Aku adalah
arwah tak tenang. Bergentayangan di atas atap-atap rumah, melihat beribu
ketidakberesan, namun hanya bisa diam. Kenapa aku mati secepat ini? Aku
menyesal karena tidak memaksimalkan kesempatanku dalam hidup.
Jajaran bintang-gemintang, air,
tumbuhan, hewan dan seluruh makhluk bernyawa di dalam kosmos memiliki satu
keniscayaan yang sama dan pasti. Bagaimanapun kau hendak memungkirinya, ia akan
datang tanpa tawar. Seperti munculnya asap setelah menyalanya api, kematian
adalah perkara pasti. Tak peduli kau tahu kapan kematian datang, atau saat kau
tidak tahu kematian akan menjemput, kematian adalah hal absolut.
Satu hal lagi yang sangat dipastikan dalam kematian, seonggok rasa sakit tiada tara. Kau akan merasakan jantungmu dipaksa tidak bedetak, nafasmu tak bisa melewati jalan kerongkongan sebagaimana mestinya, kulitmu dipisahkan dari daging, kuku-kukumu tercerabut dari ujung jari, dan kau tidak bisa memohon bantuan siapapun. Bahkan, sekedar berteriak menyatakan rasa sakit yang luar biasapun, kau tak akan mampu. Tenggorokanmu tercekat, pita suaramu putus entah oleh apa.
Satu hal lagi yang sangat dipastikan dalam kematian, seonggok rasa sakit tiada tara. Kau akan merasakan jantungmu dipaksa tidak bedetak, nafasmu tak bisa melewati jalan kerongkongan sebagaimana mestinya, kulitmu dipisahkan dari daging, kuku-kukumu tercerabut dari ujung jari, dan kau tidak bisa memohon bantuan siapapun. Bahkan, sekedar berteriak menyatakan rasa sakit yang luar biasapun, kau tak akan mampu. Tenggorokanmu tercekat, pita suaramu putus entah oleh apa.
Aku telah merasakannya. Aku telah melewati masa-masa tersulit dalam fase hidup-mati yang telah ditentukan Tuhan. Bagaimana sebuah ruh dicabut paksa dari dalam raga yang dicintainya. Bagaimana sebuah ruh yang menyadari kehidupannya belum selesai, namun harus tetap tunduk kepada guratan kodrat roda kehidupan. Aku tak punya pilihan, bahkan jika aku berhak memilih, Tuhan tidak memberikan pilihan untuk tetap hidup di dalam raga yang sama.
"Raga itu sudah bukan milikmu, segeralah keluar!"
Gertak malaikat berjubah hitam, bermata hitam, dan bertombak hitam dengan ujung runcing mengkilat tajam.
Kala itu nyaliku ciut, melihatnya begitu menakutkan, aku tak punya banyak argumen untuk disampaikan demi mempertahankan kehidupanku sendiri. Detik itu akupun sadar, seluruh skill diplomasi dan lobbying yang kita miliki dalam hidup tidak berguna di depan kematian.
Maka dengan sukarela dan sakit tiada tara, kematian menarikku dari raga. Ia menceraikan kami dengan paksa. Sempat kudengar jeritan sakit dan jeritan kesedihan dari bagian-bagian tubuhku sendiri. Mata itu menangis sendu, lidah ingin berucap namun kelu, jari-jemari bergetar seolah ingin menggenggam nyawanya agar tidak pergi, setiap detail tubuhku memanggil dan aku tidak bisa berbuat apa-apa. Bahkan tidak ada lagi rasa sakit, karena hati juga tertinggal dalam raga. Logikaku tak berjalan, karena otak terbenam dalam kepala.
Aku melayang menjauh, melihat raga itu semakin kecil tak terjangkau pandangan. Burung-burung Gereja berkicau menyanyikan salam perpisahan. Daun mangga melambai menyampaikan rindu yang katanya tak akan pernah habis. Pagar hijau itu, mengeras, menahan tangis di antara jeruji. Sebuah bintang berdarah menggelinding dari tempatnya, diikuti burung kertas yang mengepak berat, berusaha terbang rendah agar tak merusak sayap rapuhnya sendiri. Mereka memandangku sambil berkata lirih, "Apa yang kau lakukan?"
Pertanyaan itu, jangankan menjawabnya, memandang saja aku tak kuasa. Kupalingkan wajahku menuju langit biru yang semakin jauh saja meski kami (aku dan malaikat hitam) terus bergerak mendekat. Akan dibawa kemana aku?
Perjalanan kami begitu jauh, menembus berlapis-lapis langit dengan ribuan planet layak huni seperti bumi. Spesies alien dalam televisi dan internet rupanya benar-benar ada di sini. Angin begitu dingin dan mencekam, langit hitam dengan bintik-bintik cahaya dari bintang yang masih saja tak terjangkau. Selama perjalanan aku menyadari sesuatu, rupanya aku tak lagi bisa merasakan ragaku. Hanya partikel-partikel sangat kecil tanpa wujud dengan suara dialog dengan alam semesta yang entah, mendengar atau tidak.
Berikan raga itu, sebuah nyawa baru.
Suara lirih terbawa angin, mengusik telingaku.
Berikan raga itu, sebuah nyawa baru yang telah ia pilih sendiri.
Aku berputar mencari sumber suara, hampa. Malaikat hitam tetap diam disampingku, terus bergerak lurus menuju arah tujuan kami.
Segera berikan atau raga itu akan termakan waktu, ia telah menentukan dan biarkan penentuannya sendiri bertanggungjawab.
Aku mengerjap, memberontak. Dengan cepat berbalik arah ingin memastikan apa yang sebenarnya terjadi. Semesta berputar cepat, menahan gejolak emosi yang rupanya masih dimiliki sesosok ruh sepertiku. Namun saat aku bersikeras kembali, malaikat hitam bergerak konstan. Sayangnya, aku tak memiliki kehendak berpisah darinya. Aku dan sang malaikat hitam itu, rupanya saat ini merupakan satu kesatuan.
Perjalanan panjang ini tak berhenti. Siang dan malam tidak berganti seperti di atas bumi, aku bahkan tidak lagi dapat memastikan sudah berapa lama aku bersama kehampaan. Malaikat hitam itu tak banyak berdialog, ia diam seolah membiarkanku berkecamuk sendiri dalam emosi. Pemandangan terus berubah, planet biru, hijau, jingga, merah, abu-abu, semuanya bergantian menghiasi sekeliling kami. Astereoid, meteor, bintang panas, bintang es, kesemuanya indah namun diam. Aku tenggelam dalam kehampaan.
Setelah aku merasa akan mati untuk kedua kalinya, barulah titik-titik cahaya itu muncul. Rupanya ada langit di atas langit. Tidak biru, melainkan hitam, dengan bintang-bintang berwarna merah dan bulan kecokelatan. Pohon-pohon berbentuk aneh, berwarna abu-abu. Batu-batu mengambang seolah gaya gravitasi tempat ini tidak stabil.
Kulihat manusia-manusia besar dengan sorot mata tajam, mengenakan jubah sutera berkilau perak. Mereka menyambut kedatanganku dengan hangat, bukan sikap hangat namun suhu udara hangat. Mereka tak berekspresi, hanya ada kepastian, keyakinan, dan kebersahajaan dari gurat wajah dan mata mereka. Tanpa banyak bicara, aku digiring melihat peta besar dunia dengan garis-garis abstraksi. Aku tak paham, namun malaikat hitam memintaku diam saja dan mengikuti kehendak mereka.
Ia belum selesai, kembalikan dan biarkan ia menerima hukuman atas seluruh perbuataannya. Berikan ia tugas-tugas kesemestaan dan pastikan ia melakukannya dengan baik.
Lagi-lagi suara yang entah darimana itu menggema, memekakkan telinga.
Seketika itu juga aku terlempar jauh menembus langit hitam, terpelanting di antara bintang-bintang merah dan tersungkur di akar pohon abu-abu. Aku tidak benar-benar menyadari apa yang terjadi. Namun saat kembali berhasil menguasai partilek-partikel tak berwujud ini, malaikat hitam sudah tidak lagi bersamaku. Langit telah kembali biru, udara kembali segar, daun-daun hijau, kicau burung, awan berarark putih membentuk domba-domba.
"Aku kembali!" Pekikku senang.
Namun udara bergeming, tidak, aku tidak sepenuhnya kembali. Aku tidak berada dalam ragaku, rupanya aku tetaplah partikel tak berarti. Aku tetaplah hanya selapis arwah bergentayangan.
Kuitari atap-atap rumah, ujung-ujung pohon, mencari dimana ragaku berada. Aku ingin pulang, aku ingin kembali. Tergurat wajah-wajah yang biasa mengelilingi kehidupan, aku tersedak air mata yang tak basah. Aku sakit oleh rasa bersalah telah menyia-nyiakan mereka semua, membiarkan apa yang kupunya tidak tersampaikan.
Saat raga itu kembali kutemukan, ia telah bergerak-gerak pelan. Seperti bayi baru lahir, ia mulai mengerjapkan mata sembari sesekali mengedipkannya pelan. Aku tak bisa kembali, raga itu tidak lagi milikku. Selaput tipis tak tembus mata menghalangi partikel tak berdaya ini untuk kembali, bahkan sekedar mengitari rumah saja aku tak mampu. Kupandangi ia dari jauh, dari atas atap dan pucuk dedaunan. Bintang berdarah dan seekor burung kertas itu tak lagi mengenaliku. Aku asing dan jauh, lalu untuk apa aku dikembalikan?
Kau akan dihukum atas tanggungjawab yang tak kau selesaikan.
Suara itu terdengar lebih menyakitkan, kali ini. aku terdiam diantara daun-daun mangga, melihat dari jauh tanpa bisa berkata-kata. Jika bisa ingin kuteteskan setimba air mata, namun partikel ini tidak mengizinkanku memilikinya. Aku hanya bisaberseloroh sendiri, berharap angin mau mendengar dan menyampaikan permintaan maafku atas proses hidup yang tidak maksimal. Juga kepada ruh baru itu, semoga angin juga menyampaikan kisah ini, tentang ketidakberdayaan menghadapi kematian.
Setidaknya, jika angin masih peduli dan berbaik hati menyampaikannya, aku akan berbisik lembut bahwa sebelum kau menyesali diri, hiduplah dengan sebenar-benarnya hidup. Hiduplah sebagai ruh yang menghidupi. Sampaikan apa yang telah diracikkan untukmu sebelum dihidupkan Tuhan dalam raga itu.
Aku
hanya ingin menyampakan kecintaanku pada raga yang saat ini kau diami, dan kumohon,
jangan menyiksaku, ruh yang tak bisa kembali ini.
Bersambung...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar