Sesungguhnya
tidaklah pantas jika kampus dikatakan sebagi miniatur negara. Seolah-olah
kampus yang seharusnya menjadi wadah mahasiswa bersama-sama mencari ilmu
berubah menjadi cermin keadaan negara. Bukan raahasia lagi jika keadaan negara
saat ini tengah carut-marut oleh kepentingan segelintir orang. Politik praktis,
korupsi, saling menjatuhkan antara aparatur negara dan berbagai konflik
lainnya. Hal ini juga tercermin pada keadaan kampus saat ini, terutama kampus
dengan organisasi mahasiswa yang begitu beragam. Akibat keberagaman dan
kurangnya rasa persatuan antara organisasi satu dengan organisasi lain,
dinamika organisasi kampus lalu berubah menjadi politik praktis. Dimana
organisasi mahasiswa hanya antusias merebut kursi kepresidenan seperti Badan
Eksekutif Mahasiswa (BEM).
Tidak bisa dipungkiri jika duduk di
kursi kekuasaan akan menimbulkan 'ketagihan'. Terutama jika kursi itu
diperebutkan dengan susah payah oleh sekelompok orang dengan ideologi sama.
Rasa kebersamaan dan kepemilikan terhadap payung organisasi justru menimbulkan
organisasi satu seolah-olah menjadi antipati terhadap organisasi lainnya.
Organisasi-organisasi mahasiswa yang seharusnya menjadi jembatan antara
birokrasi kampus dan mahasiswa akar rumput, berubah menjadi organisasi pejuang
kursi kekuasaan. Politik praktis yang merasuk ke dalam diri mahasiswalah yang
tanpa sadar memecah tubuh mahasiswa dengan jalan yang begitu halus.
Setelah berhasil mendekatkan diri
dengan tataran birokrasi kampus, idealnya sebuah organisasi mahasiswa mulai
bergerak mengkritisi keadaan kampus yang tidak pernah baik-baik saja. Namun
lagi-lagi politik identitas menjadikan mereka justru sibuk menyusun strategi
untuk tetap bisa bertahan di atas tampuk kekuasaan. Strategi-strategi yang
dilakukan masif dan menyita banyak waktu seperti kaderisasi, penanaman ideologi
partai dan lain sebagainya, menjadikan mereka yang telah duduk strategis
menjadi lalai. Aksi-aksi yang dilakukan seringkali hanya sebagai startegi
pencitraan organisasi terutama kepada mahasiswa baru yang masih awam. Terbukti
dengan pembacaan tidak matang atas tuntutan aksi dan kemandekan aksi yang hanya
sampai permukaan saja.
Seperti teka-teki mutlak,
terkecohlah mahasiswa baru oleh aksi kepahlawanan sesaat. Maksud hati ingin
mendukung bahkan menjadi bagian organisasi yang diharapkan bisa memajukan
kampusnya, justru terjebak ke dalam pusaran politik praktis yang berbahaya.
Perlahan tanpa sadar kader-kader baru ini akan mengikuti jejak para seniornya
mengejar kursi kekuasaan. Teori interpelasi bekerja nyata disini, sistem
mengubah individu menjadi subyek dengan ideologi tertentu, untuk kemudian
menjadi patuh tanpa perintah. Maka terulanglah mekanisme kuasa-menguasai ini
terus-menerus seperti lingkaran setan yang sulit terputus.
Sementara itu, hubungan antar
organisasi semakin tidak harmonis. Mahasiswa serta organisasi mahasiswa tempat
bernaungnya kader-kader bangsa yang telah terkontaminasi politik praktis kampus
seolah-olah memberikan jarak antara mahasiswa satu dengan mahasiswa lainnya
yang berlainan ideologi. Hal ini juga menjadi salah satu faktor perpecahan di
tubuh mahasiswa. Mengingat kampus merupakan miniatur negara, tampak dengan
jelas perpecahan negara Indonesia melalui apa yang terjadi pada tataran kampus.
Bagaimana mahasiswa akan mengawal birokrasi untuk tetap berada pada relnya jika
perpecahan masih terjadi dikalangan para pengawal itu sendiri.
Di lain sisi, para mahasiswa yang
masih berada pada oposisi independen, para intelektual yang belum
terkontaminasi syahwat kekuasaan, dan siapapun yang anti politik praktis di
kampus justru enggan campur tangan. Mereka tak berniat mengisi kursi utama
organisasi mahasiswa intarkampus. Jikalau ada yang membuka mata dan berniat
mencalonkan diri, lagi-lagi berbagai jerat menghalangi langkahnya. Massa
mahasiswa telah dikuasai oleh ideologi partai yang akan menganggap musuh
siapapun yang berusaha mengambil alih kursi kekuasaan. Kalaupun ada yang
memiliki cukup massa, mereka tidak memiliki strategi yang matang. Berbeda
dengan mahasiswa yang ngebet politik praktis, yang telah menyiapkan strateginya
dengan matang.
Kekalahan kaum intelektual pada
dasarnya terletak pada ketidakacuhan terhadap realita. Mereka berusaha
melindungi diri agar tidak ternodai politik praktis, namun lupa memikirkan
dampak yang terjadi akibat oknum-oknum pegiat kursi kekusaan. Apabila mahasiswa
aktivis yang masih memilki kekuatan independen mau bersatu dan terjun membenahi
keadaan, kemungkinan besar politik identitas di kampus akan berkurang. Dengan
hadirnya pemimpin independen yang tidak memihak kepada partai manapun,
birokrasi kampus akan bisa dikawal dengan baik.
Oleh karena itu, sebagai mahasiswa
yang sadar akan kebobrokan dinamika di dalam kampus, kita perlu saling
mengingatkan satu sama lain dan berusaha mendekatkan jarak antar golongan.
Tidak perlu pandang bulu, apakah dia GMNI, PMII, HMI, KAMMI, tidak peduli dia
mahasiswa kaya, sederhana, stylish, mahasiswa harus mempunyai satu payung yang
kokoh, untuk bekerjasama mengawal birokrasi yang semakin hari semakin sulit
diminta transparansi atas segala kebijakanya.
Kampus lebih layak disebut sebagai
laboratorium negara, bukan miniatur yang menggambarkan kehidupan negara.
Melainkan laboratorium sebagai tempat kaum intelektual diasah dan ditempa untuk
membawa masa depan negara menuju arah yang lebih baik. Ketika fungsi mahasiswa sebagai calon
pengemudi negara dinodai oleh kegiatan-kegiatan politik praktis dan kepentingan
politik identitas, sudah jelas akan dibawa kemana arah negara ini untuk
selanjutnya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar