Siang beranjak begitu lambat. Aku
mengulurkan tali tampar panjang keluar dari jendela kamar. Kuikatkan tali itu
pada kaki almari. Kemudian aku keluar dari kamarku di lantai tiga dengan
merayap menggunakan tali tampar seperti ahli panjat tebing.
Rabu, 23 November 2016
Indonesia Butuh lebih dari Sekedar Cyberlaw
Peradaban dunia masa kini di cirikan dengan
fenomena kemajuan teknologi infromasi dan komunikasi yang berlangsung hampir di
semua bidang kehidupan. Fenomena tersebut mengubah model komunikasi
konvensional dengan melahirkan kenyataan di dunia maya (virtual reality)
yang dikenal dengan internet. Perkembangannya begitu pesat sebagai
kultur masyarakat modern sehingga membentuk dunia sendiri yakni dunia cyber
(cyberspace).
Senin, 14 November 2016
Daun-Daun Kering
Langit
siang terang benderang oleh sinar surya. Debu-debu kering berterbangan diantara
gersangnya pepohonan. Udara panas membakar kulit. Beberapa orang tak
berkepentingan tentu lebih memlilih berdiam diri di dalam rumah mereka yang
dingin. Bersantai, menikmati cemilan, atau tidur di balik selimut tipis. Mereka
sama sekali tidak menyadari, lebih tepatnya tidak mau mengakui bahwa udara
panas di luar sana mereka jugalah penyebabnya. Sementara beberapa orang di sisi
kehidupan yang lain harus banting tulang mencari nafkah. Membujuk tubuh agar
bersahabat dengan keringat. Berjuang di bawah terik matahari yang kian
menjadi-jadi. Demi sebakul nasi dan sambal terasi untuk makan anak istri.
Jumat, 11 November 2016
Remote TV
Burung
camar melintas cakrawala. Temaram semburat merah pertanda sore telah menjelang
malam. Adan maghrib sebentar lagi berkumandang, angin semilir mengugurkan
dedaunan kering hingga berserakan memenuhi taman komplek perumahan di daerah
Bandung. Taman itu sepi, hanya terlihat seorang anak perempuan duduk diatas
ayunan sambil menatap terbenamnya matahari.
Seekor
kupu-kupu putih terbang dan hinggap pada kuncup bunga mawar. Anak perempuan itu
memperhatikan simbiosis mutualisme yang sedang terjadi. Dipandangnya bunga
mawar merah yang sepertinya baru saja merekah. Mungkin mama sangat menyukai
bunga mawar sampai memberiku nama Rosa, batinnya.
Desa Milik Siapa ?
Jalanan
Desa Piyungan ramai oleh onggokan rumah yang seolah tak berpenghuni. Ramai
dalam diam, mungkin seperti itu. Seandainya rumah-rumah boleh berbicara, mereka
akan bercengkrama ria, berusaha mengusir hening desa. Kemana perginya seluruh
penduduk? Entahlah. Mungkin mereka masih sibuk memburuh di kantor-kantor
pencakar langit, membajak sawah milik orang lain, atau menjajakkan sayur di
pasar kepada sesama warga desa.
Langganan:
Komentar (Atom)



