Jumat, 06 Oktober 2017

Sadako Bukan Hantu!

Malam itu desir ombak bersahutan mengisi hening. Bulan bersinar cerah seperti matahari yang terbit dari balik bukit timur. Bintang-bintang tersenyum menyaksikan lingkaran mahasiswa di tepi pantai yang oleh manusia dilabeli dengan istilah Pantai Parangtritis. Niat-niat nan tulus terpancar dari wajah mereka, duduk melingkar saling memberi kehangatan.

           
"Aku heran melihat semuanya, bagaimana bisa ada orang-orang seperti ini. menghilangkan senioritas, merangkul orang baru, tidak mengagungkan hak milik pribadi, membuatku merasa nyaman dan memiliki keluarga baru di tanah rantau."
            Ucap seorang gadis asal Cilacap, matanya berbinar menyorotkan rasa kasih kepada kawan-kawan di sekitarnya. Pasir pantai terus menerus basah, dihantam ombak bertubi-tubi yang hanya diam. Begitupun kami yang juga terdiam menikmati lembut angin malam, kenangan-kenangan bermunculan seperti putaran film lama, abu-abu namun hangat.
            Kelompok belajar ini kami bentuk bersama tepat pada tanggal 18 April 2017, ketika rembulan mengintip dari balik awan mendung pukul 22.24 di tanah Jogja. Kala itu juga, sebuah nama telah kami ikrarkan meski harus melalui perdebatan panjang. Sekolah Mahasiswa Dakwah dan Komunikasi (SADAKO), nama seorang bocah kecil yang menjadi korban kejahatan Perang Dunia II dan bom nuklir di Hiroshima pada 1945 silam. Sayang sekali, nama gadis itu berubah menjadi sosok hantu menyeramkan di dunia perfilman. Kami memutuskan memakai namanya, Sadako Sasaki, agar dunia luas mengetahui kisah dibalik nama itu. Kisah seorang gadis kecil pencetus istilah Shenzoburu atau seribu kertas lipat berbentuk bangau, yang konon dalam kepercayaan Jepang, dapat mempercepat penyembuhan ketika seseorang sakit.
            Study Club Sadako memilih mengadopsi kata 'sekolah' bukanlah tanpa alasan. Roem Topatimasang dalam bukunya Sekolah itu Candu, memaparkan dengan jelas bahwa dulunya sekolah tidak tersistem seperti saat ini. Kosa kata sekolah berasal dari bahasa Yunani, Schole yang berarti waktu luang. Dahulunya orang-orang Yunani menggunakan waktu luang mereka untuk belajar kepada siapa saja yang dianggap cerdas. Pada masa awalnya, pendidikan bisa didapat dimanapun dan kapanpun tanpa harus melalui sistem rumit dengan biaya mahal. Buku ini selalu menjadi pegangan dan rujukan Sadako dalam menjalankan setiap agendanya, dan seharusnya juga menjadi bahan renungan sistem pendidikan saat ini yang terlalu mengagungkan lembaran uang. Dengan kata sekolah ini, Sadako selalu berharap mampu mengembalikan esensi belajar seperti sedia kala.
            Kawanan burung malam terbang melingkar tepat di atas lingkaran kecil kami, memperhatikan dan sesekali mendengarkan percakapan kami yang mungkin menarik perhatiannya.
            "Jika ada kata yang lebih dari keluarga, itu adalah kalian."
            Ujar komandan kelompok belajar Sadako. Seketika rasa haru merasuk dalam sanubari. Setiap kata yang keluar dari mulut kami malam ini, disaksikan oleh alam.
            Sejak awal, keberadaan kelompok belajar Sadako memang untuk menjadi wadah kebersamaan, kekeluargaan dan sarana belajar. Kehidupan dalam kelas tidak lagi mampu memberikan pengetahuan mumpuni bagi kami yang dibanggakan oleh gelar mahasiswa. Tanpa ruang belajar tambahan, mahasiswa hanya kumpulan robot yang keluar-masuk kelas, pendengar setia ceramah dosen dan seorang pemuja nilai. Segala yang dipelajari ditentukan kurikulum, terbengkalai oleh jurusan, dan terasa kaku seperti bergerak dalam kegelapan.  Namun disini, kita bebas membentuk sistem pembelajaran  kita sendiri, menentukan apa yang ingin dipelajari, bertukar pikiran dengan nyaman tanpa takut apapun. Inilah ruang terbebas untuk belajar dan berkembang.
            Tidak hanya berbagai pengalaman diskusi, pengetahuan tentang dunia, judul-judul buku menarik atau kawan yang siap saling membantu dalam tugas-tugas. Di dalamnya kau juga akan menemukan apa yang tidak kau temukan dimanapun. Keluarga baru yang begitu hangat, kebiasaan-kebiasaan baru yang menyenangkan, dan cerita yang akan terus menemani jalan hidupmu.
Selain kelompok belajar Sadako, kampus hijau UIN Sunan Kalijaga juga memiliki kelompok-kelompok belajar lain di setiap fakultasnya. Seperti Komunitas Mahasiswa Syariah dan Hukum (Komasyah) di Fakultas Syariah dan Hukum, Kelompok Belajar Sentral Mahasiswa Ushuluddin dan Pemikiran Islam Dialektika (KB-Semud) di Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, dan Forum Study Mahasiswa Demokrasi (Forsmad) sebagai wadah dari fakultas-fakultas yang belum memiliki wadah belajar. Selain itu, terdapat juga kelompok belajar dari universitas-universitas lain di Yogyakarta. UII dengan Study Club Komunitas Mahasiswa Merdeka (Komaka) dan UAD dengan Study Club Sekolah Mahasiswa Merdeka (Semak). Di saat-saat tertentu seluruh study club di Yogyakarta berkumpul untuk saling bertukar pengetahuan atau membuat agenda bersama.
            "Kalian adalah sebuah puisi yang belum diberi judul. Kalian adalah salah satu potongan puzzle yang akan melengkapi cerita hidupku."
            Salah satu kawan pecinta sastra itu mengungkapkan perasaannya kepada Sadako. Matanya terpejam merangkai bait puisi untuk kami yang terpesona. Darah sastra Blora mengalir dalam nadinya, tempat lahir yang sama dengan salah seorang penulis hebat Indonesia, Pramoedya Ananta Toer yang terus dikenang melalui berbagai karya sastranya.
            Angin-angin lembut kembali mengantar kami kepada berbagai kisah yang telah kami lalui bersama. Diskusi, pelatihan jurnalistik, belajar berpuisi, masak bersama, makan bersama, bernyanyi dan mengobrolkan banyak hal di berbagai sudut kampus dan warung kopi. Bagaimanapun, kelompok kecil ini sangat kami cintai, dan akan terus berusaha kami hidupkan tanpa mengenal padam. Siapapun berhak ada disini, siapapun yang ingin bersama-sama belajar, menjadikan seluruh alam raya menjadi sekolah. Tidak harus di dalam kelas dengan kursi-kursi kayu dan sepatu yang mengganggu kaki untuk menatap dunia.
            "Aku adalah Sadako, dan Sadako adalah aku."
            Seperti ikrar peleburan diri, ia begitu menghayati ucapannya yang begitu sederhana. Laki-laki bertubuh jangkung itu menatap yakin kepada setiap mata yang terenyuh. Sudah lama sekali ia menantikan adanya sebuah wadah mahasiswa yang tidak ditunggangi kepentingan politik dan jabatan kampus. Keberadaan Sadako adalah murni untuk belajar bersama, tidak peduli dari sudut dunia bagian mana kau datang, tidak peduli apa warna latar belakang keluargamu, tidak peduli apa ideologimu bahkan agamamu. Ketika kau ada disini, kau adalah bagian dari keluarga kecil Sadako. Ketika kau ingin belajar menjadi mahasiswa sebenarnya, kau adalah kawan kami.
            "Sadako is all about for me. Ia segalanya, tidak hanya keluarga, tapi juga sebagai teman, sahabat, tempat pelarian, tempat belajar, dan segalanya ada disini."
            "Jika aku diminta untuk memilih antara Sadako dengan yang lainnya, aku tidak akan memilih. Karena kalian bukan pilihan, kalianlah keluargaku, tempat aku kembali."
            Serat-serat kehangatan semakin merapat diantara bisikan ombak. Malam ini kami benar-benar melebur dalam satu perasaan cinta. Wadah ini, Sadako, semoga ada banyak manusia lain yang akan menemukanmu sebagai tempat kembali dari hiruk-pikuk kemahasiswaan, menemukanmu sebagai tempat yang layak untuk membentuk dan menemukan keluarga baru di tanah rantau nan asing ini. Kemarilah, jiwa-jiwa nan rindu akan bebasnya ilmu pengetahuan dan hangatnya keluarga. Mendekatlah, nafas-nafas yang telah muak dengan permainan kepentingan politik identitas dan benar-benar ingin berkumpul dalam kemurnian dinamika intelektual mahasiswa yang tidak apatis.


_catatan bibir pantai

Tidak ada komentar:

Posting Komentar