Jumat, 11 November 2016

Desa Milik Siapa ?


Jalanan Desa Piyungan ramai oleh onggokan rumah yang seolah tak berpenghuni. Ramai dalam diam, mungkin seperti itu. Seandainya rumah-rumah boleh berbicara, mereka akan bercengkrama ria, berusaha mengusir hening desa. Kemana perginya seluruh penduduk? Entahlah. Mungkin mereka masih sibuk memburuh di kantor-kantor pencakar langit, membajak sawah milik orang lain, atau menjajakkan sayur di pasar kepada sesama warga desa.

            Seorang wanita terdiam di teras salah satu rumah kuno dengan taman rindang. Wajahnya bersahaja oleh guratan pahit-manis pengalaman hidup 64 tahun terakhir. Sorot matanya teduh, lesu oleh kehidupan yang berubah. Juga oleh susunan batu-bata yang banyak mengubah wajah desa kelahirannya. Sebagian besar warga desa sudah bukan lagi penduduk asli. Para pendatang seolah melakukan ekspansi besar-besaran, mengambil alih lahan di desa. Menyulap rumah-rumah kuno beraksitektur tradisional menjadi modern. Menghilangkan ciri khas Desa Piyungan. Perkara ini bukanlah sesuatu yang buruk, mereka menyebutnya tekhnologi.
            "Saya lebih senang orang penduduk asli," celetuk ibu Nanik, sebutannya sehari-hari yang berdagang sayur di pasar. Menurutnya, penduduk asli desa yang sebagian besar adalah pedagang dan petani, berandil besar dalam melestarikan kebiasaan-kebiasaan tradisional yang hampir terkikis zaman. Wanita bersahaja yang masih tampak segar di usia senja itu melayangkan pandangan menerobos waktu. Mengingat kegiatan-kegiatan desa di masa lalu. Ia masih harus bersyukur karena kebiasaan tradisional tetap dipertahankan oleh sebagian besar penduduk desa. Walaupun tentu saja tidak semua bisa turut andil. Terutama warga pendatang yang justru mendominasi kuantitas desa.
            "Zaman sekarang sudah banyak orang pandai. Seandainya saja mereka menularkannya kepada tetangga." Lagi-lagi ibu Nanik mengutarakan suara batinnya. Mata tua itu remang menatap tembok tinggi pemisah rumahnya dengan rumah seorang penduduk lain. "Dulu tembok itu tidak ada," lanjut ibu dari lima orang anak ini.
Dibalik susunan batu merah yang direkat semen, dipermanis cat kuning belewah, sebuah keluarga lain tinggal. Tanpa menyadari keresahan satu sama lain, semua orang hidup berdampingan, sebatas menyapa saat bertemu, sekedar datang saat ada jamuan seolah tidak terjadi apapun. Namun benteng itu jelas berdiri kokoh. Bukan sebatas tembok bermaterial bata dan semen, namun lebih kuat, tidak terdefinisikan, mengambang di udara.
"Kami sibuk, main saja tidak pernah kalau bukan karena ada undangan hajatan atau keperluan lain." Ujar Bu Nunik, sosok dibalik tembok tinggi bercat kuning belewah, salah satu pendatang di desa Piyungan. "Saya hanya menunggu, jika mereka butuh pertolongan baru saya akan tolong. Kalau hanya ngobrol, saya pikir penduduk desa sudah pintar. Karena itu justru kita harus berhati-hati, jangan sampai menggurui," terang ibu 42 tahun yang sempat mengenyam bangku kuliah.
            Sebelum rumah-rumah berpagar tinggi dibangun, desa itu terasa begitu hangat oleh persaudaraan. Waktu itu, desa masih benar-benar bisa disebut desa. Sekarang sudah berbeda, desa sudah tak lagi pantas menyandang gelarnya. Begitupun juga belum pantas menerima sertifikat sebagai kota. Hendak kemana sebenarnya warga setempat akan membawa nama desanya? Atau memang tidak ada niatan menjunjung nama desa sama sekali. Hanya sebagai tempat berteduh, melepas lelah, menyimpan barang, untuk kemudian selalu pergi berkutat dengan pekerjaan.

            

Tidak ada komentar:

Posting Komentar