Sebuah kapsul
terbang mendarat sembarangan di halaman lantai dua rumah bercat biru. Seorang
laki-laki berambut hitam memakai pin pada lengan baju bertuliskan namanya,
"Rev Pait", keluar dari dalam kapsul, berjalan tergesa menuju pintu
rumah yang terbuka otomatis saat ia melewatinya. Air muka laki-laki itu begitu
cemas dan tak tenang. Kapsul bermuatan dua orang manusia dewasa dengan bagasi
di bagian belakang yang cukup menampung dua koper besar itu dibiarkan terbuka.
"Apa aku
terlambat?" tanya Rev begitu sampai pada segerombolan orang yang sedang
duduk melingkar pada kursi-kursi di sekitaran meja panjang.
"Kau tak
akan berguna jika selalu terlambat!"
Salah seorang
diantara mereka menyahut. Nada suaranya ketus dan raut mukanya benar-benar
menyiratkan ketidaksukaannya pada keterlambatan.
"Kebiasaan
itu harus segera diubah atau kita akan dalam bahaya."
Sahut yang
lain.
Rev yang
bertubuh jangkung dengan kulit sewarna sawo matang itu mengangguk, "aku
selalu berusaha tepat waktu," ujarnya sembari memilih salah satu kursi
kosong untuk duduk.
Forum itu
kembali serius. Lima belas orang nampak serius, terdiri dari laki-laki dan
perempuan meski jumlahnya tetap didominasi oleh laki-laki. Bahkan hingga dunia
berubah menjadi benar-benar modern seperti saat ini, dimana kendaraan terbang
tak hanya pesawat, perempuan tetap berada di garis belakang. Hanya segelintir
saja yang tertarik kepada perkara-perkara serius seperti merumuskan gerakan
perlawanan pada robot yang memberontak siang itu.
Langit di luar
berwarna merah muda pucat. Lapisan ozon bumi sudah mengkhawatirkan sejak
beberapa tahun lalu. Para peneliti memutuskan membuat formula yang akan
mempertahankan kadar zat kehidupan di bumi. Rutin, setiap sebulan sekali
pesawat-pesawat jet besar menabur sebuah bubuk merah muda ke bagian atas
atmosfer agar bisa bertahan dari sinar UV matahari. Alhasil, langit tak pernah
lagi berwarna biru. Bernafas tak lagi semenyegarkan dulu saat masih sering
terjadi kecelakaan pesawat terbang.
Di pusat kota
hampir seluruh negara, kekacauan sedang terjadi. Robot-robot yang selama
puluhan tahun belakangan ini banyak membantu kerja manusia, tiba-tiba berbalik
menyerang. Ini terjadi sejak seorang ilmuan Indonesia menciptakan sebuah robot
dengan 'perasaan dan otak'. Ia memformulasikan sel-sel otak dan DNA manusia
untuk dialirkan dalam pusat mesin robot. Awalnya, ia berniat agar si robot tak
perlu lagi banyak diperintah mengerjakan ini dan itu. Ia menginginkan robot
yang 'pengertian' mengerjakan apapun tanpa diperintah dan tanpa diberi upah.
Penelitiannya
berhasil, sebuah robot tercipta begitu menakjubkan. Ia mampu berdialog, bekerja
tanpa lelah, mengerti tanpa diperintah, seperti budak pada zaman penjajahan
kemanusiaan terdahulu. Robot itu kemudian diproduksi massal hingga menyebar
hampir di seluruh dunia. Sejak saat itu, urusan manusia tak lagi banyak. Mereka
cukup bersenang-senang, bertamasya, bercinta, beristirahat dan melakukan
beberapa penelitian baru. Bahkan pada tingkat tertingginya, urusan politik dan
kenegaraan diserahkan juga kepada para robot. Manusia keranjingan teknologi itu
hanya duduk santai menunggu laporan.
Hingga akhirnya
huru-hara ini terjadi. Para manusia mulai menyadari kesalahannya melukai kodrat
untuk berpikir dan bertindak. Para robot memberontak, mereka menduduki tahta
kepemerintahan. Mulai tak mau diatur, bahkan di beberapa negara para robot
telah berani mempekerjakan manusia. Bagi yang menolak, dengan mudah manusia
lemah itu dilempar ke dalam tower sel yang tinggi menjulang. Di atas sana,
oksigen begitu minim dan udara panas sekali. Manusia hanya akan mampu bertahan
disana dalam dua atau tiga hari, selanjutnya ia akan mati perlahan, ini sama
saja dengan hukuman mati.
"Sebelum
kita yang dipekerjakan bahkan dipenjarakan, kita harus mencabut pusat kehidupan
para robot. Dengan begitu mereka akan kehilangan kecerdasan dan DNA nya
perlahan."
Perempuan
bermata lebar itu bernada yakin. Menatap satu persatu orang disekelilingnya
dengan cepat.
"Aku
setuju denganmu," Rev menjawab cepat diikuti gumam setuju dan anggukan
dari yang lain.
Forum
menegangkan itu berlangsung singkat. Keputusannya berakhir pada sebuah strategi
penangkalan pemberontakan robot. Sebelum para robot menggila seperti di
negara-negara lain, mereka sebagai intelejen negara memilih segera bertindak.
"Esok pagi
sekali, sebelum semua orang terbangun, sebelum matahari terbit dan nada kokok
ayam dideringkan, sebelum para robot berhenti mengisi daya, kita sudah harus
ada di gedung pusat."
Seorang
laki-laki berjas ungu memberi kesimpulan forum. Mereka semua mengangguk lalu
membubarkan diri. Beberapa orang segera masuk kapsul, terbang rendah, lalu
lenyap di kejauhan. Beberapa yang lain memutuskan berjalan melewati
lorong-lorong bawah tanah yang penuh lampu dan buah-buahan bebas petik.
Rev pergi
dengan kapsulnya. Ia mendapat tugas utama mengkoordinir seluruh anggota intel
untuk berkumpul esok pagi.
Aku harus
beristirahat untuk besok. Laki-laki itu
membatin.
Ia memutuskan
segera pulang, kali ini tidak melakukan kebiasaannya sehari-hari melakukan
penelitian di laboratorium bersama. Rev memilih segera tidur agar esok hari
bisa bangun cepat karena selama ini ia tak terbiasa bangun cepat. Keberadaan
robot membuat sebagian besar manusia zaman ini enggan bangun pagi. Bermalas-malasan
di pagi yang dingin adalah lumrah di masa ini. Sementara para robot sudah mulai
bergerak sejak matahari menunjukkan sinar pertamanya.
Rev berbaring.
Setelah makan dan membereskan beberapa hal, ia merebahkan tubuh. Matanya lurus
menatap langit-langit. Memikirkan apa saja yang harus dilakukan esok di pagi
buta. Ini akan menjadi kali pertamanya setelah sekian lama tidak bangun pagi.
Perlahan, Rev
terpejam. Terlelap dalam mimpi.
Tik Tik Tik.
Ko Ko Ko K.
"Bangun
dan bekerja atau kalian kami penjarakan di atas menara!!!"
Sebuah suara
menggema di seluruh kota, juga pelosok desa. Pintu rumah diketuk kasar, yang
tak segera membuka, didobrak paksa.
Rev terperanjat
mendengar pintunya berbunyi keras. Sebuah robot berbentuk manusia dengan kulit
abu-abu masuk. Matanya hijau menyala.
"Bekerja!!"
Teriak robot itu.
Rev mengerjap.
Matanya cepat melihat ke luar, sudah terang. Kepalanya kemudian menoleh pada
jam besar di langit-langit rumah. Sudah lima jam berlalu sejak matahari terbit.
Rev menelan ludah pahit, darahnya berdesir cepat.
Aku kesiangan!
Sial! Aku
kesiangan!
Ia berteriak
dalam hati. Matanya melotot takut, marah dan menyesal. Pikirannya tertuju pada
nasib seluruh anggota intelejen dan penduduk kota. Hatinya berteriak meminta
Tuhan memutar waktu. Ia telah melalaikan tugas besar dan mengorbankan ribuan
umat manusia.
Aku kesiangan!
Aku kesiangan!!
"Cepat!
Keluar dan bekerja!" Robot itu mengacungkan telunjuk yang ujungnya
bercahaya merah. Tak segan menembak manusia yang memberontak.
Tanpa kata, Rev
bergerak keluar. Dadanya berdetak cepat, darahnya terasa panas.
Di luar, para
manusia mulai melakukan banyak pekerjaan yang dilakukan robot. Sebagian besar
bekerja lamban karena tak terbiasa melakukannya. Robot-robot mengawasi seperti
mandor. Mengajari dengan kasar. Pagi menjelang siang itu jalanan yang biasa
dipenuhi robot pekerja kini dihuni manusia pekerja.
Rev melihat
sekeliling dengan cepat. Ia menemukan beberapa orang intel yang semalam duduk
dalam forum juga tengah melakukan pekerjaan. Dalam beberapa detik, pandangan
mereka saling bertautan. Mata-mata itu saling menyalahkan.
Ini karena kau
tidak bisa bangun pagi! Kebiasaanmu bermalas-malasan di pagi hari menyebabkan
petaka bagi kita semua. Kebiasaanmu terlambat mencelakakan kita semua. Apa yang
bisa dilakukan dengan tindakanmu bangun siang dan bermalas-malasan, Rev?! Apa
yang dihasilkan dari malam-malammu di laboratorium bersama? Hanya hasil
perbincangan yang tak segera dikembangkan menjadi bahan jadi! Seandainya kau
terbiasa bangun pagi dan tepat waktu, kita tidak akan menjadi budak robot
seperti ini. Rev! Kita telah gagal. Pemberontakan kita gagal hanya karena satu
kebiasaan buruk ini. Rev! Rev Pait! Kau kesiangan!!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar