Malam
itu desir ombak bersahutan mengisi hening. Bulan bersinar cerah seperti
matahari yang terbit dari balik bukit timur. Bintang-bintang tersenyum
menyaksikan lingkaran mahasiswa di tepi pantai yang oleh manusia dilabeli
dengan istilah Pantai Parangtritis. Niat-niat nan tulus terpancar dari wajah
mereka, duduk melingkar saling memberi kehangatan.

"Aku heran melihat semuanya, bagaimana bisa ada orang-orang seperti ini. menghilangkan senioritas, merangkul orang baru, tidak mengagungkan hak milik pribadi, membuatku merasa nyaman dan memiliki keluarga baru di tanah rantau."
Ucap
seorang gadis asal Cilacap, matanya berbinar menyorotkan rasa kasih kepada
kawan-kawan di sekitarnya. Pasir pantai terus menerus basah, dihantam ombak
bertubi-tubi yang hanya diam. Begitupun kami yang juga terdiam menikmati lembut
angin malam, kenangan-kenangan bermunculan seperti putaran film lama, abu-abu
namun hangat.
Kelompok
belajar ini kami bentuk bersama tepat pada tanggal 18 April 2017, ketika rembulan
mengintip dari balik awan mendung pukul 22.24 di tanah Jogja. Kala itu juga,
sebuah nama telah kami ikrarkan meski harus melalui perdebatan panjang. Sekolah
Mahasiswa Dakwah dan Komunikasi (SADAKO), nama seorang bocah kecil yang
menjadi korban kejahatan Perang Dunia II dan bom nuklir di Hiroshima pada 1945
silam. Sayang sekali, nama gadis itu berubah menjadi sosok hantu menyeramkan di
dunia perfilman. Kami memutuskan memakai namanya, Sadako Sasaki, agar dunia
luas mengetahui kisah dibalik nama itu. Kisah seorang gadis kecil pencetus
istilah Shenzoburu atau seribu kertas lipat berbentuk bangau, yang konon dalam
kepercayaan Jepang, dapat mempercepat penyembuhan ketika seseorang sakit.
Study
Club Sadako memilih mengadopsi kata 'sekolah' bukanlah tanpa alasan. Roem
Topatimasang dalam bukunya Sekolah itu Candu, memaparkan dengan jelas bahwa
dulunya sekolah tidak tersistem seperti saat ini. Kosa kata sekolah berasal
dari bahasa Yunani, Schole yang berarti waktu luang. Dahulunya orang-orang
Yunani menggunakan waktu luang mereka untuk belajar kepada siapa saja yang
dianggap cerdas. Pada masa awalnya, pendidikan bisa didapat dimanapun dan
kapanpun tanpa harus melalui sistem rumit dengan biaya mahal. Buku ini selalu
menjadi pegangan dan rujukan Sadako dalam menjalankan setiap agendanya, dan
seharusnya juga menjadi bahan renungan sistem pendidikan saat ini yang terlalu
mengagungkan lembaran uang. Dengan kata sekolah ini, Sadako selalu berharap
mampu mengembalikan esensi belajar seperti sedia kala.
Kawanan
burung malam terbang melingkar tepat di atas lingkaran kecil kami,
memperhatikan dan sesekali mendengarkan percakapan kami yang mungkin menarik
perhatiannya.
"Jika
ada kata yang lebih dari keluarga, itu adalah kalian."
Ujar
komandan kelompok belajar Sadako. Seketika rasa haru merasuk dalam sanubari.
Setiap kata yang keluar dari mulut kami malam ini, disaksikan oleh alam.
Sejak
awal, keberadaan kelompok belajar Sadako memang untuk menjadi wadah
kebersamaan, kekeluargaan dan sarana belajar. Kehidupan dalam kelas tidak lagi
mampu memberikan pengetahuan mumpuni bagi kami yang dibanggakan oleh gelar
mahasiswa. Tanpa ruang belajar tambahan, mahasiswa hanya kumpulan robot yang
keluar-masuk kelas, pendengar setia ceramah dosen dan seorang pemuja nilai.
Segala yang dipelajari ditentukan kurikulum, terbengkalai oleh jurusan, dan
terasa kaku seperti bergerak dalam kegelapan.
Namun disini, kita bebas membentuk sistem pembelajaran kita sendiri, menentukan apa yang ingin
dipelajari, bertukar pikiran dengan nyaman tanpa takut apapun. Inilah ruang
terbebas untuk belajar dan berkembang.
Tidak
hanya berbagai pengalaman diskusi, pengetahuan tentang dunia, judul-judul buku
menarik atau kawan yang siap saling membantu dalam tugas-tugas. Di dalamnya kau
juga akan menemukan apa yang tidak kau temukan dimanapun. Keluarga baru yang
begitu hangat, kebiasaan-kebiasaan baru yang menyenangkan, dan cerita yang akan
terus menemani jalan hidupmu.
Selain
kelompok belajar Sadako, kampus hijau UIN Sunan Kalijaga juga memiliki
kelompok-kelompok belajar lain di setiap fakultasnya. Seperti Komunitas
Mahasiswa Syariah dan Hukum (Komasyah) di Fakultas Syariah dan Hukum, Kelompok
Belajar Sentral Mahasiswa Ushuluddin dan Pemikiran Islam Dialektika (KB-Semud)
di Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, dan Forum Study Mahasiswa Demokrasi
(Forsmad) sebagai wadah dari fakultas-fakultas yang belum memiliki wadah
belajar. Selain itu, terdapat juga kelompok belajar dari
universitas-universitas lain di Yogyakarta. UII dengan Study Club Komunitas
Mahasiswa Merdeka (Komaka) dan UAD dengan Study Club Sekolah Mahasiswa Merdeka
(Semak). Di saat-saat tertentu seluruh study club di Yogyakarta berkumpul untuk
saling bertukar pengetahuan atau membuat agenda bersama.
"Kalian
adalah sebuah puisi yang belum diberi judul. Kalian adalah salah satu potongan
puzzle yang akan melengkapi cerita hidupku."
Salah
satu kawan pecinta sastra itu mengungkapkan perasaannya kepada Sadako. Matanya
terpejam merangkai bait puisi untuk kami yang terpesona. Darah sastra Blora
mengalir dalam nadinya, tempat lahir yang sama dengan salah seorang penulis
hebat Indonesia, Pramoedya Ananta Toer yang terus dikenang melalui berbagai
karya sastranya.
Angin-angin
lembut kembali mengantar kami kepada berbagai kisah yang telah kami lalui
bersama. Diskusi, pelatihan jurnalistik, belajar berpuisi, masak bersama, makan
bersama, bernyanyi dan mengobrolkan banyak hal di berbagai sudut kampus dan
warung kopi. Bagaimanapun, kelompok kecil ini sangat kami cintai, dan akan
terus berusaha kami hidupkan tanpa mengenal padam. Siapapun berhak ada disini,
siapapun yang ingin bersama-sama belajar, menjadikan seluruh alam raya menjadi
sekolah. Tidak harus di dalam kelas dengan kursi-kursi kayu dan sepatu yang
mengganggu kaki untuk menatap dunia.
"Aku
adalah Sadako, dan Sadako adalah aku."
Seperti
ikrar peleburan diri, ia begitu menghayati ucapannya yang begitu sederhana.
Laki-laki bertubuh jangkung itu menatap yakin kepada setiap mata yang terenyuh.
Sudah lama sekali ia menantikan adanya sebuah wadah mahasiswa yang tidak
ditunggangi kepentingan politik dan jabatan kampus. Keberadaan Sadako adalah
murni untuk belajar bersama, tidak peduli dari sudut dunia bagian mana kau
datang, tidak peduli apa warna latar belakang keluargamu, tidak peduli apa
ideologimu bahkan agamamu. Ketika kau ada disini, kau adalah bagian dari
keluarga kecil Sadako. Ketika kau ingin belajar menjadi mahasiswa sebenarnya,
kau adalah kawan kami.
"Sadako
is all about for me. Ia segalanya, tidak hanya keluarga, tapi juga sebagai
teman, sahabat, tempat pelarian, tempat belajar, dan segalanya ada
disini."
"Jika
aku diminta untuk memilih antara Sadako dengan yang lainnya, aku tidak akan
memilih. Karena kalian bukan pilihan, kalianlah keluargaku, tempat aku
kembali."
Serat-serat
kehangatan semakin merapat diantara bisikan ombak. Malam ini kami benar-benar
melebur dalam satu perasaan cinta. Wadah ini, Sadako, semoga ada banyak manusia
lain yang akan menemukanmu sebagai tempat kembali dari hiruk-pikuk
kemahasiswaan, menemukanmu sebagai tempat yang layak untuk membentuk dan
menemukan keluarga baru di tanah rantau nan asing ini. Kemarilah, jiwa-jiwa nan
rindu akan bebasnya ilmu pengetahuan dan hangatnya keluarga. Mendekatlah,
nafas-nafas yang telah muak dengan permainan kepentingan politik identitas dan
benar-benar ingin berkumpul dalam kemurnian dinamika intelektual mahasiswa yang
tidak apatis.
_catatan bibir pantai
Tidak ada komentar:
Posting Komentar