Rabu, 23 November 2016

Fourteen

           
 Pagi ini kalender dunia menunjukkan tepat tanggal 14 Oktober.
            Siang beranjak begitu lambat. Aku mengulurkan tali tampar panjang keluar dari jendela kamar. Kuikatkan tali itu pada kaki almari. Kemudian aku keluar dari kamarku di lantai tiga dengan merayap menggunakan tali tampar seperti ahli panjat tebing.

            Tidak lama, aku sudah menapakkan kaki di halaman rumah. Ketimbang terjatuh dari dinding, aku lebih takut jika papa dan mama memergokiku. Kuperhatikan rumah bercat putih itu, tampak suram karena semua pintu dan jendela tertutup rapat.
            Seperti biasa, rumah terasa begitu senyap sama persis seperti tanggal 14 pada bulan-bulan yang lalu. Kebiasaan aneh keluarga kami. Papa dan mama melarangku keluar rumah setiap tanggal 14. Aku tidak pernah tau alasan sebenarnya, papa dan mama tidak pernah mau menjawab. Selama 17 tahun terakhir aku selalu menuruti peraturan itu, tapi ini pesta Prom Night. Pesta paling dinanti seluruh murid SMA di dunia, aku harus datang bagaimanapun caranya.
            “Tiinnn!”
            Suara klakson mobil berderu nyaring. Sebuah mobil hitam berhenti, kaca mobil yan terbuka perlahan memperlihatkan sesosok wajah yang begitu kukenal. Aldo, dia menjemputku sesuai jadwal janjian. Aku melangkah mendekat, tersenyum kearah pacar tercintaku itu.
            Namun sesuatu menghentikan langkahku. Aku menoleh cepat kearah belakang, seperti ada yang mengawasi. Angin dingin tiba-tiba menyapa tengkuk, aku merabanya pelan, bulu kudukku meremang tanpa sebab. Sesuatu menggoyangkan dahan pohon agak keras, aku memperhatikannya. Namun tak ada apapun selain angin lembut.
            “Mareta?” tegur Aldo.
            Aku menoleh cepat dan berusaha tersenyum meski agak kaku.
            “Berhasil kabur, tuan putri?” ledek Aldo.
            “Tentu saja. Demi Anda, pangeran” balasku ringan.
            Aldo tersenyum dan mengisyaratkan agar aku segera masuk mobil. Aku menurut, takut-takut papa dan mama muncul tiba-tiba. Kami melesat cepat menuju salon untuk mempersiapkan diri menghadiri pesta yang akan dimulai kurang dari empat jam lagi.
            Langit kelabu menyelimuti bumi. Jalanan ramai oleh lalu-lalang kendaraan para pekerja yang baru saja pulang setelah lembur. Alunan musik jazz melantun lembut memenuhi seluruh ruangan, terbebas dari segala kesibukan dunia luar.  Lampu kelap-kelip dan dekorasi ruangan yang didominasi oleh warna merah dan silver menambah mewah suasana pesta Prom Night malam itu.
            “Ini pertama kalinya aku melihatmu di tanggal 14.” Sinta yang sedari tadi duduk disebelahku membuka topik pembicaraan.
            Aku tersenyum bangga. “Ini demi Prom Night” jawabku.
            “Tentu saja” sahut Sinta sambil tertawa. “Ini pesta paling penting selama kau jadi murid SMA.”
            Aku mengangguk setuju. Kemudian melihat sekeliling yang tampak sibuk dan menyenangkan. Mereka semua saling bercengkrama akrab sambil tertawa-tawa. Aku menghela nafas dalam, teringat papa dan mama di rumah. Hukuman apa yang akan mereka timpakan padaku nanti?
Setelah puas memperhatikan setiap sudut ruangan, pandanganku tertuju pada pintu masuk pesta. Di ambang pintu berdiri seorang bocah kecil berpakaian kumuh. Aku mengerutkan kening heran, namun bocah itu justru tertawa cekikikan sambil menudingku. Tidak, dia tidak menudingku melainkan sesuatu di belakangku. Aku menoleh cepat. Sesosok wajah menyeramkan telah berdiri beberapa meter dariku. Aku menjerit keras, namun seperti tidak mendengar, semua orang tetap asyik tanpa sedikitpun terusik.
            Ruangan yang tadinya dipenuhi teman-teman yang bergembira ria, kini bertambah penuh dengan sosok wanita dan bocah-bocah menakutkan. Mereka mengenakan daster-daster putih lusuh dengan rambut panjang berantakan. Tawa mereka terlihat begitu lepas. Memperlihatkan deretan gigi putih-hitam penuh air liur. Semua mata merah menakutkan itu tertuju padaku, mereka tertawa padaku.
            Aku berusaha meminta bantuan, namun tak ada yang mendengar. Seperti ada dimensi lain yang memisahkanku dengan teman-teman. Oh, Tuhan! Apa ini? Semakin lama hantu-hantu itu semakin mendekatiku. Bahkan ada beberapa yang mulai menyentuhku seperti mainan baru. Mereka tertawa girang penuh ambisi. Sekujur tubuhku melemas, tidak ada lagi yang bisa kulakukan saat seorang bocah perempuan menggigit ibu jariku sampai putus. Kemudian wanita berambut gimbal menarik rambutku keras sekali. Aku menjerit kesakitan, merasa diperlakukan seperti makanan. Sementara semua orang dalam pesta tidak melihat apa yang menimpaku saat ini.
            “Mareta!!”
            Itu suara papa, aku yakin. Tapi aku tidak bisa memastikan dimana papa berada dan apakah itu benar-benar papa. Lagi-lagi seorang bocah perempuan menaiki pundakku dan mencengkeram wajahku erat. Kuku-kuku panjangya menimbulkan luka yang teramat perih.
            “Pergi kalian! Dia bagian dari kalian! Bukan makanan!” seru papa.
            Jantungku berdegup dua kali lebih cepat. Aku bagian dari mereka?
            “Dia masih keturunan bangsa kalian!”
            Sayup-sayup kudengar papa berbicara banyak hal yang tidak aku mengerti. Kemudian kudengar juga suara mama yang lembut. Setelah beberapa saat, bocah perempuan itu melepaskan cengkraman kukunya dari wajahku secara perlahan. Aku mulai bisa melihat sekeliling meski semuanya masih tampak kabur. Hantu-hantu itu telah berkurang. Bocah perempuan yang tadi melahap ibu jariku, memuntahkannya tepat di depan mataku. Perutku melilit jijik melihatnya. Hilang sudah rasa sakit di sekujur tubuhku, berganti dengan kebingungan yang amat sangat.
            Papa dan mama berdiri tidak jauh. Mereka saling bergandengan dan menatapku kecewa. Air mataku mengalir penuh permohonan maaf.
            “Jangan lakukan ini lagi” seloroh mama lembut.
            Aku mengangguk pelan. Mama melangkah kearahku, diikuti papa.
            “Kami melakukan ini karena kami mencintaimu, Mareta” kata papa.
            “Aku butuh penjelasan” ujarku sambil terisak.
            “Lebih baik sekarang kita pulang. Papa akan menjelaskan semuanya.”
            Aku setuju. Tubuh dan pakaianku yang berantakan memintaku pasrah pada perkataan mereka. Mama menarik perlahan tangan kiriku yang kini cacat tanpa ibu jari. Kemudian mengusap lembut wajahku yang penuh luka.
            Beberapa saat kami terdiam di tengah pesta. Sementara teman-teman yang lain sama sekali tidak menyadari apa yang telah terjadi. Hantu-hantu itu telah lenyap entah kemana. Namun tiba-tiba kulihat mama tertawa cekikikan sambil mencengkram kedua pundakku. Aku hampir pingsan melihat deretan gigi mama yang tiba-tiba menghitam dan rambutnya yang berubah gimbal.
            “Jangan lakukan itu, Ma!” teriak papa.
            Entah bagaimana, tiba-tiba aku merasa seluruh kekuatanku kembali. Aku merasa kembali bugar dalam sekajab. Rasa perih pada wajah meghilang begitu saja. Mama melepaskan cengkramannya perlahan lalu berjalan mundur.
            “Aku tidak mau Mareta hidup dalam keadaan cacat” kata mama dengan nada suara melengking tinggi. Wajah mama berubah penuh lecet dan luka segar. Aku sempat melihat ibu jari tangan kirinya tidak ada.
            Oh, mama! Aku mengangkat tangan kiriku cepat, sudah kembali seperti semula. Jari-jariku terpasang lengkap disana, tidak ada sedikitpun luka. Seolah mama telah mengambil semuanya. Menukar fisikku yang penuh luka dengan fisiknya yang sehat.
            “Apa yang mama lakukan?!” Aku berteriak histeris menyadari apa yang terjadi. Air mataku mengalir cepat.
            “Hiduplah sebagai manusia bersama papa. Jauhi tanggal 14!”
Setelah berucap demikian, mama tertawa cekikikan seperti melihat sesuatu yang lucu. Setelah itu kulihat dengan jelas mama merayap pada dinding seperti seekor cicak dan pergi keluar ruangan. Meninggalkanku yang terpaku dalam diam. Ini diluar akal sehat.
            Papa menarik nafas dalam dan panjang. Kami saling berdiam satu sama lain dalam beberapa menit.
            “Mari kita pulang.”
            Papa menuntunku keluar ruangan. Kami berjalan menuju mobil yang terparkir sembarangan di pinggir jalan.

            “Jangan pernah lagi keluar pada tanggal 14. Atau kau akan menjadi makanan para kuntilanak itu, termasuk menjadi makanan mamamu.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar