Jumat, 18 Januari 2019

Revolusi Pagi



Sebuah kapsul terbang mendarat sembarangan di halaman lantai dua rumah bercat biru. Seorang laki-laki berambut hitam memakai pin pada lengan baju bertuliskan namanya, "Rev Pait", keluar dari dalam kapsul, berjalan tergesa menuju pintu rumah yang terbuka otomatis saat ia melewatinya. Air muka laki-laki itu begitu cemas dan tak tenang. Kapsul bermuatan dua orang manusia dewasa dengan bagasi di bagian belakang yang cukup menampung dua koper besar itu dibiarkan terbuka.

"Apa aku terlambat?" tanya Rev begitu sampai pada segerombolan orang yang sedang duduk melingkar pada kursi-kursi di sekitaran meja panjang.

"Kau tak akan berguna jika selalu terlambat!"

Salah seorang diantara mereka menyahut. Nada suaranya ketus dan raut mukanya benar-benar menyiratkan ketidaksukaannya pada keterlambatan.

"Kebiasaan itu harus segera diubah atau kita akan dalam bahaya."
Sahut yang lain.

Rev yang bertubuh jangkung dengan kulit sewarna sawo matang itu mengangguk, "aku selalu berusaha tepat waktu," ujarnya sembari memilih salah satu kursi kosong untuk duduk.

Forum itu kembali serius. Lima belas orang nampak serius, terdiri dari laki-laki dan perempuan meski jumlahnya tetap didominasi oleh laki-laki. Bahkan hingga dunia berubah menjadi benar-benar modern seperti saat ini, dimana kendaraan terbang tak hanya pesawat, perempuan tetap berada di garis belakang. Hanya segelintir saja yang tertarik kepada perkara-perkara serius seperti merumuskan gerakan perlawanan pada robot yang memberontak siang itu.

Langit di luar berwarna merah muda pucat. Lapisan ozon bumi sudah mengkhawatirkan sejak beberapa tahun lalu. Para peneliti memutuskan membuat formula yang akan mempertahankan kadar zat kehidupan di bumi. Rutin, setiap sebulan sekali pesawat-pesawat jet besar menabur sebuah bubuk merah muda ke bagian atas atmosfer agar bisa bertahan dari sinar UV matahari. Alhasil, langit tak pernah lagi berwarna biru. Bernafas tak lagi semenyegarkan dulu saat masih sering terjadi kecelakaan pesawat terbang.

Di pusat kota hampir seluruh negara, kekacauan sedang terjadi. Robot-robot yang selama puluhan tahun belakangan ini banyak membantu kerja manusia, tiba-tiba berbalik menyerang. Ini terjadi sejak seorang ilmuan Indonesia menciptakan sebuah robot dengan 'perasaan dan otak'. Ia memformulasikan sel-sel otak dan DNA manusia untuk dialirkan dalam pusat mesin robot. Awalnya, ia berniat agar si robot tak perlu lagi banyak diperintah mengerjakan ini dan itu. Ia menginginkan robot yang 'pengertian' mengerjakan apapun tanpa diperintah dan tanpa diberi upah.

Penelitiannya berhasil, sebuah robot tercipta begitu menakjubkan. Ia mampu berdialog, bekerja tanpa lelah, mengerti tanpa diperintah, seperti budak pada zaman penjajahan kemanusiaan terdahulu. Robot itu kemudian diproduksi massal hingga menyebar hampir di seluruh dunia. Sejak saat itu, urusan manusia tak lagi banyak. Mereka cukup bersenang-senang, bertamasya, bercinta, beristirahat dan melakukan beberapa penelitian baru. Bahkan pada tingkat tertingginya, urusan politik dan kenegaraan diserahkan juga kepada para robot. Manusia keranjingan teknologi itu hanya duduk santai menunggu laporan.

Hingga akhirnya huru-hara ini terjadi. Para manusia mulai menyadari kesalahannya melukai kodrat untuk berpikir dan bertindak. Para robot memberontak, mereka menduduki tahta kepemerintahan. Mulai tak mau diatur, bahkan di beberapa negara para robot telah berani mempekerjakan manusia. Bagi yang menolak, dengan mudah manusia lemah itu dilempar ke dalam tower sel yang tinggi menjulang. Di atas sana, oksigen begitu minim dan udara panas sekali. Manusia hanya akan mampu bertahan disana dalam dua atau tiga hari, selanjutnya ia akan mati perlahan, ini sama saja dengan hukuman mati.

"Sebelum kita yang dipekerjakan bahkan dipenjarakan, kita harus mencabut pusat kehidupan para robot. Dengan begitu mereka akan kehilangan kecerdasan dan DNA nya perlahan."

Perempuan bermata lebar itu bernada yakin. Menatap satu persatu orang disekelilingnya dengan cepat.

"Aku setuju denganmu," Rev menjawab cepat diikuti gumam setuju dan anggukan dari yang lain.

Forum menegangkan itu berlangsung singkat. Keputusannya berakhir pada sebuah strategi penangkalan pemberontakan robot. Sebelum para robot menggila seperti di negara-negara lain, mereka sebagai intelejen negara memilih segera bertindak.

"Esok pagi sekali, sebelum semua orang terbangun, sebelum matahari terbit dan nada kokok ayam dideringkan, sebelum para robot berhenti mengisi daya, kita sudah harus ada di gedung pusat."

Seorang laki-laki berjas ungu memberi kesimpulan forum. Mereka semua mengangguk lalu membubarkan diri. Beberapa orang segera masuk kapsul, terbang rendah, lalu lenyap di kejauhan. Beberapa yang lain memutuskan berjalan melewati lorong-lorong bawah tanah yang penuh lampu dan buah-buahan bebas petik.

Rev pergi dengan kapsulnya. Ia mendapat tugas utama mengkoordinir seluruh anggota intel untuk berkumpul esok pagi.

Aku harus beristirahat untuk besok. Laki-laki itu membatin.

Ia memutuskan segera pulang, kali ini tidak melakukan kebiasaannya sehari-hari melakukan penelitian di laboratorium bersama. Rev memilih segera tidur agar esok hari bisa bangun cepat karena selama ini ia tak terbiasa bangun cepat. Keberadaan robot membuat sebagian besar manusia zaman ini enggan bangun pagi. Bermalas-malasan di pagi yang dingin adalah lumrah di masa ini. Sementara para robot sudah mulai bergerak sejak matahari menunjukkan sinar pertamanya.

Rev berbaring. Setelah makan dan membereskan beberapa hal, ia merebahkan tubuh. Matanya lurus menatap langit-langit. Memikirkan apa saja yang harus dilakukan esok di pagi buta. Ini akan menjadi kali pertamanya setelah sekian lama tidak bangun pagi.

Perlahan, Rev terpejam. Terlelap dalam mimpi.

Tik Tik Tik.

Ko Ko Ko K.

"Bangun dan bekerja atau kalian kami penjarakan di atas menara!!!"

Sebuah suara menggema di seluruh kota, juga pelosok desa. Pintu rumah diketuk kasar, yang tak segera membuka, didobrak paksa.

Rev terperanjat mendengar pintunya berbunyi keras. Sebuah robot berbentuk manusia dengan kulit abu-abu masuk. Matanya hijau menyala.

"Bekerja!!" Teriak robot itu.

Rev mengerjap. Matanya cepat melihat ke luar, sudah terang. Kepalanya kemudian menoleh pada jam besar di langit-langit rumah. Sudah lima jam berlalu sejak matahari terbit. Rev menelan ludah pahit, darahnya berdesir cepat.

Aku kesiangan!

Sial! Aku kesiangan!

Ia berteriak dalam hati. Matanya melotot takut, marah dan menyesal. Pikirannya tertuju pada nasib seluruh anggota intelejen dan penduduk kota. Hatinya berteriak meminta Tuhan memutar waktu. Ia telah melalaikan tugas besar dan mengorbankan ribuan umat manusia.

Aku kesiangan!

Aku kesiangan!!

"Cepat! Keluar dan bekerja!" Robot itu mengacungkan telunjuk yang ujungnya bercahaya merah. Tak segan menembak manusia yang memberontak.

Tanpa kata, Rev bergerak keluar. Dadanya berdetak cepat, darahnya terasa panas.

Di luar, para manusia mulai melakukan banyak pekerjaan yang dilakukan robot. Sebagian besar bekerja lamban karena tak terbiasa melakukannya. Robot-robot mengawasi seperti mandor. Mengajari dengan kasar. Pagi menjelang siang itu jalanan yang biasa dipenuhi robot pekerja kini dihuni manusia pekerja.

Rev melihat sekeliling dengan cepat. Ia menemukan beberapa orang intel yang semalam duduk dalam forum juga tengah melakukan pekerjaan. Dalam beberapa detik, pandangan mereka saling bertautan. Mata-mata itu saling menyalahkan.

Ini karena kau tidak bisa bangun pagi! Kebiasaanmu bermalas-malasan di pagi hari menyebabkan petaka bagi kita semua. Kebiasaanmu terlambat mencelakakan kita semua. Apa yang bisa dilakukan dengan tindakanmu bangun siang dan bermalas-malasan, Rev?! Apa yang dihasilkan dari malam-malammu di laboratorium bersama? Hanya hasil perbincangan yang tak segera dikembangkan menjadi bahan jadi! Seandainya kau terbiasa bangun pagi dan tepat waktu, kita tidak akan menjadi budak robot seperti ini. Rev! Kita telah gagal. Pemberontakan kita gagal hanya karena satu kebiasaan buruk ini. Rev! Rev Pait! Kau kesiangan!!


Tidak ada komentar:

Posting Komentar