Rabu, 23 November 2016

Fourteen

           
 Pagi ini kalender dunia menunjukkan tepat tanggal 14 Oktober.
            Siang beranjak begitu lambat. Aku mengulurkan tali tampar panjang keluar dari jendela kamar. Kuikatkan tali itu pada kaki almari. Kemudian aku keluar dari kamarku di lantai tiga dengan merayap menggunakan tali tampar seperti ahli panjat tebing.

Indonesia Butuh lebih dari Sekedar Cyberlaw

Peradaban dunia masa kini di cirikan dengan fenomena kemajuan teknologi infromasi dan komunikasi yang berlangsung hampir di semua bidang kehidupan. Fenomena tersebut mengubah model komunikasi konvensional dengan melahirkan kenyataan di dunia maya (virtual reality) yang dikenal dengan internet. Perkembangannya begitu pesat sebagai kultur masyarakat modern sehingga membentuk dunia sendiri yakni dunia cyber (cyberspace).

Senin, 14 November 2016

Daun-Daun Kering

Langit siang terang benderang oleh sinar surya. Debu-debu kering berterbangan diantara gersangnya pepohonan. Udara panas membakar kulit. Beberapa orang tak berkepentingan tentu lebih memlilih berdiam diri di dalam rumah mereka yang dingin. Bersantai, menikmati cemilan, atau tidur di balik selimut tipis. Mereka sama sekali tidak menyadari, lebih tepatnya tidak mau mengakui bahwa udara panas di luar sana mereka jugalah penyebabnya. Sementara beberapa orang di sisi kehidupan yang lain harus banting tulang mencari nafkah. Membujuk tubuh agar bersahabat dengan keringat. Berjuang di bawah terik matahari yang kian menjadi-jadi. Demi sebakul nasi dan sambal terasi untuk makan anak istri.

Jumat, 11 November 2016

Remote TV

Burung camar melintas cakrawala. Temaram semburat merah pertanda sore telah menjelang malam. Adan maghrib sebentar lagi berkumandang, angin semilir mengugurkan dedaunan kering hingga berserakan memenuhi taman komplek perumahan di daerah Bandung. Taman itu sepi, hanya terlihat seorang anak perempuan duduk diatas ayunan sambil menatap terbenamnya matahari.
Seekor kupu-kupu putih terbang dan hinggap pada kuncup bunga mawar. Anak perempuan itu memperhatikan simbiosis mutualisme yang sedang terjadi. Dipandangnya bunga mawar merah yang sepertinya baru saja merekah. Mungkin mama sangat menyukai bunga mawar sampai memberiku nama Rosa, batinnya.

Desa Milik Siapa ?


Jalanan Desa Piyungan ramai oleh onggokan rumah yang seolah tak berpenghuni. Ramai dalam diam, mungkin seperti itu. Seandainya rumah-rumah boleh berbicara, mereka akan bercengkrama ria, berusaha mengusir hening desa. Kemana perginya seluruh penduduk? Entahlah. Mungkin mereka masih sibuk memburuh di kantor-kantor pencakar langit, membajak sawah milik orang lain, atau menjajakkan sayur di pasar kepada sesama warga desa.