Jalanan
Desa Piyungan ramai oleh onggokan rumah yang seolah tak berpenghuni. Ramai
dalam diam, mungkin seperti itu. Seandainya rumah-rumah boleh berbicara, mereka
akan bercengkrama ria, berusaha mengusir hening desa. Kemana perginya seluruh
penduduk? Entahlah. Mungkin mereka masih sibuk memburuh di kantor-kantor
pencakar langit, membajak sawah milik orang lain, atau menjajakkan sayur di
pasar kepada sesama warga desa.
Seorang wanita terdiam di teras
salah satu rumah kuno dengan taman rindang. Wajahnya bersahaja oleh guratan
pahit-manis pengalaman hidup 64 tahun terakhir. Sorot matanya teduh, lesu oleh
kehidupan yang berubah. Juga oleh susunan batu-bata yang banyak mengubah wajah
desa kelahirannya. Sebagian besar warga desa sudah bukan lagi penduduk asli.
Para pendatang seolah melakukan ekspansi besar-besaran, mengambil alih lahan di
desa. Menyulap rumah-rumah kuno beraksitektur tradisional menjadi modern.
Menghilangkan ciri khas Desa Piyungan. Perkara ini bukanlah sesuatu yang buruk,
mereka menyebutnya tekhnologi.
"Saya lebih senang orang
penduduk asli," celetuk ibu Nanik, sebutannya sehari-hari yang berdagang
sayur di pasar. Menurutnya, penduduk asli desa yang sebagian besar adalah
pedagang dan petani, berandil besar dalam melestarikan kebiasaan-kebiasaan
tradisional yang hampir terkikis zaman. Wanita bersahaja yang masih tampak
segar di usia senja itu melayangkan pandangan menerobos waktu. Mengingat
kegiatan-kegiatan desa di masa lalu. Ia masih harus bersyukur karena kebiasaan
tradisional tetap dipertahankan oleh sebagian besar penduduk desa. Walaupun
tentu saja tidak semua bisa turut andil. Terutama warga pendatang yang justru
mendominasi kuantitas desa.
"Zaman sekarang sudah banyak
orang pandai. Seandainya saja mereka menularkannya kepada tetangga."
Lagi-lagi ibu Nanik mengutarakan suara batinnya. Mata tua itu remang menatap
tembok tinggi pemisah rumahnya dengan rumah seorang penduduk lain. "Dulu
tembok itu tidak ada," lanjut ibu dari lima orang anak ini.
Dibalik
susunan batu merah yang direkat semen, dipermanis cat kuning belewah, sebuah
keluarga lain tinggal. Tanpa menyadari keresahan satu sama lain, semua orang
hidup berdampingan, sebatas menyapa saat bertemu, sekedar datang saat ada
jamuan seolah tidak terjadi apapun. Namun benteng itu jelas berdiri kokoh.
Bukan sebatas tembok bermaterial bata dan semen, namun lebih kuat, tidak
terdefinisikan, mengambang di udara.
"Kami
sibuk, main saja tidak pernah kalau bukan karena ada undangan hajatan atau
keperluan lain." Ujar Bu Nunik, sosok dibalik tembok tinggi bercat kuning
belewah, salah satu pendatang di desa Piyungan. "Saya hanya menunggu, jika
mereka butuh pertolongan baru saya akan tolong. Kalau hanya ngobrol, saya pikir
penduduk desa sudah pintar. Karena itu justru kita harus berhati-hati, jangan
sampai menggurui," terang ibu 42 tahun yang sempat mengenyam bangku
kuliah.
Sebelum rumah-rumah berpagar tinggi
dibangun, desa itu terasa begitu hangat oleh persaudaraan. Waktu itu, desa
masih benar-benar bisa disebut desa. Sekarang sudah berbeda, desa sudah tak
lagi pantas menyandang gelarnya. Begitupun juga belum pantas menerima
sertifikat sebagai kota. Hendak kemana sebenarnya warga setempat akan membawa
nama desanya? Atau memang tidak ada niatan menjunjung nama desa sama sekali.
Hanya sebagai tempat berteduh, melepas lelah, menyimpan barang, untuk kemudian
selalu pergi berkutat dengan pekerjaan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar