Langit
siang terang benderang oleh sinar surya. Debu-debu kering berterbangan diantara
gersangnya pepohonan. Udara panas membakar kulit. Beberapa orang tak
berkepentingan tentu lebih memlilih berdiam diri di dalam rumah mereka yang
dingin. Bersantai, menikmati cemilan, atau tidur di balik selimut tipis. Mereka
sama sekali tidak menyadari, lebih tepatnya tidak mau mengakui bahwa udara
panas di luar sana mereka jugalah penyebabnya. Sementara beberapa orang di sisi
kehidupan yang lain harus banting tulang mencari nafkah. Membujuk tubuh agar
bersahabat dengan keringat. Berjuang di bawah terik matahari yang kian
menjadi-jadi. Demi sebakul nasi dan sambal terasi untuk makan anak istri.
Aku berjalan cepat melintasi trotoar
yang kanan kirinya dirindangi oleh pohon berdaun lebat. Sedikit mengurangi
panasnya udara yang mendidih. Berbagai makanan dijajakan di sepanjang trotoar.
Sebagian pencari nafkah sibuk menerima rezeki.
Sebagian yang lain hanya diam termangu menunggu pelanggan. Dua orang
gadis seumuranku berdiri gelisah di dekat salah satu batang pohon. Sepertinya
mereka kepanasan dengan baju ketat dan celana pendek itu. Mereka sibuk mengipas
diri mereka sendiri sambil menggerutu panjang-pendek. Aku melintas begitu saja
seolah tak peduli. Namun sekilas aku bisa mendengar dengan jelas mereka
menggumam heran. Apa nggak panas
siang-siang gini pake jubah dan kerudung panjang? Atau dia pindahan dari Mesir
kali, ya. Disana, kan, panas banget. Indonesia, sih, bukan apa-apa.
Semilir angin menerpa
wajah. Masuk melalui celah-celah jilbab, mendinginkan tubuhku, hatiku. Aku
tersenyum simpul. Ini adalah angin iman yang mereka tidak pernah tau. Memang
secara logika pakaian tebal dan panjang ini akan menjadikan seseorang yang
mengenakannya kepanasan. Tapi bukankah cinta itu ada di luar logika? Begitupun,
cintaku kepada Tuhan membuat segalanya berjalan di luar logika.
Gedung serbaguna kota berdiri kokoh
di ujung jalan. Aku bergegas pergi sambil melongok jam tangan. Seharusnya aku
sampai lima menit yang lalu. Acara halal-bihalal sekaligus reuni. Sudah lebih
dari delapan tahun kami tidak saling bertemu. Beberapa teman mungkin masih
sempat bersama di bangku SMP, SMA atau bahkan Universitas. Tapi aku sama sekali
tidak pernah bertemu mereka lagi sejak delapan tahun terakhir, kecuali salah seorang
teman lama.
“Nadya! Oh, lihat! Itu Nadya!”
Seseorang berseru heboh tepat ketika
aku tiba di depan pintu. Sudah banyak sekali tamu undangan yang datang. Tentu
saja, aku terlambat hampir sepuluh menit.
Aku
yakin wajah cantik dihadapanku itu Nurma. Dia memelukku tanpa ampun, mencium
pipi kanan dan kiri berulang-ulang. Nurma, dia teman satu bangku di sekolah
dasar dulu. Setelah lulus kami masih sering berkomunikasi meskipun hanya lewat
media elektronik. Nurma sedang menjalankan kuliahnya di luar negeri. Dia sering
sekali bilang ingin bertemu denganku, ingin menciumku. Saat itu aku hanya
tertawa dan mengiyakan. Tidak menyangka Nurma akan benar-benar menciumiku
seperti sekarang.
“Nadya, Dear? Kau hanya diam saja?
Kau tidak rindu aku?” Nurma mengerutkan kening setelah selesai dengan segala
kerinduannya.
Aku membuang nafas sesak kemudian
tersenyum. “Tentu saja aku sangat merindukanmu, Nurma.” Aku ganti memeluk Nurma
lembut. Seharusnya seperti inilah kerinduan. Tenang, halus, menghangatkan.
“Assalamu’alaikum” lirihku.
“Wa’alikumsalamwarahmatullah...”
Nurma melepaskan pelukan kami, tersenyum kearahku dengan mata berbinar-binar
entah oleh apa. “Kau benar-benar sudah berubah, Nadya. Amazing! Oh, God. I love
you, Nadya!” Nurma memelukku, sekali lagi.
Kami berjalan beriringan setelah semua
drama penuh rindu itu usai. Nurma mengingatkanku kepada beberapa wajah yang
telah terlupakan. Kami bertemu banyak orang dari masa lalu. Bercerita tentang
masa lalu, bernostalgia, melepas rindu. Tawa bahagia memenuhi ruangan.
Denting-denting gelas dan perkakas makanan lainnya seolah menyempurnakan
suasana. Kami larut dalam cerita. Sesekali menertawakan kekonyolan kami
sendiri. Hari ini hati kami penuh oleh buncahan kebahagiaan. Aku tersenyum,
bersyukur.
Matahari
di luar sana perlahan beranjak menurunkan intensitas cahayanya yang otomatis
menurunkan suhu udara. Angin sore mulai berhembus menerbangkan daun-daun
kering. Seseorang menyeruak keramaian. Persis seperti angin sore membelah
setumpuk daun kering tak bernyawa.
Aku
terbeliak. Darahku berdesir cepat dan aku tau apa yang terjadi pada jantungku.
Tenanglah! Paksaku padanya. Aku harus mengontrol seluruh inderaku sekuat
tenaga. Sayangnya, setelah sekian lama segalanya masih saja sama. Mereka susah
sekali dikendalikan jika sudah melihat sosok itu. Sesosok pria bertubuh
jangkung dengan kulit sawo matang. Matanya tajam bagai elang. Garis wajahnya
tegas. Dan senyumnya. Oh, dia tersenyum pada setiap orang di ruangan ini.
Diam-diam aku bersembunyi di balik punggung Nurma. Aku tidak ingin melihat
senyumnya lagi. Senyuman yang pernah ada hanya untukku. Senyuman yang pada
akhirnya justru menikamku begitu pedih.
“Kita
sudah sebelas tahun! Kenapa kau tega?!” Aku meraung memecah malam. Membangunkan
hewan-hewan kecil di balik rerumputan.
“Maafkan
aku. Aku tidak_”
“Stop!
Stop!” Aku tidak tahan lagi. “Kita cukup! Stop!”
“Tapi,
Nadya, aku_”
“Kau
ingat ini sudah keberapa kalinya, hah?!” Aku menjerit. Hatiku serasa teriris
sembilu bergerigi. Air mataku tidak sedikitpun berhenti. Dadaku sesak. “Aku...
Aku sudah berusaha, berusaha menerimamu, bagaimanapun itu.”
Dani
memandangku lekat. Mata elangnya terlihat berkaca-kaca penuh penyesalan. Tapi
memang itu yang ia lakukan setiap melihatku menangis. Dan itu sudah
berulangkali terjadi.
“Aku
bisa memaafkanmu... Tapi sekarang...” Aku menggeleng pelan. Pipiku kebas oleh
air mata. Fakta bahwa kekasihku justru bermain api dengan sahabatku sendiri
membuat dunia seolah terbalik. Segalanya gelap. Tidak ada lagi yang bisa
kupercaya.
Saat
itu aku benar-benar tidak bisa berbuat apapun. Orang-orang terdekatku justru
berkhianat. Dan aku tidak mungkin menceritakan masalah ini pada papa dan mama.
Mereka akan akhawatir sementara aku di perantauan. Dan lagi, mereka memang
tidak merestui hubungan ini sejak awal. Sejak aku membicarakannya secara
terbuka setelah sepuluh tahun berjalan. Mereka justru memintaku berpisah dengan
Dani. Tapi aku bersikukuh, atas nama cinta. Oh, cinta seperti apa sebenarnya
yang justru sangat menyakitkan?
“Sudahlah,
Nadya...” Teman sebelah kamar kostku berucap lembut. “Seharusnya kau bersyukur,
Tuhan telah menunjukkan betapa buruknya dia.”
“Tuhan
yang menumbuhkan rasa cinta ini.” Aku terisak. “Tapi dia juga yang
menghancurkannya. Kenapa?! Kenapa Tuhan tega mempermainkan hidupku?!”
Rosa
memelukku yang mulai meronta. Melempar apa saja pada jangkauan tanganku. Rosa
begitu perhatian dan sabar. Gadis berkerudung itu setiap hari datang kemari.
Mendengarkan ceritaku, menenangkanku, berusaha menasihati. Rosa tak pernah
bosan meski ia tahu sebagian besar pertemuan kami berakhir sia-sia.
“Tuhan
memang menumbuhkan rasa cinta itu. Tapi Dia tidak pernah memerintah hambanya
berhubungan dengan lawan jenis sebelum terjalin ikatan yang sah.”
“Bagaimana?
Bagaimana bisa seperti itu?” Aku berkata lirih dalam pelukan Rosa. Lelah sudah
tubuh dan batin ini. Aku akhirnya menyerah, mendengarkan.
“Karena
cinta.” Rosa mengusap punggungku. “Karena cinta kepada Tuhan, seharusnya lebih
besar ketimbang cinta kepada makhluk. Nadya, kau tahu. Seandainya semua orang
menyadari, ada yang lebih pantas mereka cintai ketimbang pacar-pacar mereka.
Ada yang lebih mencintai mereka ketimbang pacar-pacar mereka. Ada yang lebih
merindukan mereka.”
Aku
hanya terisak, mendengarkan. Hatiku memanas entah oleh perasaan apa. Perasaan
aneh yang selama ini tak pernah ada. Aku seperti merasakan kerinduan seperti
yang Rosa ceritakan. Bibirku bergetar, air mata mengalir semakin deras.
“Tuhan
telah memberikan banyak hal kepada kita, Nadya. Tubuh ini, harta benda, bumi.
Bukankah semua itu dari Tuhan? Bukti nyata betapa cintanya sangatlah besar.”
“Tapi
kenapa Dia menyakiti hatiku?” pertanyaan itu meluncur begitu saja. Aku terdiam.
Rosa
mendorong kedua pundakku. Memaksaku menegakkan punggung. “Dia tidak menyakiti
hatimu.” Katanya. “Dia merindukanmu, Nadya. Dia ingin kau kembali kepadanya.
Kembali mencintainya. Dia cemburu padamu. Sudah berapa lama kau melupakannya?
Menduakan cintanya?”
Aku menelan ludah. Pertanyan Rosa
begitu menusuk hati. Benar-benar sudah lama sekali. Sejak papa dan mama
mengajakku sholat malam bersama. Kata mama segala doa yang dipanjatkan di malam
buta akan mudah didengar. Karena ketika itu dunia tidak berisik, semua orang
tidur. Hanya ada kita dan Tuhan.
“Cobalah, Nadya. Kau tanyakan kepada
Tuhan. Tanyakan kenapa Dia melakukan semua ini. Aku yakin, kau akan merasakan
betapa Tuhan merindukanmu.”
Rosa tersenyum manis. Ah, memang
selalu begitu. Wajah tenangnya tak pernah luput dari senyum. Air mataku mereda.
Emosiku kembali cukup stabil untuk Rosa tinggalkan kembali ke kamarnya. Sebelum
pergi ia memberiku sebuah buku bersampul angsa dengan latar belakang danau dan
langit biru. Rosa menyalamiku, memelukku. Mengingatkan agar jangan lupa membaca
buku pemberiannya. Buku berjudul Kutinggalkan
Dia Demi Dia itu perlahan kubuka. Aku membacanya halaman demi halaman
sambil berurai air mata.
Malam itu dalam keremangan aku
bersujud diatas sajadah yang lama tak tersentuh rindu. Sekali lagi aku meraung
meski kali ini hanya dalam diam. Aku memohon ampun atas segala kekhilafanku.
Aku mengemis cintanya. Berharap masih tersisa untuk seburuk-buruk manusia
sepertiku. Oh, Allah, ampuni aku. Aku bahagia Kau telah mengirimku kejadian
ini. Aku bahagia Kau masih berkenan memelukku. Aku terharu Kau masih
merindukanku. Aku... Aku bersykur. Aku bahagia. Aku berterimakasih atas
segalanya.
“Nadya, what happen, Dear?”
Wajah Nurma sempurna di depan
mataku. Aku segera mengusap beberapa bulir bening yang berjatuhan tanpa sadar.
“Are you cry? Why, Dear?” Nurma
tampak khawatir. Ia merengkuh pundakku.
“I’am okay, Nurma.” Aku berusaha
mengibaskan kekhawatrian Nurma. Namun ternyata suaraku justru serak.
Menambahnya bingung.
“Ceritakan masalahmu padaku, Nadya.
Tidak apa-apa.”
Aku menggeleng pelan, tersenyum.
“Aku baru saja menyelesaikannya.”
Kening Nurma berkerut-kerut. Aku
merangkulnya, berusaha meyakinkan semua sudah baik-baik saja. Nurma akhirnya
mengalah, membiarkanku mengatasi_ apapun itu, dengan caraku sendiri.
Angin sore masih saja berhembus
pelan, beriringan mesra dengan dedaunan kering. Waktu belum beranjak jauh sejak
kenangan-kenangan itu berputar cepat di kepalaku. Dani berjalan semakin dekat
dengan kerumunan kami. Tentu saja dia akan kesini. Disinilah teman-teman
sekelasnya dulu berkumpul.
“Oh! Dani!” Reyhan memeluknya erat
sembari menepuk-nepuk punggungnya. “Sudah lama sekali! Bagaimana kabarmu?”
“Baik.” Dani menjawab singkat.
Senyumnya mengembang semakin lebar. Menyalami satu-persatu teman-teman. Sedikit
berbicara tentang masa lalu kepada masing-masing yang disalaminya. Hingga
akhirnya Dani terdiam, membiarkan tangannya mengambang di udara saat hendak
menyalamiku.
“Maaf.” Aku tersenyum. Mengatupkan
kedua telapak tangan di depan wajah. Dalam Islam peraturan itu jelas, laki-laki
dan perempuan bukan muhrim dilarang bersentuhan kulit secara langsung.
Dani menurunkan tangannya perlahan.
Senyumnya kembali merekah meski terlihat agak canggung. “Maafkan aku, juga.”
Semua orang tau ada nada lain dalam
kalimat Dani barusan. Ini terbukti ketika wajah-wajah menoleh saat kalimat itu
terucap. Aku mengangguk pelan. Sungguh, aku telah memaafkan segala kesalahannya
di masa lalu. Bagaimana Tuhan bisa memaafkanku jika aku tidak memaafkan orang
lain.
Perkara ganjil itu hanya berlangsung
beberapa detik kemudian semuanya kembali normal. Perkakas makanan kembali
berdenting. Tawa riang penuh kerinduan kembali mengudara. Atmosfer ruangan
dipenuhi nostalgia bahagia. Cerita-cerita lucu masa sekolah dasar memenuhi
memori-memori usang di kepala kami.
Sesekali aku melirik kearah Dani
berdiri dan tertawa. Segalanya telah terjawab. Kali ini aku benar-benar sudah
bisa mengendalikan diri. Mengendalikan segala inderaku. Mengendalikan gemuruh
dalam dadaku supaya tak terlihat siapapun. Hanya Dia, pemilik cinta sejati
seluruh makhluk bumi dan alam semesta. Hanya Dia yang tahu bahwa rasa cintaku
kepada Dani tak pernah mati.
Ini kehendakMu, cinta ini milikMu.
Aku hanya akan menjaganya tetap terlindung dalam Iman. Sampai waktunya tiba
kelak. Sampai aku tahu apakah pada akhirnya bisa bersamanya dalam ikatan halal
nan suci. Atau harus ikhlas membiarkannya pergi membawa daun-daun kering dalam
hati.
***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar