Jumat, 11 November 2016

Remote TV

Burung camar melintas cakrawala. Temaram semburat merah pertanda sore telah menjelang malam. Adan maghrib sebentar lagi berkumandang, angin semilir mengugurkan dedaunan kering hingga berserakan memenuhi taman komplek perumahan di daerah Bandung. Taman itu sepi, hanya terlihat seorang anak perempuan duduk diatas ayunan sambil menatap terbenamnya matahari.
Seekor kupu-kupu putih terbang dan hinggap pada kuncup bunga mawar. Anak perempuan itu memperhatikan simbiosis mutualisme yang sedang terjadi. Dipandangnya bunga mawar merah yang sepertinya baru saja merekah. Mungkin mama sangat menyukai bunga mawar sampai memberiku nama Rosa, batinnya.

“Mama...” Rosa berkata pelan sekali. Sampai-sampai ia sendiri tidak yakin telah memanggil mamanya pada angin.
Air mata bening mengalir dari sudut mata Rosa rosa yang sembab. Hidungnya memerah dan bibirnya bergetar terisak-isak.
“Aku benci mama!” ucap Rosa disela tangisnya.
Rosa teringat kejadian beberapa jam yang lalu. Ketika ia baru saja pulang dari sekolah menengah pertamanya. Saat itu mama masih sibuk menyiapkan makan siang di dapur. Rosa segera menyalami mama lalu menghampiri adik perempuannya yang asyik di depan televisi.
“Camin, kakak nggak suka nonton kartun. Coba, deh, ganti channel” kata Rosa pada Yasmin adiknya.
“Camin suka kartun” sahut Yasmin. Wajahnya cemberut tiba-tiba. Selalu saja, saat Rosa pulang dari sekolah, maka Yasmin harus mengalah dalam hal apapun pada kakaknya.
“Kak Oca mau lihat film!” tegas Rosa sambil mendekati Yasmin. Secara reflek, Yasmin menyembunyikan remote tv yang dipegangnya ke balik punggung. Rosa yang melihat itu menjadi jengkel.
“Berikan remotnya pada kakak!”
“Ini remote Camin. Camin yang pegang pertama kali!” Yasmin tetap ngotot. Tangannya tersembunyi di balik punggung bersama remote tv. Mata Yasmin menatap Rosa tidak suka, mukanya memerah marah, matanya berkaca-kaca.
“Berikan pada kakak!” Rosa mempertegas lagi perintahnya. Dipegangnya kedua pundak Yasmin sembari berusaha merebut remote tv itu.
“Ini remote Yasmin!” teriak yasmin marah.
Rosa tidak mau kalah, “gantian, dong!”
Yasmin tetap mempertahankan miliknya sementara Rosa juga tetap berusaha. Sampai pada akhirnya tanpa sengaja Rosa menjambak rambut Yasmin. Adik Rosa yang masih berumur 5 tahun itu menjerit keras sekali. Remot di tangan Yasmin dilemparkan hingga membentur televisi. Kaca televisi retak, remote itu pecah menjadi tiga bagian.
“Apa yang kalian lakukan?!” tanya mama panik. Celemek biru masih menggantung di leher mama.
Yasmin melepaskan diri dari kakaknya, berlari memeluk mama sambil menangis terisak-isak dan menyebut-nyebut kejahatan kak Rosa.
“Kak Oca jahat! Rambut Camin ditarik!” adunya.
Mama langsung menatap Rosa dengan ekspresi tidak suka.
“Camin nggak mau berbagi remote, Ma!” Rosa membela diri.
“Sakit, Ma. Kak Oca jahat...” rengek Yasmin.
Mama mengusap kepala Yasmin beberapa kali. “Sudahlah, Yasmin sekarang tidur, ya, agar sakitnya cepat hilang” nasehat mama. Yasmin menurut. Sambil terus menangis, ia berjalan menuju kamarnya.
Mama beralih pada Rosa yang terduduk diam.
“Jangan berbuat kasar pada adikmu, Ros.”
“Yasmin egois! Aku juga ingin nonton tv, Ma!” Rosa menjawab dengan anda tinggi.
“Yasmin masih kecil. Seharusnya Rosa mengalah.”
“Mama selalu membela Yasmin!” Rosa berdiri sambil berurai air mata. “Yasmin Yasmin! Yasmin! Rosa ini anak pungut, ya, Ma?! Memang anak mama Cuma Yasmin!” teriak Rosa kemudian berlari keluar rumah. Sayup-sayup terdengar mama memanggilnya, namun Rosa tidak lagi perduli. Ia ingin pergi kemana saja, berniat mencari ibu lain yang benar-benar mencintainya.
Tangis Rosa semakin menjadi mengingat kejadian itu. Selalu saja, papa dan mama membela Yasmin apapun yang terjadi. Mereka tidak pernah mau melihat dengan benar siapa yang salah dan siapa yang benar. rosa benar-benar merasa dirinya bukan anak kandung papa dan mamanya sendiri.
Sore semakin larut, gelap merayap dalam dingin. Rosa berfikir apakah dirinya harus tidur di taman malam ini?
“Rosa, anakku sayang...”
Suara mama. Rosa berdiri dan menoleh cepat. Papa, mama, dan Yasmin sudah berdiri di belakangnya dengan senyum mengembang. Rasa marah dalam hati Rosa membuncah tiba-tiba, melihat Yasmin justru bahagia ia pergi dari rumah.
“Untuk apa mama kesini?!” bentak Rosa.
“Camin yang ajak papa dan mama” sahut Yasmin polos.
“Buat apa?!”
“Camin mau kasih ini buat kakak.” Yasmin menyodorkan remote tv yang sudah kembali utuh. “Kakak pulang, ya. nonton film sama Camin.”
Rosa terdiam, rasa hangat menyelinap dalam hatinya,
“Camin minta maaf” kata Yasmin lagi.
Rosa tetap diam membeku. Dilihatnya Yasmin yang masih menyodorkan remote tv. Papa dan mama tersenyum. Dengan gerakan lambat, Rosa menerima remote tv dari tangan Yasmin yang kecil.
“Maafkan mama juga, ya, Kak Rosa” ucap mama lembut.
Rosa mengangguk pelan, air matanya kembali mengalir pelan. Melihat kakaknya menangis, Yasmin memeluknya erat. Sepasang kakak beradik itu saling berpelukan di tengah taman komplek. Disaksikan kedua orangtua mereka yang saling tersenyum bahagia, keluarga itu kembali utuh.
“Sekarang, ayo kita pulang! Kak Rosa dan Yasmin mau nonton film, kan?” kata papa setelah kedua anaknya selesai melepas rindu.
Rosa dan Yasmin mengangguk. Bibir mereka tak lepas dari senyum. Keluarga kecil itu berjalan menuju rumah yang tidak begitu jauh dari taman.
Rosa merasakan hatinya menghangat, ada rasa cinta yang baru saja tumbuh setelah sempat mati dalam beberapa jam terakhir. Rasa cinta yang mungkin akan mati-hidup itu dipastikan tidak akan pernah benar-benar mati. Rasa cinta kepada papa, mama, Yasmin dan keluarganya yang kekal abadi.

Sementara kebahagiaan menyelimuti langkah keluarga kecil itu, tanpa sadar Rosa meninggalkan remote tv di atas ayunan taman. Remote tv yang tertinggal itu, bisa-bisa menjadi penyebab baru matinya rasa cinta antara Rosa dan Yasmin. Namun yakinlah, cinta itu akan bersemi kembali dengan sangat cepat. Secepat merekahnya bunga mawar dan melati di taman komplek perumahan daerah Bandung itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar