Minggu, 19 Februari 2017

Negeri Hutan

Desa itu berada tepat di tepi sebuah hutan lebat yang konon katanya, menurut penduduk desa dihuni oleh para iblis jahat. Tak seorangpun pernah menginjakkan kaki disana. Jangankan mendatangi hutan, melihatnya berlama-lama, bahkan dari kejauhan sekalipun sudah sangat terlarang. Para tetua mengatakan hal itu akan membahayakan jiwa kita. Karena jika saja seseorang tidak sengaja melihat salah satu penampakan iblis jahat, maka mereka akan mencuri jiwanya.

            Pernah suatu ketika seorang pendatang tidak sengaja menginjakkan kaki ke dalam hutan. Tentu saja dia sama sekali tidak tahu-menahu perihal hutan terlarang itu. Beberapa hari menghilang lalu tiba-tiba ia kembali dengan sorot mata menerawang dan cara berjalan limbung. Mulutnya meracau tak karuan. Mengatakan banyak hal tentang sihir dan beberapa hal lain. Sayang sekali bicaranya tidak jelas dan penduduk desa terlalu takut untuk bertanya. Hari berikutnya ia benar-benar hilang secara misterius dan tak pernah kembali.
            Awan hitam menggantung di kolong langit sejak pagi. Hari ini adalah hari peringatan hilangnya pendatang di desa kami. Entah sudah keberapa kalinya sejak seratus tahun terakhir. Kami tidak pernah lupa mengirimkan hasil panen dan berbagai makanan kedalam hutan. Tentu tidak harus menginjakkan kaki kesana. Kami hanya perlu menghanyutkan nampan-nampan penuh makanan. Sungai yang mengalir kearah hutan itu yang akan mengantarkan. Seusai ritual tahunan yang dipimpin para tetua desa, awan hitam selalu menyingkir tiba-tiba. Matahari kembali bertahta. Dan kami begitu saja seolah lepas dari rasa takut untuk hari-hari kedepan, hingga tahun berganti.
            “Itu snack dari bapak!”
            Seorang bocah kecil tiba-tiba berteriak memecah kesakralan ritual. Jari mungilnya menunjuk-nunjuk nampan penuh makanan ringan. Wajahnya memerah, meletup-letup marah  melihat snack oleh-oleh bapaknya dari kota dihanyutkan begitu saja.
            “Itu punya Adela! Kenapa dibuang?!”
            Adela, tanpa menunggu jawaban dari orangtuanya sudah berlari mengejar nampan penuh snack yang bergerak cepat diatas permukaan sungai. Kakinya bergerak lincah melintasi tanah becek. Kedua tangannya merentang menjaga keseimbangan agar tidak tercebur. Tubuh mungil itu seolah terbang mengikuti nampan-nampan makanan. Penduduk desa berteriak panik, berusaha mengejar Adela. Namun sia-sia, beberapa orang bahkan tergelincir jatuh kedalam sungai. Mereka panik, tentu saja. Sementara gadis kecil itu sudah sangat dekat dengan hutan. Aku memutuskan mengejar Adela dengan cara lain, berenang. Arus sungai ini cukup deras untuk memudahkanku berenang cepat menyusul Adela.
            Kudengar sayup-sayup suara para penduduk berteriak. Beberapa menyemangati, termasuk orangtua Adela. Beberapa yang lain, diantaranya para tetua, berteriak melarang. Jangan sampai ada dua korban! Itu yang terakhir kudengar sebelum akhirnya aku sadar bahwa diriku juga berada dalam bahaya. Pohon besar penanda perbatasan desa dengan hutan tampak sekelabat, lewat begitu saja. Tubuhku terseret arus sungai yang semakin mendekati hutan ternyata semakin deras. Mungkin ini akhir riwayat hidupku. Mungkin sebentar lagi akan ada iblis merenggut jiwaku. Dan, Adela. Seharusnya aku mendengarkan kata para tetua, jangan sampai ada dua korban.
            “Mau? Ini snack Liana. Oleh-oleh bapak dari kota.”
            Aku mengerjap. Ini benar-benar dalam hutan. Adela masih asyik mengunyah sambil menyodorkan sebungkus snack padaku. Di sampingnya puluhan nampan tergeletak. Aliran sungai dihadapan kami sudah kembali tenang. Pandanganku kembali pada nampan-nampan itu. Bagaimana bisa Adela mengangkat semuanya?
            “Apa kau teman gadis ini?”
            Aku memutar leher cepat. Seseorang telah berdiri tepat di belakangku. Oh, tidak. Dia terbang! Aku menelan ludah. Empat helai sayapnya tampak begitu tipis, bening, seperti sayap capung. Dia seorang perempuan berambut pirang. Hidung dan bibirnya kecil, matanya lebar berwarna biru. Bulu-bulu matanya lentik dan alisnya begitu sempurna. Tubuhnya kecil berisi, tidak gemuk, tidak kurus. Gaun selutut berwarna hijau muda itu terlihat begitu indah ia kenakan.
            “Apa kau bidadari?” tanyaku spontan.
            Tiba-tiba ia tertawa nyaring. Menggema diantara pohon-pohon besar. Suara tawanya merdu, membuatku tersenyum atas kekonyolanku sendiri.
            “Namaku Imroa.” Dia menjulurkan tangan. Aku menyalami tangan lentiknya perlahan, begitu halus. “Bisa bantu aku membawa nampan-nampan itu ke kota?”
            Tentu saja aku menganggukkan kepala. Seperti kerbau dicocok hidung. Aku membawa dua nampan kecil. Sementara Imroa, entah dengan kekuatan apa, menerbangkan sisanya. Kami berjalan beriringan, aku dan Adela. Imroa dengan sayapnya terbang rendah. Nampan-nampan itu mengikuti di belakang kami.
            Tidak seberapa jauh, sebuah pintu emas berdiri kokoh diantara dua pohon beringin besar. Imroa merapal mantra. Pintu itu terbuka menyiratkan sinar terang. Kami masuk mengikuti Imroa. Sebuah kota warna-warni menyambut penglihatan. Gedung-gedung pencakar langit beraneka warna. Mewah dan megah. Indah sekali dilihat. Pohon-pohon besar, padang rumput, bunga-bunga. Pemerintah kota ini pasti peduli lingkungan dan memiliki kreatifitas tinggi. Adela berseru-seru senang. Dia berceloteh tentang permen dan gula-gula yang pasti tersedia banyak.
            Aku menoleh pada Imroa, meminta penjelasan. Bagaimana kota sehebat ini bisa berada di tengah hutan? Ia hanya tersenyum dan memintaku mengikutinya.
            Jelas aku dan Adela yang menjadi pusat perhatian. Atau sebenarnya hanya aku. Semua penghuni kota ini adalah perempuan bersayap. Mereka sama cantiknya dengan Imroa. Kegiatan mereka mendadak berhenti begitu kami melintas. Beberapa saling berbisik, menunjuk-nunjuk, melirik. Aku semakin tidak nyaman. Dan tepat sebelum wajahku benar-benar memerah malu, kami sampai di sebuah gedung berwarna emas. Penjaga gedung yang juga perempuan, tampak berbicara sedikit pda Imroa dan segera mempersilahkan kami masuk.
            Di dalam gedung itu aku bertemu sang legenda desa kami. Pendatang yang hilang sejak seratus tahun lalu. Dia duduk diatas singgasana besar. Wajahnya tetap begitu tampan. Seolah waktu di tempat ini sama sekali tidak berjalan. Ia menyambut kehadiranku penuh suka cita. Memelukku, menanyakan bagaimana kabar desa, kabar dunia di luar sana. Aku bercerita banyak hal tentang perkembangan tekhnologi, politik, dan beberapa kekacauan dunia.
            “Tinggallah disini. Sudah lama sekali aku kesepian, tak ada teman. Hahaha... Lihatlah mereka semua perempuan.” Ucapnya sembari menepuk-nepuk bahuku.
            Aku hanya tersenyum. Sebenarnya itu adalah tawaran yang menarik, tapi...
            “Kau bisa menikahi siapapun disini, berapapun.”
            Aku melirik ke arah Imroa yang tiba-tiba bersemu merah. Kali ini wajah cantiknya benar-benar terlihat seperti boneka. Baiklah...
            “Bagaimana?”
            Aku mengangguk setuju. Pria legenda yang ternyata benar-benar ada itu tertawa senang. Suara terompet terdengar di luar sana. Adela berjingkrak bilang ingin lihat. Seorang prajurit perempuan membawakan sepasang sayap untuk Liliana. Setelah terpasang menggunakan mantra, Liliana terbang rendah keluar gedung emas. Imroa mengikuti sambil tersenyum-senyum bahagia. Sekarang, setelah seratus tahun, ada dua lelaki di kota itu. Kota yang para ibunya tidak pernah melahirkan bayi laki-laki.

            Desa kembali dirundung duka. Dua peghuninya telah hilang kedalam hutan. Mereka tau yang hilang tidak akan pernah kembali. Dibalik kesedihan seluruh desa, seseorang hampir saja mengeluarkan air mata darah. Dia tahu kemana suaminya menghilang. Dia tahu seluruh rahasia hutan dengan peri-peri rupawan dan kota menawan itu. Dia benar-benar tahu. Karena dia begitu cantik. Karena dia adalah salah satu peri yang pergi dari kota demi melahirkan bayi laki-laki.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar