Senin, 14 November 2016

Daun-Daun Kering

Langit siang terang benderang oleh sinar surya. Debu-debu kering berterbangan diantara gersangnya pepohonan. Udara panas membakar kulit. Beberapa orang tak berkepentingan tentu lebih memlilih berdiam diri di dalam rumah mereka yang dingin. Bersantai, menikmati cemilan, atau tidur di balik selimut tipis. Mereka sama sekali tidak menyadari, lebih tepatnya tidak mau mengakui bahwa udara panas di luar sana mereka jugalah penyebabnya. Sementara beberapa orang di sisi kehidupan yang lain harus banting tulang mencari nafkah. Membujuk tubuh agar bersahabat dengan keringat. Berjuang di bawah terik matahari yang kian menjadi-jadi. Demi sebakul nasi dan sambal terasi untuk makan anak istri.

            Aku berjalan cepat melintasi trotoar yang kanan kirinya dirindangi oleh pohon berdaun lebat. Sedikit mengurangi panasnya udara yang mendidih. Berbagai makanan dijajakan di sepanjang trotoar. Sebagian pencari nafkah sibuk menerima rezeki.  Sebagian yang lain hanya diam termangu menunggu pelanggan. Dua orang gadis seumuranku berdiri gelisah di dekat salah satu batang pohon. Sepertinya mereka kepanasan dengan baju ketat dan celana pendek itu. Mereka sibuk mengipas diri mereka sendiri sambil menggerutu panjang-pendek. Aku melintas begitu saja seolah tak peduli. Namun sekilas aku bisa mendengar dengan jelas mereka menggumam heran. Apa nggak panas siang-siang gini pake jubah dan kerudung panjang? Atau dia pindahan dari Mesir kali, ya. Disana, kan, panas banget. Indonesia, sih, bukan apa-apa.
            Semilir angin menerpa wajah. Masuk melalui celah-celah jilbab, mendinginkan tubuhku, hatiku. Aku tersenyum simpul. Ini adalah angin iman yang mereka tidak pernah tau. Memang secara logika pakaian tebal dan panjang ini akan menjadikan seseorang yang mengenakannya kepanasan. Tapi bukankah cinta itu ada di luar logika? Begitupun, cintaku kepada Tuhan membuat segalanya berjalan di luar logika.
            Gedung serbaguna kota berdiri kokoh di ujung jalan. Aku bergegas pergi sambil melongok jam tangan. Seharusnya aku sampai lima menit yang lalu. Acara halal-bihalal sekaligus reuni. Sudah lebih dari delapan tahun kami tidak saling bertemu. Beberapa teman mungkin masih sempat bersama di bangku SMP, SMA atau bahkan Universitas. Tapi aku sama sekali tidak pernah bertemu mereka lagi sejak delapan tahun terakhir, kecuali salah seorang teman lama.
            “Nadya! Oh, lihat! Itu Nadya!”
            Seseorang berseru heboh tepat ketika aku tiba di depan pintu. Sudah banyak sekali tamu undangan yang datang. Tentu saja, aku terlambat hampir sepuluh menit.
Aku yakin wajah cantik dihadapanku itu Nurma. Dia memelukku tanpa ampun, mencium pipi kanan dan kiri berulang-ulang. Nurma, dia teman satu bangku di sekolah dasar dulu. Setelah lulus kami masih sering berkomunikasi meskipun hanya lewat media elektronik. Nurma sedang menjalankan kuliahnya di luar negeri. Dia sering sekali bilang ingin bertemu denganku, ingin menciumku. Saat itu aku hanya tertawa dan mengiyakan. Tidak menyangka Nurma akan benar-benar menciumiku seperti sekarang.
            “Nadya, Dear? Kau hanya diam saja? Kau tidak rindu aku?” Nurma mengerutkan kening setelah selesai dengan segala kerinduannya.
            Aku membuang nafas sesak kemudian tersenyum. “Tentu saja aku sangat merindukanmu, Nurma.” Aku ganti memeluk Nurma lembut. Seharusnya seperti inilah kerinduan. Tenang, halus, menghangatkan. “Assalamu’alaikum” lirihku.
            “Wa’alikumsalamwarahmatullah...” Nurma melepaskan pelukan kami, tersenyum kearahku dengan mata berbinar-binar entah oleh apa. “Kau benar-benar sudah berubah, Nadya. Amazing! Oh, God. I love you, Nadya!” Nurma memelukku, sekali lagi.
            Kami berjalan beriringan setelah semua drama penuh rindu itu usai. Nurma mengingatkanku kepada beberapa wajah yang telah terlupakan. Kami bertemu banyak orang dari masa lalu. Bercerita tentang masa lalu, bernostalgia, melepas rindu. Tawa bahagia memenuhi ruangan. Denting-denting gelas dan perkakas makanan lainnya seolah menyempurnakan suasana. Kami larut dalam cerita. Sesekali menertawakan kekonyolan kami sendiri. Hari ini hati kami penuh oleh buncahan kebahagiaan. Aku tersenyum, bersyukur.
Matahari di luar sana perlahan beranjak menurunkan intensitas cahayanya yang otomatis menurunkan suhu udara. Angin sore mulai berhembus menerbangkan daun-daun kering. Seseorang menyeruak keramaian. Persis seperti angin sore membelah setumpuk daun kering tak bernyawa.
Aku terbeliak. Darahku berdesir cepat dan aku tau apa yang terjadi pada jantungku. Tenanglah! Paksaku padanya. Aku harus mengontrol seluruh inderaku sekuat tenaga. Sayangnya, setelah sekian lama segalanya masih saja sama. Mereka susah sekali dikendalikan jika sudah melihat sosok itu. Sesosok pria bertubuh jangkung dengan kulit sawo matang. Matanya tajam bagai elang. Garis wajahnya tegas. Dan senyumnya. Oh, dia tersenyum pada setiap orang di ruangan ini. Diam-diam aku bersembunyi di balik punggung Nurma. Aku tidak ingin melihat senyumnya lagi. Senyuman yang pernah ada hanya untukku. Senyuman yang pada akhirnya justru menikamku begitu pedih.
“Kita sudah sebelas tahun! Kenapa kau tega?!” Aku meraung memecah malam. Membangunkan hewan-hewan kecil di balik rerumputan.
“Maafkan aku. Aku tidak_”
“Stop! Stop!” Aku tidak tahan lagi. “Kita cukup! Stop!”
“Tapi, Nadya, aku_”
“Kau ingat ini sudah keberapa kalinya, hah?!” Aku menjerit. Hatiku serasa teriris sembilu bergerigi. Air mataku tidak sedikitpun berhenti. Dadaku sesak. “Aku... Aku sudah berusaha, berusaha menerimamu, bagaimanapun itu.”
Dani memandangku lekat. Mata elangnya terlihat berkaca-kaca penuh penyesalan. Tapi memang itu yang ia lakukan setiap melihatku menangis. Dan itu sudah berulangkali terjadi.
“Aku bisa memaafkanmu... Tapi sekarang...” Aku menggeleng pelan. Pipiku kebas oleh air mata. Fakta bahwa kekasihku justru bermain api dengan sahabatku sendiri membuat dunia seolah terbalik. Segalanya gelap. Tidak ada lagi yang bisa kupercaya.
Saat itu aku benar-benar tidak bisa berbuat apapun. Orang-orang terdekatku justru berkhianat. Dan aku tidak mungkin menceritakan masalah ini pada papa dan mama. Mereka akan akhawatir sementara aku di perantauan. Dan lagi, mereka memang tidak merestui hubungan ini sejak awal. Sejak aku membicarakannya secara terbuka setelah sepuluh tahun berjalan. Mereka justru memintaku berpisah dengan Dani. Tapi aku bersikukuh, atas nama cinta. Oh, cinta seperti apa sebenarnya yang justru sangat menyakitkan?
“Sudahlah, Nadya...” Teman sebelah kamar kostku berucap lembut. “Seharusnya kau bersyukur, Tuhan telah menunjukkan betapa buruknya dia.”
“Tuhan yang menumbuhkan rasa cinta ini.” Aku terisak. “Tapi dia juga yang menghancurkannya. Kenapa?! Kenapa Tuhan tega mempermainkan hidupku?!”
Rosa memelukku yang mulai meronta. Melempar apa saja pada jangkauan tanganku. Rosa begitu perhatian dan sabar. Gadis berkerudung itu setiap hari datang kemari. Mendengarkan ceritaku, menenangkanku, berusaha menasihati. Rosa tak pernah bosan meski ia tahu sebagian besar pertemuan kami berakhir sia-sia.
“Tuhan memang menumbuhkan rasa cinta itu. Tapi Dia tidak pernah memerintah hambanya berhubungan dengan lawan jenis sebelum terjalin ikatan yang sah.”
“Bagaimana? Bagaimana bisa seperti itu?” Aku berkata lirih dalam pelukan Rosa. Lelah sudah tubuh dan batin ini. Aku akhirnya menyerah, mendengarkan.
“Karena cinta.” Rosa mengusap punggungku. “Karena cinta kepada Tuhan, seharusnya lebih besar ketimbang cinta kepada makhluk. Nadya, kau tahu. Seandainya semua orang menyadari, ada yang lebih pantas mereka cintai ketimbang pacar-pacar mereka. Ada yang lebih mencintai mereka ketimbang pacar-pacar mereka. Ada yang lebih merindukan mereka.”
Aku hanya terisak, mendengarkan. Hatiku memanas entah oleh perasaan apa. Perasaan aneh yang selama ini tak pernah ada. Aku seperti merasakan kerinduan seperti yang Rosa ceritakan. Bibirku bergetar, air mata mengalir semakin deras.
“Tuhan telah memberikan banyak hal kepada kita, Nadya. Tubuh ini, harta benda, bumi. Bukankah semua itu dari Tuhan? Bukti nyata betapa cintanya sangatlah besar.”
“Tapi kenapa Dia menyakiti hatiku?” pertanyaan itu meluncur begitu saja. Aku terdiam.
Rosa mendorong kedua pundakku. Memaksaku menegakkan punggung. “Dia tidak menyakiti hatimu.” Katanya. “Dia merindukanmu, Nadya. Dia ingin kau kembali kepadanya. Kembali mencintainya. Dia cemburu padamu. Sudah berapa lama kau melupakannya? Menduakan cintanya?”
            Aku menelan ludah. Pertanyan Rosa begitu menusuk hati. Benar-benar sudah lama sekali. Sejak papa dan mama mengajakku sholat malam bersama. Kata mama segala doa yang dipanjatkan di malam buta akan mudah didengar. Karena ketika itu dunia tidak berisik, semua orang tidur. Hanya ada kita dan Tuhan.
            “Cobalah, Nadya. Kau tanyakan kepada Tuhan. Tanyakan kenapa Dia melakukan semua ini. Aku yakin, kau akan merasakan betapa Tuhan merindukanmu.”
            Rosa tersenyum manis. Ah, memang selalu begitu. Wajah tenangnya tak pernah luput dari senyum. Air mataku mereda. Emosiku kembali cukup stabil untuk Rosa tinggalkan kembali ke kamarnya. Sebelum pergi ia memberiku sebuah buku bersampul angsa dengan latar belakang danau dan langit biru. Rosa menyalamiku, memelukku. Mengingatkan agar jangan lupa membaca buku pemberiannya. Buku berjudul Kutinggalkan Dia Demi Dia itu perlahan kubuka. Aku membacanya halaman demi halaman sambil berurai air mata.
            Malam itu dalam keremangan aku bersujud diatas sajadah yang lama tak tersentuh rindu. Sekali lagi aku meraung meski kali ini hanya dalam diam. Aku memohon ampun atas segala kekhilafanku. Aku mengemis cintanya. Berharap masih tersisa untuk seburuk-buruk manusia sepertiku. Oh, Allah, ampuni aku. Aku bahagia Kau telah mengirimku kejadian ini. Aku bahagia Kau masih berkenan memelukku. Aku terharu Kau masih merindukanku. Aku... Aku bersykur. Aku bahagia. Aku berterimakasih atas segalanya.
            “Nadya, what happen, Dear?”
            Wajah Nurma sempurna di depan mataku. Aku segera mengusap beberapa bulir bening yang berjatuhan tanpa sadar.
            “Are you cry? Why, Dear?” Nurma tampak khawatir. Ia merengkuh pundakku.
            “I’am okay, Nurma.” Aku berusaha mengibaskan kekhawatrian Nurma. Namun ternyata suaraku justru serak. Menambahnya bingung.
            “Ceritakan masalahmu padaku, Nadya. Tidak apa-apa.”
            Aku menggeleng pelan, tersenyum. “Aku baru saja menyelesaikannya.”
            Kening Nurma berkerut-kerut. Aku merangkulnya, berusaha meyakinkan semua sudah baik-baik saja. Nurma akhirnya mengalah, membiarkanku mengatasi_ apapun itu, dengan caraku sendiri.
            Angin sore masih saja berhembus pelan, beriringan mesra dengan dedaunan kering. Waktu belum beranjak jauh sejak kenangan-kenangan itu berputar cepat di kepalaku. Dani berjalan semakin dekat dengan kerumunan kami. Tentu saja dia akan kesini. Disinilah teman-teman sekelasnya dulu berkumpul.
            “Oh! Dani!” Reyhan memeluknya erat sembari menepuk-nepuk punggungnya. “Sudah lama sekali! Bagaimana kabarmu?”
            “Baik.” Dani menjawab singkat. Senyumnya mengembang semakin lebar. Menyalami satu-persatu teman-teman. Sedikit berbicara tentang masa lalu kepada masing-masing yang disalaminya. Hingga akhirnya Dani terdiam, membiarkan tangannya mengambang di udara saat hendak menyalamiku.
            “Maaf.” Aku tersenyum. Mengatupkan kedua telapak tangan di depan wajah. Dalam Islam peraturan itu jelas, laki-laki dan perempuan bukan muhrim dilarang bersentuhan kulit secara langsung.
            Dani menurunkan tangannya perlahan. Senyumnya kembali merekah meski terlihat agak canggung.  “Maafkan aku, juga.”
            Semua orang tau ada nada lain dalam kalimat Dani barusan. Ini terbukti ketika wajah-wajah menoleh saat kalimat itu terucap. Aku mengangguk pelan. Sungguh, aku telah memaafkan segala kesalahannya di masa lalu. Bagaimana Tuhan bisa memaafkanku jika aku tidak memaafkan orang lain.
            Perkara ganjil itu hanya berlangsung beberapa detik kemudian semuanya kembali normal. Perkakas makanan kembali berdenting. Tawa riang penuh kerinduan kembali mengudara. Atmosfer ruangan dipenuhi nostalgia bahagia. Cerita-cerita lucu masa sekolah dasar memenuhi memori-memori usang di kepala kami.
            Sesekali aku melirik kearah Dani berdiri dan tertawa. Segalanya telah terjawab. Kali ini aku benar-benar sudah bisa mengendalikan diri. Mengendalikan segala inderaku. Mengendalikan gemuruh dalam dadaku supaya tak terlihat siapapun. Hanya Dia, pemilik cinta sejati seluruh makhluk bumi dan alam semesta. Hanya Dia yang tahu bahwa rasa cintaku kepada Dani tak pernah mati.
            Ini kehendakMu, cinta ini milikMu. Aku hanya akan menjaganya tetap terlindung dalam Iman. Sampai waktunya tiba kelak. Sampai aku tahu apakah pada akhirnya bisa bersamanya dalam ikatan halal nan suci. Atau harus ikhlas membiarkannya pergi membawa daun-daun kering dalam hati.

***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar