Minggu, 12 Februari 2017

Fur Therese

Salju turun lebat sekali di luar jendela. Cuaca terasa begitu dingin dan malam terus beranjak larut. Therese belum bisa menutup kelopak mata, salju yang turun menarik perhatiannya untuk tetap terjaga malam ini. Gadis yang tidak seharusnya berada di daerah subtropis itu tercenung sendiri, salju yang selalu ingin dilihatnya kini jelas terhampar tanpa henti. Andai saja waktunya tepat, Therese yang berjiwa Mareta itu pasti sudah berlari keluar sejak tadi untuk bermain bola-bola salju. Hanya saja, terperangkap dalam tubuh orang lain membuat Mareta melupakan semua mimpi-mimpi kecilnya.

            Di tengah derasnya salju dan jalan kota yang lengang, sesosok bayangan hitam berjalan pelan didampingi payung biru. Tanpa diduga, sosok itu berhenti tepat di depan pintu gerbang rumah Therese. Ia mendongak, melihat kamar Therese yang masih menyala. Laki-laki berambut ikal itu tampak sayu namun wajahnya menenangkan. Therese memandang lekat sosok lelaki yang mematung di depan pagar rumahnya , ada sesuatu yang tidak dapat dimengerti ketika Therese memandangnya semakin lama.
            “Therese.” Seseorang menegur. “Kenapa belum tidur?”
            Therese menarik pandangannya dari lelaki di depan gerbang rumah itu. Jacob telah berdiri di dekatnya dengan tersenyum simpul.
            “Aku tidak ingin lekas tidur malam ini” jawab Therese. “Apa yang membawamu kemari, Jacob?”
            “Aku hanya ingin memastikan kau tidur dengan nyaman, tapi nyatanya_”
            Therese tersenyum. Ia mengerti benar selama ini Jacob memperlakukannya begitu baik bahkan teramat baik. Beberapa saat keduanya saling diam sampai Therese memutuskan kembali melihat keluar jendela. Lelaki berpayung biru itu telah pergi.
            “Apa yang kau perhatikan?” tanya Jacob sembari ikut menoleh keluar. Jalanan sepi sekali, hanya ada butiran salju yang bertumpuk menutup aspal dan lampu-lampu kuning yang menyala redup.
            “Salju,” jawab Therese singkat.
            Jacob terdiam. Sejujurnya ia menyadari ada banyak hal yang berubah dari Therese semenjak kecelakaan itu. Ia kenal sekali seperti apa Therese. Tentang semua kepribadian dan hal-hal yang ia suka dan tidak suka. Termasuk Therese yang sebelum kecelakaan tidak menyukai salju.
            “Apa kau tidak memintaku bermain musik?” tanya Jacob setelah hening menyela dalam beberapa waktu.
            Therese mendongak melihat Jacob. Apa Jacob tidak tau dirinya benci pada melodi-melodi musik?”
            “Ada  yang slaah?” Jacob terheran melihat ekspresi yang ditunjukkan Therese. “Biasanya kau suka sekali mendengarkanku bermain musik.”
            “Oh...” Therese berseloroh pelan. “Yah, baiklah” jawabnya. Therese sadar ada banyak sekali perbedaan antara diri sejatinya dan diri wanita bernama Therese yang sedang ditempatinya saat ini.
            Jacob telah duduk menghadap piano yang berada di pojok kamar besar itu. Mareta, yang kini telah menjadi sosok Therese, mau tidak mau terpaksa harus mendengarkan melodi yang akan dimainkan Jacob.
            “Ini ungkapanku...” lirih Jacob.
            “Apa?” Therese mengencangkan pendengarannya demi mendengar suara pelan Jacob barusan.
            Namun Jacob tidak mau mengulangi kata-katanya. Jemari panjangnya langsung saja menekan tuts-tuts piano, memperdengarkan melodi yang sama sekali tidak dikenali Therese.
            Melodi warna-warni bertebaran di langit kamar. Mengisi setiap sudut hingga penuh berdesakan. Hingga beberapa nada memutuskan keluar kamar melalui celah-celah pintu dan jendela. Mengembara seantero rumah dan memenuhi jalanan. Alunan nada merdu itu mengalun diantara butiran salju hingga sampai pada telinga seorang lelaki berwajah sayu dengan payung biru. Lelaki itu tertunduk mendengarkan melodi yang dimainkan. Ia tahu betul nada-nada itu penuh cinta dan harapan. Malam dingin bersalju telah membekukan hati sang lelaki berpayung. Dengan langkah pelan ia beranjak dari daerah rumah Therese. Kembali pulang ke gubuk lagunya di seberang samudera.
            Therese sedikit menikmati lagu yang dimainkan Jacob. Namun tetap saja, ketidaksukaannya pada melodi klasik membuat penilaian Therese cukup subjektif.
            Salju masih berhamburan ketika Jacob menyelesaikan permainan. Kini ia berbalik kepada Therese dengan setangkai mawar tanpa duri yang entah sejak kapan sudah digenggamnya. Therese membeku, ia bisa menebak kemana jalan cerita malam ini. Jacob berjalan mendekati wanita pujaan hatinya, wajah itu terpaksa menyunggingkan senyum terbaik meski kentara sekali ia gugup.
            “Maukah kau menikah denganku, Therese Malfatti?”
            Jacob menawarkan bunga mawarnya kepada Therse yang menatap bingung.
            “Ini kali kedua aku melamarmu, Therese. Kuharap kau tidak menolakku untuk yang kedua kalinya.”
            Therese, yang sebenarnya adalah Mareta itu tetap membeku. Kedua kali? Oh, tidak, ini pertama kalinya ada seoarng lelaki berlutut dihadapannya dengan setangkai mawar terulur manis.
            “Therese?” tegur Jacob. Matanya yang teduh tampak gelisah dan penuh harap. Mata itu, sepasang mata yang pertama kali dilihat Therese ketika tiba-tiba terdampar di masa yang sama sekali asing ini, mata yang selalu mengkhawatirkannya. Therese mulai menimbang. Tidak ada orang lain sebaik Jacob di masa ini. Jacob yang selalu ada untuknya, selalu sabar menceritakan kehidupan Therese sebelum kecelakaan dan setia menjawab pertanyaan-pertanyaan konyolnya.
            Tapi bagaimana dengan papa dan mama di rumah? Mereka pasti sangat khawatir. Apa yang akan mereka pikirkan jika putri sulungnya tiba-tiba menikah dengan lelaki kuno dari masa lalu...
            “Baiklah Therese, aku mengerti” ucap Jacob akhirnya, setelah cukup lama menunggu Therse yang hanya diam mematung.
            Jantung Therese mendadak berdegup lebih keras lagi, melihat Jacob berjalan menjauhinya, menuju pintu. Ada sebongkah rasa bersalah yang teramat menyakitkan melihat mawar merah itu terkulai dalam genggaman Jacob yang semakin dekat dengan pintu keluar.
            Therese memutar otak cepat. Aku bukan Mareta! Bentaknya pada diri sendiri. Di sini aku adalah Therese, Therese Malfatti yang hidup di tahun 1888! Aku Therese, bukan Mareta!
            “Jacob!” panggil Therese. Dengan langkah pasti, Mareta membawa tubuh Therese melangkah cepat menyusul Jacob. Tanpa banyak berpikir lagi, dipeluknya  punggung Jacob.
            Denting jam seolah berhenti, semua telah terjawab malam ini. Jacob tergugu di tempatnya berdiri, merasakan tubuh Therese menempel di punggungnya yang sempat rapuh. Setelah berhasil bangun dari keterkejutan, Jacob menyunggingkan senyum lega. Dengan lembut, disisipkannya bunga mawar yang sempat kehilangan warnanya itu kedalam tangan  Therese yang melingkari perutnya. Therese menerima bunga itu, sementara diam-diam matanya meneteskan sebulir air bening. Benarkah keputusannya malam ini?
            “Kita akan menikah minggu depan” kata Jacob lembut. Therese hanya diam dan pasrah. Apa yang bisa diperjuangkannya di lingkungan yang sama sekali tidak ia kenali ini?
            ***
            Persiapan pernikahan dilakukan dengan cepat seolah tanpa ada satupun kendala yang berani menghadang kebahagiaan Jacob. Keluarga Therese dan Jacob telah sama-sama merestui, bahkan kenatar sekali dua keluarga besar itu sangat bahagia dengan pernikahan ini. Musim salju masih berlangsung meski hujan salju tidak lagi separah beberapa hari lalu.
            Therese tak merasakan apapun selain sensasi-sensasi kekanakan yang menyenangkan saat ia mebcoba berbagai gaun pengantin, memilih desain undangan pernikahan dan bucket bunga serta permata-permata cincin kawinnya. Pernikahan ini seperti sebuah permainan bagi Therese, tak ada cinta. Yang ia tahu, sebentar lagi dirinya hanya akan tinggal bersama sesosok Jacob yang tampan dan baik hati dalam waktu yang lama.
            Sehari sebelum pernikahan, salju tiba-tiba melebat. Hampir tak ada seorangpun di luar rumah. malam belum begitu larut ketika Therese mengendap-endap keluar rumah untuk menyelamatkan anak kucing kedinginan. Dari jendela kamar, dilihatnya kucing mungil itu meringkuk di bawah kursi taman untuk berlindung dari hujan salju.
            “Kasihan sekali...” ujar Therese setelah membawa kucing berbulu putih itu kedalam dekapannya. Kucing itu mengeram pelan, tubuhnya lemas karena dingin dan lapar. Therese mempererat dekapannya, berusaha melindungi si kucing dari butiran salju yang masih bertaburan seperti kacang polong dari langit.
            Saat hendak melangkah masuk, Therese melihat sesosok lelaki dengan payung biru yang datang seminggu lalu kembali berdiri di depan pintu gerbang rumah. Gadis itu tak kuasa menahan rasa penasarannya. Perlahan, Therese mendekati gerbang. Awalnya ia takut kalau-kalau lelaki itu akan berbuat jahat atau justru pergi karena merasa ketahuan, namun ia tetap berdiri disana tanpa melakukan apa-apa.
            “Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Therese ragu-ragu.
            Lelaki itu diam. wajahnya tertutup bayangan hitam payung yang berlumur salju.
            “Selamat untuk pernikahanmu” katanya setelah beberapa saat.
            Therese mengerutkan kening. Apakah Therese yang dulu sebenarnya mengenal lelaki ini? Siapa dia? Ah, Mareta merasa sangat bersalah karena tak berhasil mengenali sosok di hadapannya.
            “Maaf, apa kita saling mengenal sebelumnya?” tanya Therese tanpa pikir panjang.
            Lelaki itu mengangkat payung birunya. Dari balik jeruji pintu gerbang Therese dapat melihat sosok lelaki berambut ikal dangan mata terang. Wajahnya tampak cerdas dan tenang. Hidung lelaki itu begitu sempurna dengan garis wajah yang anggun. Therese terpesona untuk beberapa saat. Butir-butir salju menenggelamkan kakinya lebih dalam tanpa Therese sadari.
            “Aku mendengar kabar tentangmu yang hilang ingatan,” kata lelaki itu. “Tapi tidak kusangka kau juga melupakanku, Therese.”
            Therese terhenyak. Siapa dia? Ucapannya begitu menyakitkan. Apakah ada hal penting yang telah terlewat? Tentang lelaki ini?
            “Maafkan aku...” seloroh Therese dengan perasaan bersalah. Ia merasa seharusnya dicarinya segala informasi tentang Therese yang sebenarnya, tidak hanya dari Jacob melainkan dari berbagai sumber, seharusnya. Tapi semua sudah terlambat, Therese telah menerima Jacob tanpa tahu siapa sebenarnya yang dicintai Therese.
            Lelaki itu menggoreskan segaris senyum, wajah tampannya tampak begitu hangat. Therese membalasnya dengan senyuman tanpa tau harus berbuat apa. Di bawah rinai salju, dibatasi oleh besi-besi gerbang yang menjulang, sepasang insan kembali dipertemukan dalam rasa yang tidak saling diketahui.
            “Masuklah. Aku khawatir kau akan jatuh sakit di hari pernikahanmu besok.” Suara lelaki itu memecah sunyi diantara kepingan salju.
            Therese diam. Seakan ada sosok kecil dalam hatinya yang berteriak “Therese jangan pergi! Therese, rasakan hatimu. Kau merindukan laki-laki di hadapanmu itu dan ingin bersamanya!”
            “Masuklah,” ulang lelaki itu.
            Sekali lagi Therese memandang wajah sosok di hadapannya yang begitu memesona. Yang terpenting, mata Therese seolah terbiasa dengan wajah itu. Ia terasa begitu familiar meski Therese yakin betul ini kali pertamanya mereka bertemu.
            “Ada yang ingin aku tanyakan.” Therese membenahi posisi kucing dalam dekapannya agar tetap nyaman.
            “Ya?”
            “Pertama. Sedekat apa hubunganmu denganku yang dulu?”
            Lelaki itu tidak menjawab beberapa saat. Kemdudian ia tersenyum sembari berkata, “kau adalah teman terbaikku di masa lalu.”
            “Kalau begitu, datanglah ke upacara pernikahanku besok” ujar Therese. Wajahnya bersemu merah karena cuaca semakin dingin.
            Lagi-lagi lelaki itu terdiam. Kali ini untuk waktu yang agak lebih lama. Setelah Therese hampir bosan menunggu jawaban, barulah lelaki itu berkata “ya” dengan begitu singkat.
            “Kedua” lanjut Therese, “kenapa hampir setiap malam ketika salju turun, kau berdiri di sini sambil menatap kamarku?”
            “Kau melihatku?” lelaki itu balik bertanya.
            “Tentu saja. Bagaimana mungkin aku melewatkan lelaki mencurigakan yang memandang kamarku?”
            “Maafkan aku.”
            “Aku akan memaafkan jika kau menjawab pertanyaan keduaku tadi.”
            “Aku tidak bisa memberitahumu, Therese” jawabnya. “Kau harus mengingatnya sendiri.”
            “Tapi_”
            “Masuklah!” potong lelaki itu. “Sebelum calon suamimu menemukan kita dan kau akan berada dalam masalah” katanya sembari berpaling. Dengan langkah pelan yang pasti ia meninggalkan Therese dengan segala tanda tanya besar.
            “Sekali lagi selamat untuk pernikahanmu!” serunya dari kejauhan. “Semoga kau bahagia, Therese Malfatti!”
            Salju masih bertebaran dari langit gelap. Therese terus memandangi setiap langkah yan menjauhinya. Setelah sosok itu hilang tertutup tikungan jalan, Therese baru kembali ke dalam rumah. menghangatkan kucing temuannya di depan perapian dan memberinya semangkuk susu hangat.
            ***
            Hari pernikahan tiba. Sisa-sisa salju semalam telah mencair oleh sinar terang sang mentari, menjadi genangan air yang memenuhi cekungan jalan. Suasana begitu tenang di luar sana, namun tidak di dalam rumah keluarga besar Therese Malfatti. Sang calon pengantin wanita benar-benar tidak bisa menyembunyikan kegelisahannya. Rasa takut dan bimbang tergambar jelas pada  wajah cantik itu. Therese merasa ini terlalu cepat. Beberapa saat lalu ia bahkan masih seorang gadis di awal bangku SMA yang sangat  membenci melodi-melodi klasik. Sampai kotak musik yang melantukan melodi Fur Elise membawanya ke zaman yang salah ini.
            “Therese! Sepuluh menit lagi kau harus keluar!” seru seseorang di luar kamar.
            Therese manarik nafas panjang. Dipandanginya sosok gadis cantik dalam cermin. Dengan gaun putih berpadu pita-pita emas dan sanggul rambut yang elegan. Tetap bernuansa kuno meski diakuinya gadis dalam cermin itu teramat menawan. Tapi sosok itu bukan dirinya. Therese tidak mengerti mengapa ia harus menjalani kehidupan orang lain seperti ini. Setetes embun bening menyeruak dari sudut matanya yang berpoles. Semua sudah di ujung tanduk, pernikahan sebentar lagi akan dilangsungkan, Therese tidak bisa mundur lagi.
            Tiba-tiba sosok lelaki berpayung biru itu muncul dalam benak Therese. Entah bagaimana ia selalu merasa tenang saat memikirkan sosok itu. Lelaki yang bahkan Therese tidak tau siapa namanya.
            “Mungkin Therese yang dulu mengenal pria itu dengan baik.” Bisik Therese pada dirinya dalam cermin. “Maafkan aku Therese, aku tidak mengerti. Apakah aku salah menerima Jacob sebagai suamiku? Apa ada orang lain yang sebenarnya kau cintai, Therese?”
            Hening, tentu saja tak ada jawaban dari sosoknya dalam cermin. Therese palsu itu terduduk lesu. Hatinya begitu sedih hingga air mata mengalir dari kedua bola mata yang telah berpoles anggun

“Apa yang harus aku lakukan?”
--------
Bersambung

4 komentar:

  1. bagus
    klo udah tuntas coba ajukan bwt jadi novel

    BalasHapus
    Balasan
    1. btw sel, aq ada cerita juga. tapi bimgung mau ngembanginnya.

      Hapus
    2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
  2. Terimakasih kawan
    Langsung chat saja hehe

    BalasHapus