Siang beranjak begitu lambat. Aku
mengulurkan tali tampar panjang keluar dari jendela kamar. Kuikatkan tali itu
pada kaki almari. Kemudian aku keluar dari kamarku di lantai tiga dengan
merayap menggunakan tali tampar seperti ahli panjat tebing.
Tidak lama, aku sudah menapakkan
kaki di halaman rumah. Ketimbang terjatuh dari dinding, aku lebih takut jika
papa dan mama memergokiku. Kuperhatikan rumah bercat putih itu, tampak suram
karena semua pintu dan jendela tertutup rapat.
Seperti biasa, rumah terasa begitu
senyap sama persis seperti tanggal 14 pada bulan-bulan yang lalu. Kebiasaan
aneh keluarga kami. Papa dan mama melarangku keluar rumah setiap tanggal 14.
Aku tidak pernah tau alasan sebenarnya, papa dan mama tidak pernah mau
menjawab. Selama 17 tahun terakhir aku selalu menuruti peraturan itu, tapi ini
pesta Prom Night. Pesta paling dinanti seluruh murid SMA di dunia, aku harus
datang bagaimanapun caranya.
“Tiinnn!”
Suara klakson mobil berderu nyaring.
Sebuah mobil hitam berhenti, kaca mobil yan terbuka perlahan memperlihatkan
sesosok wajah yang begitu kukenal. Aldo, dia menjemputku sesuai jadwal janjian.
Aku melangkah mendekat, tersenyum kearah pacar tercintaku itu.
Namun sesuatu menghentikan
langkahku. Aku menoleh cepat kearah belakang, seperti ada yang mengawasi. Angin
dingin tiba-tiba menyapa tengkuk, aku merabanya pelan, bulu kudukku meremang
tanpa sebab. Sesuatu menggoyangkan dahan pohon agak keras, aku memperhatikannya.
Namun tak ada apapun selain angin lembut.
“Mareta?” tegur Aldo.
Aku menoleh cepat dan berusaha
tersenyum meski agak kaku.
“Berhasil kabur, tuan putri?” ledek
Aldo.
“Tentu saja. Demi Anda, pangeran”
balasku ringan.
Aldo tersenyum dan mengisyaratkan
agar aku segera masuk mobil. Aku menurut, takut-takut papa dan mama muncul
tiba-tiba. Kami melesat cepat menuju salon untuk mempersiapkan diri menghadiri
pesta yang akan dimulai kurang dari empat jam lagi.
Langit kelabu menyelimuti bumi.
Jalanan ramai oleh lalu-lalang kendaraan para pekerja yang baru saja pulang
setelah lembur. Alunan musik jazz melantun
lembut memenuhi seluruh ruangan, terbebas dari segala kesibukan dunia
luar. Lampu kelap-kelip dan dekorasi
ruangan yang didominasi oleh warna merah dan silver menambah mewah suasana
pesta Prom Night malam itu.
“Ini pertama kalinya aku melihatmu
di tanggal 14.” Sinta yang sedari tadi duduk disebelahku membuka topik
pembicaraan.
Aku tersenyum bangga. “Ini demi Prom
Night” jawabku.
“Tentu saja” sahut Sinta sambil
tertawa. “Ini pesta paling penting selama kau jadi murid SMA.”
Aku mengangguk setuju. Kemudian
melihat sekeliling yang tampak sibuk dan menyenangkan. Mereka semua saling
bercengkrama akrab sambil tertawa-tawa. Aku menghela nafas dalam, teringat papa
dan mama di rumah. Hukuman apa yang akan mereka timpakan padaku nanti?
Setelah
puas memperhatikan setiap sudut ruangan, pandanganku tertuju pada pintu masuk
pesta. Di ambang pintu berdiri seorang bocah kecil berpakaian kumuh. Aku mengerutkan
kening heran, namun bocah itu justru tertawa cekikikan sambil menudingku.
Tidak, dia tidak menudingku melainkan sesuatu di belakangku. Aku menoleh cepat.
Sesosok wajah menyeramkan telah berdiri beberapa meter dariku. Aku menjerit
keras, namun seperti tidak mendengar, semua orang tetap asyik tanpa sedikitpun
terusik.
Ruangan yang tadinya dipenuhi
teman-teman yang bergembira ria, kini bertambah penuh dengan sosok wanita dan
bocah-bocah menakutkan. Mereka mengenakan daster-daster putih lusuh dengan rambut
panjang berantakan. Tawa mereka terlihat begitu lepas. Memperlihatkan deretan
gigi putih-hitam penuh air liur. Semua mata merah menakutkan itu tertuju
padaku, mereka tertawa padaku.
Aku berusaha meminta bantuan, namun
tak ada yang mendengar. Seperti ada dimensi lain yang memisahkanku dengan
teman-teman. Oh, Tuhan! Apa ini? Semakin lama hantu-hantu itu semakin
mendekatiku. Bahkan ada beberapa yang mulai menyentuhku seperti mainan baru.
Mereka tertawa girang penuh ambisi. Sekujur tubuhku melemas, tidak ada lagi
yang bisa kulakukan saat seorang bocah perempuan menggigit ibu jariku sampai
putus. Kemudian wanita berambut gimbal menarik rambutku keras sekali. Aku menjerit
kesakitan, merasa diperlakukan seperti makanan. Sementara semua orang dalam
pesta tidak melihat apa yang menimpaku saat ini.
“Mareta!!”
Itu suara papa, aku yakin. Tapi aku
tidak bisa memastikan dimana papa berada dan apakah itu benar-benar papa.
Lagi-lagi seorang bocah perempuan menaiki pundakku dan mencengkeram wajahku
erat. Kuku-kuku panjangya menimbulkan luka yang teramat perih.
“Pergi kalian! Dia bagian dari
kalian! Bukan makanan!” seru papa.
Jantungku berdegup dua kali lebih
cepat. Aku bagian dari mereka?
“Dia masih keturunan bangsa kalian!”
Sayup-sayup kudengar papa berbicara banyak
hal yang tidak aku mengerti. Kemudian kudengar juga suara mama yang lembut.
Setelah beberapa saat, bocah perempuan itu melepaskan cengkraman kukunya dari
wajahku secara perlahan. Aku mulai bisa melihat sekeliling meski semuanya masih
tampak kabur. Hantu-hantu itu telah berkurang. Bocah perempuan yang tadi
melahap ibu jariku, memuntahkannya tepat di depan mataku. Perutku melilit jijik
melihatnya. Hilang sudah rasa sakit di sekujur tubuhku, berganti dengan
kebingungan yang amat sangat.
Papa dan mama berdiri tidak jauh.
Mereka saling bergandengan dan menatapku kecewa. Air mataku mengalir penuh
permohonan maaf.
“Jangan lakukan ini lagi” seloroh
mama lembut.
Aku mengangguk pelan. Mama melangkah
kearahku, diikuti papa.
“Kami melakukan ini karena kami mencintaimu,
Mareta” kata papa.
“Aku butuh penjelasan” ujarku sambil
terisak.
“Lebih baik sekarang kita pulang.
Papa akan menjelaskan semuanya.”
Aku setuju. Tubuh dan pakaianku yang
berantakan memintaku pasrah pada perkataan mereka. Mama menarik perlahan tangan
kiriku yang kini cacat tanpa ibu jari. Kemudian mengusap lembut wajahku yang
penuh luka.
Beberapa saat kami terdiam di tengah
pesta. Sementara teman-teman yang lain sama sekali tidak menyadari apa yang
telah terjadi. Hantu-hantu itu telah lenyap entah kemana. Namun tiba-tiba
kulihat mama tertawa cekikikan sambil mencengkram kedua pundakku. Aku hampir
pingsan melihat deretan gigi mama yang tiba-tiba menghitam dan rambutnya yang
berubah gimbal.
“Jangan lakukan itu, Ma!” teriak
papa.
Entah bagaimana, tiba-tiba aku
merasa seluruh kekuatanku kembali. Aku merasa kembali bugar dalam sekajab. Rasa
perih pada wajah meghilang begitu saja. Mama melepaskan cengkramannya perlahan
lalu berjalan mundur.
“Aku tidak mau Mareta hidup dalam
keadaan cacat” kata mama dengan nada suara melengking tinggi. Wajah mama
berubah penuh lecet dan luka segar. Aku sempat melihat ibu jari tangan kirinya
tidak ada.
Oh, mama! Aku mengangkat tangan kiriku
cepat, sudah kembali seperti semula. Jari-jariku terpasang lengkap disana,
tidak ada sedikitpun luka. Seolah mama telah mengambil semuanya. Menukar
fisikku yang penuh luka dengan fisiknya yang sehat.
“Apa yang mama lakukan?!” Aku
berteriak histeris menyadari apa yang terjadi. Air mataku mengalir cepat.
“Hiduplah sebagai manusia bersama
papa. Jauhi tanggal 14!”
Setelah
berucap demikian, mama tertawa cekikikan seperti melihat sesuatu yang lucu.
Setelah itu kulihat dengan jelas mama merayap pada dinding seperti seekor cicak
dan pergi keluar ruangan. Meninggalkanku yang terpaku dalam diam. Ini diluar
akal sehat.
Papa menarik nafas dalam dan
panjang. Kami saling berdiam satu sama lain dalam beberapa menit.
“Mari kita pulang.”
Papa menuntunku keluar ruangan. Kami
berjalan menuju mobil yang terparkir sembarangan di pinggir jalan.
“Jangan pernah lagi keluar pada
tanggal 14. Atau kau akan menjadi makanan para kuntilanak itu, termasuk menjadi
makanan mamamu.”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar