaruhi murid-muridnya agar
tidak perlu takut. Lagipula kita kan bersama. Begitu kata Pak Joko.
***
Anak
laki-laki kebagian tempat di ruang kelas IX A dan B. Sementara anak perempuan
di ruang kelas VIII A, B dan C. Para guru menempati kantor. Memang tidak semua
murid bisa hadir. Tapi jumlah yang hadir sudah cukup untuk mewakili semuanya.
Sebelum
tidur, kami berkumpul di aula sekolah. Acara pembuka, makan malam bersama.
Saling bertukar snack dan bernyanyi bersama. Teman-teman memintaku memainkan
gitar. Tentu aku tidak menolak, karena aku memang menyukainya. Mereka bernyanyi
meramaikan suara gitarku. Bahkan Pak Joko yang terkenal suka bertingkah lucu
itu mengajak seorang murid perempuan berdansa dan menari bersama. Teman-teman
yang lain menjadi iri. Kulihat, satu persatu dari mereka mulai berdiri,
menghampiri pujaan hatinya, lalu mengajaknya menari. Suasana aula menjadi ramai
dan hangat. Seru sekali. Meski aku hanya berperan memainkan gitar, tapi aku
turut merasa senang dan gembira.
Setelah
beberapa lama, hampir semua anak mendapatkan pasangan menari. Mungkin hanya
tinggal aku yang duduk dan bermain gitar. Tak apalah...
“Hai,
boleh kutemani?”
Aku
menoleh. Tika sudah duduk di sebelahku. Senyumnya mengembang.
“Ya,
tentu saja” Jawabku tak keberatan.
Tika
dan aku diam-diaman saja. Tak banyak yang bisa kami bahas. Aku dan Tika tidak
terlalu akrab selama ini. Tika yang pendiam dan bintang kelas. Dengan diriku
yang bukan apa-apa dan banyak bicara. Mungkin tidak akan ada kecocokan di
antara kami.
“Kamu
pandai sekali bermain gitar.”
Pujian
Tika itu, jelas-jelas membuat petikan gitarku terhenti. Beberapa anak menoleh
heran ke arahku. Kemudian tersenyum maklum dan kembali berjoget menari tak
karuan. Rupanya panitia telah menyiapkan sound sistem untuk memutar lagu-lagu
malam ini.
“Enggak
juga” Jawabku merendah. Kemudian kuulang kembali petikan tanganku di atas
gitar. Mengalunkan nada sendu.
“Sejak
kapan suka main gitar?” Tanya Tika. Wajahnya tampak antusias.
“Sudah
sejak dulu, waktu SD aku sudah bermain gitar.”
“Hebat!
Apa ayahmu juga pandai memainkannya?”
“Ya.
Kakakku juga pemain gitar” jawabku bangga.
“Waw!
Mau berbagi cerita tentang pengalamanmu dengan gitar-gitar itu?”
Aku
mendengar nada ingin tahu yang tulus dari suara gadis itu. Dan akupun
menceritakan banyak hal kepadanya. Berawal dari bagaimana aku belajar gitar,
sampai ke berbagai topik lain. Fakta tentang Tika ‘si pendiam’ mulai terungkap
di hadapanku.
Setelah
bercerita banyak, menurutku ternyata Tika bukanlah anak yang pendiam dan pasif.
Dia hanya tidak suka akrab dengan banyak orang. Ia tipe yang pilih-pilih teman.
Bukan karena sombong, tapi demi kebaikan pergaulannya sendiri. Kurasa orangtua
Tika telah mendidiknya dengan baik. Dan aku senang karena termasuk ke dalam
cowok yang dipilih untuk menjadi temannya.
Acara
pembukaan malam ini baru selesai sekitar tengah malam. Kami segera kembali ke
kelas yang telah ditentukan untuk beristirahat. Aku tidur berjejer bersama
Hilmi dan Helmi, seperti biasa.
Sebelum
terlelap, Helmi sempat bercerita padaku tentang hantu di gedung sekolah ini
yang benci sekali pada detik jam. Menurut Helmi, itulah sebabnya sekolah kami
tidak memiliki jam dinding. Hanya ada satu jam besar yang diletakkan di atas
tugu di halaman sekolah. Jam itulah yang selama ini menjadi panduan kami, jam
itulah yang selalu mendentangkan bel.
“Tapi
buktinya, teman-teman kita banyak yang ke sekolah menggunakan jam tangan.
Mereka tidak apa-apa” elakku masih tak percaya.
“Yang
benar saja. Kita kan sekolah di siang hari. Mana ada hantu siang-siang bolong?”
ralat Helmi. Lagi-lagi ucapannya kuanggap suatu kebenaran yang logis.
“Kamu
bawa jam tangan?” tanya Helmi. Suaranya sengaja dibuat besar dan menakutkan.
“Ya,
tentu saja” jawabku.
Helmi
mengernyitkan kening. “Lebih baik jangan dipakai, bisa bahaya. Jam tanganku
sudah ku letakkan di bawah pohon di luar gedung”
Aku
tertawa mendengar penuturan Helmi. Dia benar-benar percaya cerita hantu itu.
Dasar! Konyol sekali pemikirannya.
“Sudahlah.
Aku kan cuma mengingatkan” gerutu Helmi melihat tawaku yang terlalu lepas dan
kentara mengejeknya.
“Oke-oke.
Biar kuletakkan dalam tas saja” ucapku mengalah setelah puas tertawa. Aku tidak
ingin melukai perasaan sahabat baikku itu. Dengan segera, kuletakkan jam tangan
hitamku ke dalam tas ransel yang aku bawa.
“Bagaimana?
Sudah aman sekarang?” tanyaku dengan tersenyum geli.
“Ya!”
Helmi menjawab ketus.
“Hahaha...”
aku kembali tertawa melihat reaksinya. Bahkan Hilmi sang kakak juga terlihat
sangat ingin mentertawai kekonyolan adiknya. Tapi aku tahu Hilmi menahan tawa
di mulutnya. Dia hanya tersenyum-senyum melihat kami.
“Kalau
begitu aku akan mengingatkan teman-teman yang lainnya juga” kata Helmi sembari
beranjak pergi. Aku hanya tertegun diam. Niat sekali dia. Cerita horor itu
sudah mempengaruhi akal sehatnya.
Beberapa
saat kemudian, suasana mulai benar-benar sepi. Helmi belum datang dari kegiatan
baikknya mengabari perihal hantu yang benci detik jam itu. Aku belum mengantuk,
sementara Hilmi di sebelahku sudah terlelap. Aku memutuskan menggunakan cara
lama untuk tidur. Kubayangkan ada sebuah lapangan hijau luas dipenuhi
domba-domba putih bersih. Aku menjadi penggembala dengan pakaian koboy yang
keren. Lalu aku mulai menghitung domba kepunyaanku satu persatu. Baru pada
hitungan ke-30, kudengar sesuatu bergerak di dalam tas ranselku yang tergeletak
di samping bantal. Tapi aku sudah tidak terlalu perduli. Aku benar-benar
mengantuk sekarang. Dombaku... Ku ingat hanya ada 38 ekor...
***
Keesokan
paginya, semuanya gelisah. Rasa takut dan penasaran berbaur menjadi satu. Semua
jam tangan yang kami bawa tiba-tiba saja menghilang. Termasuk jam tangan
hitamku. Terjadi saling tuduh diantara kami. Kecurigaan hampir tertumpah
seluruhnya kepada Helmi. Hanya dia yang percaya kisah tentang hantu jam tangan
itu. Mereka mengira Helmi dendam karena tak ada yang mempercayainya. Jadi dia
mencuri semua jam tangan yang ada untuk menakut-nakuti mereka.
“Aku
enggak mencuri jam tangan kalian! Sumpah!” tegas Helmi untuk yang kesekian
kalinya. Tapi tatapan sinis teman-teman tetap tidak berubah.
Helmi
bebalik ke arahku yang berdiri di belakangnya. “Kamu percaya padaku, kan?”
tanyanya.
Aku
hanya meringis ragu. Ingin sekali kujawab ‘ya’, tapi nyatanya aku juga curiga
kepada Helmi. Jika kujawab ‘tidak’, aku takut akan melukai hati sahabatku itu.
“Sudahlah!”
Helmi akhirnya kehabisan kesabarannya. “Yang jelas aku benar-benar nggak
mencuri jam tangan kalian. Terserah apa kata kalian!” Helmi terlihat sangat marah.
Dia berjalan pergi meninggalkan aku dan teman-teman yang mengelilinginya.
Kasihan sekali.
“Tunggu
Helmi!” panggil seseorang.
Helmi
menoleh, “ada apa lagi?”
“Kamu
harus mengembalikan jam tangan kami!” seru anak perempuan bernama Susi, dia
yang memanggil Helmi tadi.
“Bagaimana
bisa?! Bukan aku yang mengambil!”
“Mana
ada maling ngaku?!!”
Helmi
terdiam. Rahangnya mengeras dikatai maling seperti itu. Mukanya merah padam
menahan marah.
“Aku
bukan maling!” teriaknya. “Bukan aku yang mencuri! Kenapa kalian enggak percaya
padaku?!!”
“Pokoknya
aku mau jam tanganku kembali. Itu jam pemberian papa dari Inggris!” Susi
ngotot, tangannya mengepal kesal.
“Jangan
minta padaku!” jerit Helmi.
“Kamu
kan malingnya!”
“Ya!
Kamu harus tanggung jawab!” sahut salah seorang anak laki-laki.
“Kembalikan
jam tangan kami!” tambah anak lainnya.
“Kalau
enggak, kami akan mengeroyokmu dan membawamu ke penjara!” seru seorang murid
bertubuh tinggi dan gemuk.
Helmi
diam membeku. Matanya berkaca-kaca. Bibirnya bergetar sedih dan marah.
Tangannya mengepal kuat. Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Hilmi bahkan hanya
bisa diam menunduk malu dan kasihan. Kami berdua sama-sama takut menjadi
sasaran kemarahan teman-teman selanjutnya karena kami punya hubungan baik
dengan’tersangka’.
“Kami
beri waktu sampai besok pagi! Kamu bisa mengembalikan jam tangan kami nanti
malam” kata Andrea, sang ketua kelas yang terkenal bijak itu.
Helmi
tampaknya tak mampu berkata-kata lagi. mungkin hatinya kini terasa amat sangat
perih. Helmi hanya mampu menggeleng lemah. Matanya menyipit karena air mata
terus mengalir dari sudut mata itu. Suasana menjadi hening. Antara kami dengan
Helmi, mungkin kini terjadi semacam perang batin.
“Terserah
apa kata kalian. Tapi aku akan buktikan kalau aku tidak bersalah” Helmi berkata
pelan. Suaranya bergetar dan parau.setelah berkata seperti itu, Helmi beranjak
pergi entah kemana. Teman-teman menatap kepergian Helmi penuh kebencian.
Aku
menatap punggungnya yang berlalu dengan penuh perasaan bersalah dan kasihan.
Disaat seperti ini, aku justru tidak berani membela sahabat baikku sendiri...
Pak
Joko menanyakan tentang apa yang telah terjadi. Beberapa anak menjadi juru
bicara. Mereka blak-blakan menceritakan kecurigaan mereka pada Helmi. Mereka
menjelek-jelekkan Helmi, seolah Helmi benar-benar mencuri semua jam tangan yang
ada. Pak Joko mengangguk-angguk paham akan kecurigaan mereka yang beralasan.
Memang aneh, karena jam tangan para guru tidak ada yang hilang.
***
Sorenya,
selesai kami melakukan pendakian di bukit belakang sekolah, aku kebetulan lewat
dan melihat Helmi keluar dari gudang. Dia membawa sebuah buku tebal dan sebilah
kapak. Aku berusaha pura-pura tidak melihatnya, tapi Helmi justru
menghampiriku.
“Aku
akan buktikan” katanya lirih dan terdengar menusuk.
Kulihat
wajah Helmi lusuh dan pucat. Bibirnya kering, matanya sembab dan merah.
Penampilannya berantakan, rambutnya acak-acakan sekali.
“Sudahlah.
Jangan dengarkan perkataan teman-teman” saranku.
Tapi
Helmi justru menatapku seolah penuh kebencian. Aku melangkah mundur, waspada. Tiba-tiba
feelingku mengatakan Helmi sudah
tidak waras dan hendak melukaiku. Helmi melangkah mendekat, dan sekali lagi aku
melangkah mundur.
“Sudahlah
Helmi! Lebih baik sekarang kamu pulang dan menenangkan dirimu. Masalah
teman-teman, biar aku minta bantuan Pak Joko untuk membereskannya.” Aku berkata
tegas. Takut-takut Helmi kehilangan kendali dan menyerangku dengan kapak di
tangannya itu.
“Aku
tidak akan lari dari masalah” jawabnya tenang dan penuh keyakinan. Helmi
menatapku dalam. Kemudian melanjutkan ucapannya. “Karena aku bukan pengecut
yang meninggalkan sahabatnya dalam masalah sendirian”
Aku
tersentak. Dadaku terasa panas dan sesak
oleh rasa bersalah. Perkataan Helmi itu sangatlah benar. Aku sahabatnya... Tapi
kenapa aku justru pergi dan lari dari tanggung jawab sebagai seorang sahabat.
Aku justru meninggalkan Helmi disaat dia benar-benar membutuhkan pertolongan
dari seseorang yang disebut dengan sahabat. Aku jahat. Aku kejam. Aku pengecut.
Memalukan sekali diriku ini...
“Maaf,
Helmi...” ucapku lirih. Sangat-sangat lirih hingga aku sendiri tidak yakin
telah mengucapkan sepatah kata.
Helmi
hanya diam, kemudian berbalik meninggalkanku yang dipenuhi rasa bersalah.
Kutatap punggung Helmi. Dia berjalan pelan ke arah gedung sekolah. Entah apa
yang akan Helmi lakukan dengan kedua benda yang diambilnya dari dalam gudang
itu.
Ketika
matahari tenggelam dan langit menjadi gelap, beberapa dari kami baru saja
selesai mandi. Gedung sekolah hanya memiliki 8 kamar mandi. Empat untuk murid
laki-laki dan sisanya untuk perempuan. Alhasil saat ke kamar mandi kami harus
mengantri seperti di pondok-pondok yang sering kulihat di televisi.
Selesai
makan malam, seperti biasa kami berkumpul di aula. Mengobrol dan bernyanyi
bersama. Bedanya, hari ini tidak ada Helmi diantara kami. Entah kemana dia,
tapi ranselnya masih ada di dalam kelas tempat istirahat. Tempat dimana aku,
Hilmi dan Helmi melepas lelah.
“Hai...”
sapa seseorang. Tika. Lagi-lagi dia menghampiriku. Kali ini wajah cerianya
tampak agak murung.
“Boleh
aku duduk?” tanya Tika. Aku menjadi salah tingkah karena dari tadi hanya diam
menatapnya.
“Oh!
Boleh-boleh” aku menggeser dudukku, memberi ruang untuk Tika duduk.
“Gimana
keadaan Helmi?” tanya Tika tanpa basa-basi.
Darahku
berdesir. Kenapa Tika harus bertanya tentang Helmi?? Aku selalu merasa bersalah
saat ada teman yang menanyakan perihal Helmi kepadaku.
“Tidak
tahu. Terakhir aku melihatnya... Kacau” jawabku asal.
Tika
menyipitkan sebelah matanya. “Kenapa tadi kamu enggak membela Helmi sama
sekali?”
DHEG!!...
Aku
hanya bisa diam.
“Kudengar
kamu sahabatnya kan?” tuding Tika.
“Kalau
aku jadi kamu” Tika melanjutkan. “Bagaimanapun keadaannya, aku akan tetap
membela sahabatku”
“Bukan
begit-“
“Pengecut”
potong Tika. “Aku kira kamu anak yang baik dan bisa diandalkan. Ternyata perkiraanku
meleset jauh sekali”
Kutatap
mata Tika yang nyalang memandangku. Nanar sekali rasanya. Apa aku sehina itu
dihadapan Tika? Apa iya, aku ini pengecut... Apa aku salah...
“Kasihan
Helmi. Ternyata sahabat yang dibanggakannya selama ini hanya seorang pengecut
yang jahat” kata Tika.
Kali
ini aku sudah tidak bisa menyembunyikan rasa bersalahku lagi. Air mataku
menetes satu-satu. Aku tersadar telah menyakiti Helmi. Aku sadar, dan aku
menyesal...
“Air
mata tidak berguna sekarang. Tunjukkan dengan perbuatan”. Setelah mengatakan
itu, Tika bangkit dan pergi meninggalkanku.
Segera
kuhapus air mata yang membasahi pipiku. Aku mengambil handphone dan melihat
jam. Sudah hampir jam sebelas malam.
“Ini malam terakhir dan malam
puncak. Kita akan berpesta bersama untuk keberhasilan kita!”
Pak
Joko muncul secara tiba-tiba dengan pengeras suara dan seperangkat sound system
yang serba lengkap. Wajahnya berseri-seri membawa suasana hangat dan
menyenangkan. Teman-temanku menyambut dengan bersorak gembira. Mereka
menghambur ke arah Pak Joko dan memeluknya senang. Lalu Pak Joko memutar lagu hitz yang sedang populer belakangan ini.
Mereka mulai meloncat-loncat dan bernyanyi gembira.
Aku
tersenyum, turut merasakan kegembiraan yang tengah mereka rasakan saat ini.
Ingin sekali aku ikut menari dan bernyanyi. Tapi aku punya urusan yang jauh
lebih penting. Aku harus mencari Helmi dan meminta maaf. Setelah itu aku akan
berjanji untuk tidak menghianatinya dan menjadi pengecut lagi.
Saat
kakiku mulai melangkah keluar ruang aula, seseorang menarik tangan dan
menghentikan langkahku.
“Mau
kemana?” ternyata Pak Joko. Dia tersenyum dan memandang agak tak suka.
“Aku
harus mencari Helmi” jawabku.
“Sudahlah...”
Pak Joko memegang kedua bahuku. “Ini bukan waktunya bersedih. Kita semua ada di
sini untuk bersenang-senang. Biarkan Helmi memilih jalannya, dia bukan
urusanmu”
“Tapi
dia sahabatku!” elakku tegas.
Pak
Joko tersenyum lagi. “Saya tahu. Kamu boleh mencarinya setelah acara puncak
malam kita selesai. Ini akan menjadi kenangan, jangan di sia-siakan”.
Aku
terdiam. Benar juga apa kata Pak Joko. Sebentar lagi kami akan berpisah, tidak
akan bisa bersenang-senang bersama lagi, ini saat-saat terakhir. Helmi... Aku
masih bisa meminta maaf besok pagi mungkin...
“Ayo!”
Pak Joko mengulurkan tangannya. Aku tersenyum dan menerima uluran tangan itu.
Kami berdua berjalan ke tengah kerumunan teman-teman yang lain. Alunan lagu
yang diputar membuat tubuhku secara sadar ikut menari dan menyanyi seperti yang
lain. Senang sekali rasanya, pikiran menjadi ‘plong’. Seluruh masalah terasa
berterbangan di udara sperti kapas yang tertiup angin kencang. Apa kepuasan
seperti ini yang didapatkan para orang dewasa di diskotik? Atau kupikir,
mungkin lebih menyenangkan.
Diam-diam,
mataku berkeliling mencari sosok Tika diantara banyak anak. Tak ada. Aku
mencari lagi, tetap tidak kutemukan. Aku berhenti berjoget dan berkeliling aula
sambil bertanya sana-sini, mungkin ada yang melihat dimana Tika berada. Namun
nihil, tak ada satupun dari mereka yang melihat Tika.
Sampai
akhirnya, kejadian yang benar-benar tak kuharapkan terjadi. Tika tiba-tiba
membuka pintu aula lebar-lebar. Wajahnya muram. Semua anak berhenti bernyanyi
dan memperhatikan Tika.
“Darimana
saja kamu Tika? Ada apa??” Pak Joko berusaha bertanya. Tika diam, lalu
menatapku.
“Anggit!
Ada kabar buruk” kata Tika. Sekarang semua mata tertuju padaku.
“A-apa?”
aku merasa ini bukan kabar buruk sembarangan, melihat ekspresi ketakutan Tika
dan nada suaranya. Jantungku berdegup sangat kencang.
“Helmi!”
lanjut Tika. Namun dia tidak melanjutkan perkataannya dan menggandeng tanganku
keluar aula.
Aku
menurut saja. Tak ada kekuatan dalam diriku untuk menolak ajakan Tika. Pak Joko
dan beberapa murid lainnya berjalan mengikuti kami. Mereka terdengar saling
berbisik, entah membicarakan apa. Tapi aku merasa pembicaraan mereka masih ada
sangkut pautnya dengan diriku, Helmi, atau bahkan Tika.
Tika
membawaku ke ruang kelas XA, tempat istirahatku. Aku melihat sebuah buku tebal
berwarn hijua kecokelatan yang tampak seperti buku kuno tergeletak di samping
ransel milik Helmi.
“Bacalah!”
perintah Tika.
Aku
duduk dan membuka halaman pertama buku itu. Hanya sekilas, lalu tanganku
mencerna sebuah halaman yang mungkin baru saja dibaca seseorang, karena mudah
sekali saat aku membuka halaman itu.
......................................................................................................................................................
Darahku terasa memanas. Bulu kudukku berdiri. Tengkukku
merinding dingin. Dalam lembar buku itu tertulis bahwa sekolah ini dulunya
bukanlah sekolah manusia, melainkan asrama para setan. Dan memang benar apa
kata Helmi, setan-setan itu tidak suka ada suara detik jam. Jika sampai ada
suara detik jam maka mereka akan keluar dan berusaha menghilangkan bunyi detik
itu dari dalam gedung ini. Namun dikisahkan bahwa para setan tidak mampu
merusak segala bentuk jam. Sebagai gantinya, mereka akan menyembunyikan jam-jam
itu di tempat tertutup agar tak ada yang bisa mendengar suara detik.
Jadi
benar yang mengambil jam-jam kami bukan Helmi, tapi para setan itu. Dadaku
memanas menahan buncahan amarah pada diriku sendiri yang tidak mau
mempercayainya sejak awal.
“Kalian
harus baca buku ini!” seruku mantab sembari menyerahkan buku kuno itu kepada
teman-teman. Dengan antusias, mereka berebut membaca seperti semut-semut yang
berebut gula.
“Kamu
juga harus membaca ini” kata Tika.
Aku
menoleh padanya. Selembar kertas, seperti surat. Mungkin dari Helmi. Dengan
perasaan yang masih tak karuan aku membuka perlahan surat itu.
|
Untuk sahabat karibku,
Anggito Abimma
Maaf, mungkin selama ini aku bukan sahabat yang baik
untukmu. Tapi terimakasih, selama ini kamu sudah mau menjadi sahabat
baikku.
Nggit, kamu harus percaya kalau bukan aku yang mencuri
jam tanganmu, juga jam tangan
teman-teman. Kamu masih ingat ceritaku tentang hantu yang benci suara
detik jam? Aku yakin mereka yang melakukan semua ini.
Agar kamu dan teman-teman percaya, aku sengaja mencari
buku sejarah tentang berdirinya sekolah ini. Dan aku menemkan buku itu di
gudang lawas. Setelah kamu membaca buku itu aku yakin kamu dan yang lain
baru akan percaya padaku. Dan aku memang bukan pencuri jam tangan kalian.
Tapi karena kalian telah menganggapku pencurinya, aku
harus bertanggung jawab. Ini salahku juga karena tidak meminta kemah
indoor ini dibatalkan. Aku terlalu bodoh. Maafkan aku.
Menurut buku kuno itu, para hantu menyimpan jam-jam
yang mereka ambil di sebuah tempat yang amat sangat tertutup. Kurasa, aku
tau dimana tempat itu. Aku akan kesana, mencarikan jam-jam kalian.
Anggit, aku sayang padamu sebagai sahabat terbaikku.
Katakan pada teman-teman bahwa aku juga menyayangi mereka, meski aku
kecewa dengan semua tuduhan kalian yang jahat itu. Untuk Hilmi, tolong
jaga papa dan mama. Aku sayang kalian semua.
Thank’s, Helmi.
NB : jika
sampai tengah malam aku belum kembali, kuharap kamu masih sudi mencariku.
Karena aku tidak tahu apa yang akan terjadi setelah ini.
|
“Ada
yang melihat Helmi?!” tanyaku dengan volume suara yang sengaja kuperkuat.
Berharap ada yang menjawab ‘ya’, ‘Helmi baik-baik saja’. Tapi nyatanya, semua
temanku menggeleng tak tahu.
Aku
merogoh saku celanaku, mengambil handphone. Pukul 00.37, ini sudah lebih tengah
malam! Mendadak dadaku kembali terasa panas dan sesak.
“Kita
harus mencari Helmi! Sekarang!” seruku lantang.
“Apa
yang dia katakan di surat itu?” tanya pak Joko.
Tanpa
banyak bicara kuserahkan surat dari Helmi. Pak Joko spontan dikerumuni
anak-anak yang lain. Mereka berebut membaca surat Helmi.
Selesai
membaca, tampak mimik muka beberapa anak berubah penuh rasa bersalah. Wajah
mereka yang sejak tadi pagi penuh kebencian, perlahan melembut.
“Sepertinya
bapak tahu dimana tempat tersembunyi yang dimaksud Helmi” Pak Joko memecah
keheningan. Aku segera menaruh harapan besar. Dengan sigap, Pak Joko berjalan
keluar ruang kelas IXA diikuti aku, Tika, lalu teman-teman yang lainnya.
Suasana menjadi panas. Kami segerombolan manusia, berdesak-desakan, berusaha
berjalan tepat dibelakang Pak Joko. Kami berjalan cepat, Pak Joko membawa kami
ke halaman belakang sekolah.
“Itu
tempat yang misterius dan tersembunyi yang bapak tahu” kata Pak Joko sambil
menunjuk ke arah rumah gubuk kecil di sebelah pohon mangga.
Aku
mengernyit heran. Memang benar misterius, tapi... Apa disana ya...
“Ambil
kunci inggris di gudang!” perintahnya.
Beberapa
anak saling menyuruh. Lalu 3 anak laki-laki berlari menuju gudang. Tak berapa
lama, mereka kembali dengan benda yang diminta Pak Joko.
Pak
guru kami itu kembali beraksi. Dia berusaha mencongkel pintu. Satu kali, dua
kali, tiga kali, gagal. Congkelan ke-empat, pintu berhasil terbuka. Pak Joko
membukanya kasar.
~ KOSONG ~
Sial!
Bukan ini tempatnya. Tak ada apapun disini. Mungkin ruang ini hanya semacam
gudang yang terlupakan dan tidak terpakai lagi. Di dasar lantai, ada beberapa
genangan air. Pak Joko menyenteri sudut-sudut ruangan. Banyak sarang laba-laba
dan barang-barang disini tampak amat sangat kotor.
“Bagaimana
ini??” Tika panik. Ada sebersit rasa cemburu menyelinap dalam dadaku, entah
mengapa. Padahal aku tahu bahwa selama ini Tika dan Helmi memamng cukup akrab.
Akh! Bukan saatnya berfikir konyol. Ini saat genting, aku harus menyelamatkan
Helmi.
Tiba-tiba
ingatanku terlempar pada masa dimana aku dan Helmi masih menjadi murid kelas
satu. Saat itu aku menganggap Helmi agak aneh karena dia suka bercerita tentang
hantu-hantu di sekolah ini. Helmi tahu banyak, katanya kakek Helmi dulunya
adalah penjaga sekolah. Sehingga dia sering mendengar cerita hantu di sekolah
ini dari kakeknya.
Aku
teringat ucapan Helmi tentang sebuah ruang misterius di sekolah ini.
“Ada sebuah ruangan yang belum
pernah kakek masuki. Ruang itu memang ditutup, digembok, dan dirantai sejak
dulu. Tak ada yang berani membuka. Bahkan kakek yang terkenal pemberani itu
juga nggak berani, loh!”
“Kamar
mandi guru!” kataku spontan.
Pak
Joko menatapku heran. Matanya menyipit, tampak berfikir.
“Aku
ingat kata Helmi ada sebuah kamar mandi guru yang digembok dan dirantai besi
karena tak ada yang boleh membukanya”
Pak
Joko mengangguk. “Tapi kamar mandi itu memang sangat dilarang untuk dibuka”
“Demi
Helmi!” seruku tidak sabar.
“Tapi_”
“Ini
demi sebuah nyawa manusia, Pak! Kita harus kesana!” tambah Tika.
“Kalau
Helmi sudah kesana, berarti tempat itu sudah terbuka” kataku. Pak Joko, Tika,
dan yang lain mengangguk setuju.
“Cerdas!”
Pak Joko mengacak rambut di kepalaku pelan. Lalu dia barlari kembali ke gedung
sekolah. Aku dan yang lainnya mengekor dibelakang beliau.
Ruang
guru kami memiliki ruang khusus yang luas, hampir seperti aula. Jarang sekali
ada murid yang masuk ke ruang guru. Ini saja baru kali ke-tiga aku masuk ruang
guru, selama masa sekolahku yang sudah 3 tahun lamanya.
“Kesini!”
komando Pak Joko. Kami berbelok kekanan, menuju sebuah lorong berlampu
remang-remang. Di kanan-kiri lorong ada banyak pintu bertuliskan ‘TOILET’. Pak
Joko terus berjalan menuju ujung lorong. Benar saja, disana ada sebuah pintu bercat
putih yang terlihat tua dan pudar warnanya. Pegangan pintu itu terantai dengan
gembok besar. Sama sekali belum terbuka dan tidak ada tanda-tanda seseorang
pernah mencoba membukanya.
“Helmi
belum kesini, dia tidak kesini” kata Pak Joko melihat semuanya masih rapi.
“Kita
cari ke tempat lain” pak Joko berbalik. Tapi naluriku mengatakn Helmi ada di
dalam sana.
“Tunggu,
Pak!” cegahku. “Setan, hantu, dedemit,
atau apalah namanya. Bukannya mereka memiliki kekuatan ghaib? Bisa saja,
setelah Helmi masuk mereka menggembok pintu ini seperti semula”
Pak
Joko berpikir sebentar, kemudian mengangguk. “Ya, benar juga” katanya. Guru
kami itu menatap sekitar seratus orang muridnya yang menunggu tak sabar. Yang
rela berdesakan demi mencari orang yang telah mereka fitnah dengan begitu
kejamnya, Helmi.
“Siapa
yang mau mengambil kapak di sebelah ruang kepala sekolah?” tanya Pak Joko.
Hening.
Tak ada satupun yang tampak berminat. Gudang di sebelah ruang kepala sekolah
memang terkenal angker. Apalagi ini sudah lewat tengah malam.
“Biar
aku saja!” aku memutuskan. Tak ada waktu untuk takut dan jadi pengecut lagi.
“Kamu
sendiri?”
“Aku
mau menemani” sahut Tika. Aku menoleh dan tersenyum. Tika menepuk bahuku. “Kita
bersama”
Aku
mengangguk. “Ayo!”
Aku
dan Tika menembus gerombolan teman-teman yang menatap kami. Dengan langkah
cepat kami keluar dari ruang guru. menuju gedung depan, tempat ruang kepala
sekolah berada. Sekolah terlihat sangat gelap. Beberapa kali aku dan Tika tidak
sengaja menabrak pot-pot dan guci bunga yang berjejer menghias ruang demi
ruang. Kami tak perduli, tekad kami sudah bulat.
“Gelap, aku enggak bisa melihat dimana kapaknya!”
kataku bingung sambil meraba-raba ruang kecil yang dimaksud Pak Joko.
“Kita
cari bersama” usul Tika.
Aku
terus meraba-raba dalam kegelapan. Tika juga melakukan hal yang sama. Ada
banyak perkakas di tempat ini. Buku-buku tebal, dan alat-alat lainnya. Tanganku
juga merasakan adanya kotoran dan debu. Sendok, piring, sepatu berdebu, kursi,
almari besi, dan akhirnya...
“Aghkk!”
teriakku spontan, perih. Mungkin aku terlalu kasar mencari. Sebuah benda tajam
melukai pergelangan tangan kananku.
“Anggit!
Kenapa kamu??” suara Tika terdengar panik.
“Aku
menemukan kapaknya”
“Oke,
bagus! Ayo keluar” Tika berlari ke arah pintu yang sedikit lebih terang
daripada ruang pengap ini.
Aku
membawa kapak dengan tangan kiri. Berat juga, kapak ini besar. Aku melirik
tangan kananku yang mengucurkan darah dalam kegelapan. Benar-benar perih
rasanya, tapi aku harus bertahan. Tika tidak tahu keadaan tanganku yang
sebenarnya.
Kami
kembali meraba-raba, berharap bisa melangkah lebih cepat tapi keterbatasan
cahaya menghalangi langkah kami. Aku tahu, mungkin besok pagi saat semua
kembali terang akan ada banyak darah berceceran di lantai dan menempel
mengotori tembok.
Setelah
berjalan beberapa lama dalam kegelapan akhirnya kami sampai ke ruang guru yang
terang. Tanpa di komando aku dan Tika kompak berlari cepat. Begitu melihat
kami, teman-teman membuka jalan. Kudengar, anak-anak perempuan menjerit
histeris melihat darah menetes dari tangan kananku.
“Ini
kapaknya!”aku menyerahkan kapak kepada Pak Joko dengan tangan kiri. Pak Joko
terlihat heran juga. Dia memiringkan badan dan kepalanya berusaha melihat
tangan kananku yang kusembunyikan di belakang punggung. Aku menatap Pak Joko
dan berjalan mundur selangkah sembari berkata “tak ada apa-apa”.
Pak
Joko diam, dia sepertinya percaya karena setelah itu Pak Joko meraih
kapaknya dan dengan sigap mengayunkan
kapak itu ke arah gembok yang membelenggu pintu toilet.
PRAAKK...!
Gembok terbuka, terjatuh di lantai.
PRAKK!
Suara rantai yang terkena kapak. PRAKK!
PRAAKK! Rantai besi yang besar itu jatuh berantakan di lantai.
Pak
Joko melempar kapak ke pojok tembok lalu memutar gagang pintu cepat. Spontan,
aku berjalan mendekat berusaha melihat ke dalam. Pak Joko segera menyenteri
ruang toilet yang sudah lama tidak dibuka itu.
“ASTAGA!
Helmi...!”
“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!”
Beberapa
anak perempuan yang melihat ke dalam toilet menjerit histeris. Mereka secara
reflek menutup mata dan wajah mereka dengan telapak tangan dan berjalan mundur
tak sanggup melihat.
Aku
hanya bisa diam membeku, rasanya kepalaku berputar. Aku berpegangan pada lengan
Pak Joko. Tak kuperdulikan lagi darah yang terus mengalir mengotori baju guruku
itu. Kulihat, Tika sudah menangis dibalik punggung Pak Joko.
Semuanya
sudah terungkap. Semua jam tangan ada di
sini. Ada puluhan atau bahkan mungkin ratusan! Semuanya menumpuk,
berserakan. Ada yang menggantung di langit-langit tolilet, menempel di dinding,
tergeletak di lantai, memenuhi bak mandi dan WC. Bermacam-macam dan penuh
warna. Jam dinding, jam tangan, jam weker, jam lonceng, banyak sekali. Dan
semua jam itu berdetik bersamaan. Paduan suaranya memekakkan telinga. Terdengar
begitu kompak namun berisik.
Diantara
semua jam yang berserakan, diantara detik-detik jam yang bagaikan irama
kematian itu, sesosok manusia yang amat sangat kukenali tergantung di atap.
Entah bagaimana, kepala Helmi bisa terlilit jam tangan dengan karet gelang yang
panjang. Jam itu menempel di langit-langit seperti ada lem yang merekatkannya
begitu kuat. Helmi tergantung tak berdaya disana. Keadaannya benar-benar
mengenaskan. Matanya melotot sampai bola mata itu kupikir akan bisa
menggelinding jatuh. Terpancar ketakutan yang amat sangat dari sorot mata itu.
Tangannya terkulai lemah dengan jari-jari yang mengejang seperti seseorang yang
terkena stroke. Tidak ada tanda-tanda kekerasan, tapi darah segar masih terus
keluar dari sudut mulut Helmi. Yang paling menakutkan, tubuh Helmi tidak diam
layaknya mayat. Tubuhnya terus bergerak, ke-kanan dan ke-kiri. Mengikuti suara
detik demi detik jam di sekeklilingnya. Ya... Tubuh Helmi bergerak mengikuti
suara detik. Seperti lonceng jam besar di gereja, benar-benar bergerak sendiri.
Padahal kami sangat yakin bahwa Helmi sudah kehilangan nyawanya, dia sudah
tidak ada.
Aku
tak sanggup lagi, kepalaku benar-benar pusing sekarang. Pemandangan mengerikan
itu membuat mentalku jatuh. Aku merasa amat sangat bersalah. Aku menoleh
melihat Pak Joko, ingin sekali kusandarkan tubuhku ke dada Pak Joko yang
tampaknya masih saja tertegun melihat semua kenyataan ini.
“Pak...
Rasanya aku ingin pingsan...” lirihku. Pak Joko tidak menggubris. Aku
mengalihkan pandangan pada tangan kananku yang berdarah. Aku belum sempat
memperhatikannya sama sekali sejak tadi.
DEEGH !!
Kali
ini aku sudah tidak sanggup lagi berdiri, kekuatanku lenyap sudah. Kulihat
tangan kananku hampir putus. Tulangku terlihat jelas, putih. Darahku banyak
mengotori baju Pak Joko, di lantai juga banyak sekali darah. Aku tidak
menyadari hal ini sejak tadi. Akhirnya aku jatuh terduduk, mataku
berkunang-kunang.
“Seharusnya
saya tidak terlibat semua ini” terdengar suara Pak Joko.
Dengan
sisa kekuatan yang ada. Aku mendongak. Pak Joko masih berdiri sambil menatapku
jijik. Oh Tuhan... Beginikah rasanya dibenci dan dikhianati. Sakit sekali
melihat Pak Joko dan Tika, mereka memandangku dengan tatapan ngeri dan jijik.
Tidak ada tanda-tanda mereka akan bergerak menolongku.
Setelah
melihat mereka, aku ambruk. Kepalaku rasanya jatuh tepat pada genangan darahku
sendiri. Aku sempat melihat ke arah Helmi yang terus bergerak mengikuti nada
dari detik-detik jam. Maafkan aku Helmi, mungkin ini memang balasan yang tepat
untukku. Pengkhianat... Aku pengkhianat yang pantas dikhianati. Maafkan aku
Helmi... Maaf...
Perlahan-lahan
semuanya berubah gelap. Kepalaku pening. Ah... Aku bisa melihat, ada cahaya
terang. Disana ada Helmi. Seseorang berjubah hitam memaku lehernya ke tengah
jam besar. Helmi dijadikannya sebagai jarum jam penunjuk detik jam besar itu.
Bergerak dan terus bergerak. Suara detik itu... Aku benci suara detik...!
BENCI!!
“Bencilah detik jam yang menyiksa
itu... Jadilah bagian dari kami, setan-setan pengkhianat yang memusnahkan semua
benda penghasil suara ‘tik-tik-tik’”.

Ceileeh... Bagus Bagus.. 👍👍
BalasHapusCeileeh... Bagus Bagus.. 👍👍
BalasHapusmohon kritiknya :) tunggu terus updatenya yak :D
Hapus