Desa
itu berada tepat di tepi sebuah hutan lebat yang konon katanya, menurut
penduduk desa dihuni oleh para iblis jahat. Tak seorangpun pernah menginjakkan
kaki disana. Jangankan mendatangi hutan, melihatnya berlama-lama, bahkan dari
kejauhan sekalipun sudah sangat terlarang. Para tetua mengatakan hal itu akan
membahayakan jiwa kita. Karena jika saja seseorang tidak sengaja melihat salah
satu penampakan iblis jahat, maka mereka akan mencuri jiwanya.
Pernah suatu ketika seorang
pendatang tidak sengaja menginjakkan kaki ke dalam hutan. Tentu saja dia sama
sekali tidak tahu-menahu perihal hutan terlarang itu. Beberapa hari menghilang
lalu tiba-tiba ia kembali dengan sorot mata menerawang dan cara berjalan
limbung. Mulutnya meracau tak karuan. Mengatakan banyak hal tentang sihir dan
beberapa hal lain. Sayang sekali bicaranya tidak jelas dan penduduk desa
terlalu takut untuk bertanya. Hari berikutnya ia benar-benar hilang secara
misterius dan tak pernah kembali.
Awan hitam menggantung di kolong
langit sejak pagi. Hari ini adalah hari peringatan hilangnya pendatang di desa
kami. Entah sudah keberapa kalinya sejak seratus tahun terakhir. Kami tidak
pernah lupa mengirimkan hasil panen dan berbagai makanan kedalam hutan. Tentu
tidak harus menginjakkan kaki kesana. Kami hanya perlu menghanyutkan
nampan-nampan penuh makanan. Sungai yang mengalir kearah hutan itu yang akan
mengantarkan. Seusai ritual tahunan yang dipimpin para tetua desa, awan hitam
selalu menyingkir tiba-tiba. Matahari kembali bertahta. Dan kami begitu saja
seolah lepas dari rasa takut untuk hari-hari kedepan, hingga tahun berganti.
“Itu snack dari bapak!”
Seorang bocah kecil tiba-tiba
berteriak memecah kesakralan ritual. Jari mungilnya menunjuk-nunjuk nampan
penuh makanan ringan. Wajahnya memerah, meletup-letup marah melihat snack
oleh-oleh bapaknya dari kota dihanyutkan begitu saja.
“Itu punya Adela! Kenapa dibuang?!”
Adela, tanpa menunggu jawaban dari
orangtuanya sudah berlari mengejar nampan penuh snack yang bergerak cepat diatas permukaan sungai. Kakinya bergerak
lincah melintasi tanah becek. Kedua tangannya merentang menjaga keseimbangan
agar tidak tercebur. Tubuh mungil itu seolah terbang mengikuti nampan-nampan
makanan. Penduduk desa berteriak panik, berusaha mengejar Adela. Namun sia-sia,
beberapa orang bahkan tergelincir jatuh kedalam sungai. Mereka panik, tentu
saja. Sementara gadis kecil itu sudah sangat dekat dengan hutan. Aku memutuskan
mengejar Adela dengan cara lain, berenang. Arus sungai ini cukup deras untuk
memudahkanku berenang cepat menyusul Adela.
Kudengar sayup-sayup suara para
penduduk berteriak. Beberapa menyemangati, termasuk orangtua Adela. Beberapa
yang lain, diantaranya para tetua, berteriak melarang. Jangan sampai ada dua
korban! Itu yang terakhir kudengar sebelum akhirnya aku sadar bahwa diriku juga
berada dalam bahaya. Pohon besar penanda perbatasan desa dengan hutan tampak
sekelabat, lewat begitu saja. Tubuhku terseret arus sungai yang semakin
mendekati hutan ternyata semakin deras. Mungkin ini akhir riwayat hidupku.
Mungkin sebentar lagi akan ada iblis merenggut jiwaku. Dan, Adela. Seharusnya
aku mendengarkan kata para tetua, jangan sampai ada dua korban.
“Mau? Ini snack Liana. Oleh-oleh bapak dari kota.”
Aku mengerjap. Ini benar-benar dalam
hutan. Adela masih asyik mengunyah sambil menyodorkan sebungkus snack padaku. Di sampingnya puluhan
nampan tergeletak. Aliran sungai dihadapan kami sudah kembali tenang. Pandanganku
kembali pada nampan-nampan itu. Bagaimana bisa Adela mengangkat semuanya?
“Apa kau teman gadis ini?”
Aku memutar leher cepat. Seseorang
telah berdiri tepat di belakangku. Oh, tidak. Dia terbang! Aku menelan ludah.
Empat helai sayapnya tampak begitu tipis, bening, seperti sayap capung. Dia
seorang perempuan berambut pirang. Hidung dan bibirnya kecil, matanya lebar
berwarna biru. Bulu-bulu matanya lentik dan alisnya begitu sempurna. Tubuhnya
kecil berisi, tidak gemuk, tidak kurus. Gaun selutut berwarna hijau muda itu
terlihat begitu indah ia kenakan.
“Apa kau bidadari?” tanyaku spontan.
Tiba-tiba ia tertawa nyaring.
Menggema diantara pohon-pohon besar. Suara tawanya merdu, membuatku tersenyum
atas kekonyolanku sendiri.
“Namaku Imroa.” Dia menjulurkan
tangan. Aku menyalami tangan lentiknya perlahan, begitu halus. “Bisa bantu aku
membawa nampan-nampan itu ke kota?”
Tentu saja aku menganggukkan kepala.
Seperti kerbau dicocok hidung. Aku membawa dua nampan kecil. Sementara Imroa,
entah dengan kekuatan apa, menerbangkan sisanya. Kami berjalan beriringan, aku
dan Adela. Imroa dengan sayapnya terbang rendah. Nampan-nampan itu mengikuti di
belakang kami.
Tidak seberapa jauh, sebuah pintu
emas berdiri kokoh diantara dua pohon beringin besar. Imroa merapal mantra.
Pintu itu terbuka menyiratkan sinar terang. Kami masuk mengikuti Imroa. Sebuah
kota warna-warni menyambut penglihatan. Gedung-gedung pencakar langit beraneka
warna. Mewah dan megah. Indah sekali dilihat. Pohon-pohon besar, padang rumput,
bunga-bunga. Pemerintah kota ini pasti peduli lingkungan dan memiliki
kreatifitas tinggi. Adela berseru-seru senang. Dia berceloteh tentang permen
dan gula-gula yang pasti tersedia banyak.
Aku menoleh pada Imroa, meminta
penjelasan. Bagaimana kota sehebat ini bisa berada di tengah hutan? Ia hanya
tersenyum dan memintaku mengikutinya.
Jelas aku dan Adela yang menjadi
pusat perhatian. Atau sebenarnya hanya aku. Semua penghuni kota ini adalah
perempuan bersayap. Mereka sama cantiknya dengan Imroa. Kegiatan mereka
mendadak berhenti begitu kami melintas. Beberapa saling berbisik,
menunjuk-nunjuk, melirik. Aku semakin tidak nyaman. Dan tepat sebelum wajahku
benar-benar memerah malu, kami sampai di sebuah gedung berwarna emas. Penjaga
gedung yang juga perempuan, tampak berbicara sedikit pda Imroa dan segera
mempersilahkan kami masuk.
Di dalam gedung itu aku bertemu sang
legenda desa kami. Pendatang yang hilang sejak seratus tahun lalu. Dia duduk
diatas singgasana besar. Wajahnya tetap begitu tampan. Seolah waktu di tempat
ini sama sekali tidak berjalan. Ia menyambut kehadiranku penuh suka cita.
Memelukku, menanyakan bagaimana kabar desa, kabar dunia di luar sana. Aku
bercerita banyak hal tentang perkembangan tekhnologi, politik, dan beberapa
kekacauan dunia.
“Tinggallah disini. Sudah lama
sekali aku kesepian, tak ada teman. Hahaha... Lihatlah mereka semua perempuan.”
Ucapnya sembari menepuk-nepuk bahuku.
Aku hanya tersenyum. Sebenarnya itu
adalah tawaran yang menarik, tapi...
“Kau bisa menikahi siapapun disini,
berapapun.”
Aku melirik ke arah Imroa yang
tiba-tiba bersemu merah. Kali ini wajah cantiknya benar-benar terlihat seperti
boneka. Baiklah...
“Bagaimana?”
Aku mengangguk setuju. Pria legenda
yang ternyata benar-benar ada itu tertawa senang. Suara terompet terdengar di
luar sana. Adela berjingkrak bilang ingin lihat. Seorang prajurit perempuan
membawakan sepasang sayap untuk Liliana. Setelah terpasang menggunakan mantra,
Liliana terbang rendah keluar gedung emas. Imroa mengikuti sambil
tersenyum-senyum bahagia. Sekarang, setelah seratus tahun, ada dua lelaki di kota
itu. Kota yang para ibunya tidak pernah melahirkan bayi laki-laki.
Desa kembali dirundung duka. Dua
peghuninya telah hilang kedalam hutan. Mereka tau yang hilang tidak akan pernah
kembali. Dibalik kesedihan seluruh desa, seseorang hampir saja mengeluarkan air
mata darah. Dia tahu kemana suaminya menghilang. Dia tahu seluruh rahasia hutan
dengan peri-peri rupawan dan kota menawan itu. Dia benar-benar tahu. Karena dia
begitu cantik. Karena dia adalah salah satu peri yang pergi dari kota demi
melahirkan bayi laki-laki.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar