Burung
camar melintas cakrawala. Temaram semburat merah pertanda sore telah menjelang
malam. Adan maghrib sebentar lagi berkumandang, angin semilir mengugurkan
dedaunan kering hingga berserakan memenuhi taman komplek perumahan di daerah
Bandung. Taman itu sepi, hanya terlihat seorang anak perempuan duduk diatas
ayunan sambil menatap terbenamnya matahari.
Seekor
kupu-kupu putih terbang dan hinggap pada kuncup bunga mawar. Anak perempuan itu
memperhatikan simbiosis mutualisme yang sedang terjadi. Dipandangnya bunga
mawar merah yang sepertinya baru saja merekah. Mungkin mama sangat menyukai
bunga mawar sampai memberiku nama Rosa, batinnya.
“Mama...”
Rosa berkata pelan sekali. Sampai-sampai ia sendiri tidak yakin telah memanggil
mamanya pada angin.
Air
mata bening mengalir dari sudut mata Rosa rosa yang sembab. Hidungnya memerah
dan bibirnya bergetar terisak-isak.
“Aku
benci mama!” ucap Rosa disela tangisnya.
Rosa
teringat kejadian beberapa jam yang lalu. Ketika ia baru saja pulang dari
sekolah menengah pertamanya. Saat itu mama masih sibuk menyiapkan makan siang
di dapur. Rosa segera menyalami mama lalu menghampiri adik perempuannya yang
asyik di depan televisi.
“Camin,
kakak nggak suka nonton kartun. Coba, deh, ganti channel” kata Rosa pada Yasmin adiknya.
“Camin
suka kartun” sahut Yasmin. Wajahnya cemberut tiba-tiba. Selalu saja, saat Rosa
pulang dari sekolah, maka Yasmin harus mengalah dalam hal apapun pada kakaknya.
“Kak
Oca mau lihat film!” tegas Rosa sambil mendekati Yasmin. Secara reflek, Yasmin menyembunyikan remote tv
yang dipegangnya ke balik punggung. Rosa yang melihat itu menjadi jengkel.
“Berikan
remotnya pada kakak!”
“Ini
remote Camin. Camin yang pegang pertama kali!” Yasmin tetap ngotot. Tangannya
tersembunyi di balik punggung bersama remote tv. Mata Yasmin menatap Rosa tidak
suka, mukanya memerah marah, matanya berkaca-kaca.
“Berikan
pada kakak!” Rosa mempertegas lagi perintahnya. Dipegangnya kedua pundak Yasmin
sembari berusaha merebut remote tv itu.
“Ini
remote Yasmin!” teriak yasmin marah.
Rosa
tidak mau kalah, “gantian, dong!”
Yasmin
tetap mempertahankan miliknya sementara Rosa juga tetap berusaha. Sampai pada
akhirnya tanpa sengaja Rosa menjambak rambut Yasmin. Adik Rosa yang masih
berumur 5 tahun itu menjerit keras sekali. Remot di tangan Yasmin dilemparkan
hingga membentur televisi. Kaca televisi retak, remote itu pecah menjadi tiga
bagian.
“Apa
yang kalian lakukan?!” tanya mama panik. Celemek biru masih menggantung di
leher mama.
Yasmin
melepaskan diri dari kakaknya, berlari memeluk mama sambil menangis
terisak-isak dan menyebut-nyebut kejahatan kak Rosa.
“Kak
Oca jahat! Rambut Camin ditarik!” adunya.
Mama
langsung menatap Rosa dengan ekspresi tidak suka.
“Camin
nggak mau berbagi remote, Ma!” Rosa membela diri.
“Sakit,
Ma. Kak Oca jahat...” rengek Yasmin.
Mama
mengusap kepala Yasmin beberapa kali. “Sudahlah, Yasmin sekarang tidur, ya,
agar sakitnya cepat hilang” nasehat mama. Yasmin menurut. Sambil terus
menangis, ia berjalan menuju kamarnya.
Mama
beralih pada Rosa yang terduduk diam.
“Jangan
berbuat kasar pada adikmu, Ros.”
“Yasmin
egois! Aku juga ingin nonton tv, Ma!” Rosa menjawab dengan anda tinggi.
“Yasmin
masih kecil. Seharusnya Rosa mengalah.”
“Mama
selalu membela Yasmin!” Rosa berdiri sambil berurai air mata. “Yasmin Yasmin! Yasmin!
Rosa ini anak pungut, ya, Ma?! Memang anak mama Cuma Yasmin!” teriak Rosa
kemudian berlari keluar rumah. Sayup-sayup terdengar mama memanggilnya, namun
Rosa tidak lagi perduli. Ia ingin pergi kemana saja, berniat mencari ibu lain
yang benar-benar mencintainya.
Tangis
Rosa semakin menjadi mengingat kejadian itu. Selalu saja, papa dan mama membela
Yasmin apapun yang terjadi. Mereka tidak pernah mau melihat dengan benar siapa
yang salah dan siapa yang benar. rosa benar-benar merasa dirinya bukan anak kandung
papa dan mamanya sendiri.
Sore
semakin larut, gelap merayap dalam dingin. Rosa berfikir apakah dirinya harus
tidur di taman malam ini?
“Rosa,
anakku sayang...”
Suara
mama. Rosa berdiri dan menoleh cepat. Papa, mama, dan Yasmin sudah berdiri di
belakangnya dengan senyum mengembang. Rasa marah dalam hati Rosa membuncah
tiba-tiba, melihat Yasmin justru bahagia ia pergi dari rumah.
“Untuk
apa mama kesini?!” bentak Rosa.
“Camin
yang ajak papa dan mama” sahut Yasmin polos.
“Buat
apa?!”
“Camin
mau kasih ini buat kakak.” Yasmin menyodorkan remote tv yang sudah kembali
utuh. “Kakak pulang, ya. nonton film sama Camin.”
Rosa
terdiam, rasa hangat menyelinap dalam hatinya,
“Camin
minta maaf” kata Yasmin lagi.
Rosa
tetap diam membeku. Dilihatnya Yasmin yang masih menyodorkan remote tv. Papa
dan mama tersenyum. Dengan gerakan lambat, Rosa menerima remote tv dari tangan
Yasmin yang kecil.
“Maafkan
mama juga, ya, Kak Rosa” ucap mama lembut.
Rosa
mengangguk pelan, air matanya kembali mengalir pelan. Melihat kakaknya menangis,
Yasmin memeluknya erat. Sepasang kakak beradik itu saling berpelukan di tengah
taman komplek. Disaksikan kedua orangtua mereka yang saling tersenyum bahagia,
keluarga itu kembali utuh.
“Sekarang,
ayo kita pulang! Kak Rosa dan Yasmin mau nonton film, kan?” kata papa setelah
kedua anaknya selesai melepas rindu.
Rosa
dan Yasmin mengangguk. Bibir mereka tak lepas dari senyum. Keluarga kecil itu
berjalan menuju rumah yang tidak begitu jauh dari taman.
Rosa
merasakan hatinya menghangat, ada rasa cinta yang baru saja tumbuh setelah
sempat mati dalam beberapa jam terakhir. Rasa cinta yang mungkin akan
mati-hidup itu dipastikan tidak akan pernah benar-benar mati. Rasa cinta kepada
papa, mama, Yasmin dan keluarganya yang kekal abadi.
Sementara
kebahagiaan menyelimuti langkah keluarga kecil itu, tanpa sadar Rosa
meninggalkan remote tv di atas ayunan taman. Remote tv yang tertinggal itu,
bisa-bisa menjadi penyebab baru matinya rasa cinta antara Rosa dan Yasmin.
Namun yakinlah, cinta itu akan bersemi kembali dengan sangat cepat. Secepat
merekahnya bunga mawar dan melati di taman komplek perumahan daerah Bandung
itu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar