Salju
turun lebat sekali di luar jendela. Cuaca terasa begitu dingin dan malam terus
beranjak larut. Therese belum bisa menutup kelopak mata, salju yang turun
menarik perhatiannya untuk tetap terjaga malam ini. Gadis yang tidak seharusnya
berada di daerah subtropis itu tercenung sendiri, salju yang selalu ingin
dilihatnya kini jelas terhampar tanpa henti. Andai saja waktunya tepat, Therese
yang berjiwa Mareta itu pasti sudah berlari keluar sejak tadi untuk bermain
bola-bola salju. Hanya saja, terperangkap dalam tubuh orang lain membuat Mareta
melupakan semua mimpi-mimpi kecilnya.
Di tengah derasnya salju dan jalan
kota yang lengang, sesosok bayangan hitam berjalan pelan didampingi payung
biru. Tanpa diduga, sosok itu berhenti tepat di depan pintu gerbang rumah
Therese. Ia mendongak, melihat kamar Therese yang masih menyala. Laki-laki
berambut ikal itu tampak sayu namun wajahnya menenangkan. Therese memandang
lekat sosok lelaki yang mematung di depan pagar rumahnya , ada sesuatu yang
tidak dapat dimengerti ketika Therese memandangnya semakin lama.
“Therese.” Seseorang menegur. “Kenapa
belum tidur?”
Therese
menarik pandangannya dari lelaki di depan gerbang rumah itu. Jacob telah
berdiri di dekatnya dengan tersenyum simpul.
“Aku tidak ingin lekas tidur malam
ini” jawab Therese. “Apa yang membawamu kemari, Jacob?”
“Aku hanya ingin memastikan kau
tidur dengan nyaman, tapi nyatanya_”
Therese tersenyum. Ia mengerti benar
selama ini Jacob memperlakukannya begitu baik bahkan teramat baik. Beberapa
saat keduanya saling diam sampai Therese memutuskan kembali melihat keluar
jendela. Lelaki berpayung biru itu telah pergi.
“Apa yang kau perhatikan?” tanya
Jacob sembari ikut menoleh keluar. Jalanan sepi sekali, hanya ada butiran salju
yang bertumpuk menutup aspal dan lampu-lampu kuning yang menyala redup.
“Salju,” jawab Therese singkat.
Jacob terdiam. Sejujurnya ia
menyadari ada banyak hal yang berubah dari Therese semenjak kecelakaan itu. Ia
kenal sekali seperti apa Therese. Tentang semua kepribadian dan hal-hal yang ia
suka dan tidak suka. Termasuk Therese yang sebelum kecelakaan tidak menyukai
salju.
“Apa kau tidak memintaku bermain
musik?” tanya Jacob setelah hening menyela dalam beberapa waktu.
Therese mendongak melihat Jacob. Apa
Jacob tidak tau dirinya benci pada melodi-melodi musik?”
“Ada
yang slaah?” Jacob terheran melihat ekspresi yang ditunjukkan Therese.
“Biasanya kau suka sekali mendengarkanku bermain musik.”
“Oh...” Therese berseloroh pelan.
“Yah, baiklah” jawabnya. Therese sadar ada banyak sekali perbedaan antara diri
sejatinya dan diri wanita bernama Therese yang sedang ditempatinya saat ini.
Jacob telah duduk menghadap piano
yang berada di pojok kamar besar itu. Mareta, yang kini telah menjadi sosok
Therese, mau tidak mau terpaksa harus mendengarkan melodi yang akan dimainkan
Jacob.
“Ini ungkapanku...” lirih Jacob.
“Apa?” Therese mengencangkan
pendengarannya demi mendengar suara pelan Jacob barusan.
Namun Jacob tidak mau mengulangi
kata-katanya. Jemari panjangnya langsung saja menekan tuts-tuts piano,
memperdengarkan melodi yang sama sekali tidak dikenali Therese.
Melodi warna-warni bertebaran di
langit kamar. Mengisi setiap sudut hingga penuh berdesakan. Hingga beberapa
nada memutuskan keluar kamar melalui celah-celah pintu dan jendela. Mengembara
seantero rumah dan memenuhi jalanan. Alunan nada merdu itu mengalun diantara
butiran salju hingga sampai pada telinga seorang lelaki berwajah sayu dengan
payung biru. Lelaki itu tertunduk mendengarkan melodi yang dimainkan. Ia tahu
betul nada-nada itu penuh cinta dan harapan. Malam dingin bersalju telah
membekukan hati sang lelaki berpayung. Dengan langkah pelan ia beranjak dari
daerah rumah Therese. Kembali pulang ke gubuk lagunya di seberang samudera.
Therese sedikit menikmati lagu yang
dimainkan Jacob. Namun tetap saja, ketidaksukaannya pada melodi klasik membuat
penilaian Therese cukup subjektif.
Salju masih berhamburan ketika Jacob
menyelesaikan permainan. Kini ia berbalik kepada Therese dengan setangkai mawar
tanpa duri yang entah sejak kapan sudah digenggamnya. Therese membeku, ia bisa
menebak kemana jalan cerita malam ini. Jacob berjalan mendekati wanita pujaan
hatinya, wajah itu terpaksa menyunggingkan senyum terbaik meski kentara sekali
ia gugup.
“Maukah kau menikah denganku,
Therese Malfatti?”
Jacob menawarkan bunga mawarnya
kepada Therse yang menatap bingung.
“Ini kali kedua aku melamarmu,
Therese. Kuharap kau tidak menolakku untuk yang kedua kalinya.”
Therese, yang sebenarnya adalah
Mareta itu tetap membeku. Kedua kali? Oh, tidak, ini pertama kalinya ada
seoarng lelaki berlutut dihadapannya dengan setangkai mawar terulur manis.
“Therese?” tegur Jacob. Matanya yang
teduh tampak gelisah dan penuh harap. Mata itu, sepasang mata yang pertama kali
dilihat Therese ketika tiba-tiba terdampar di masa yang sama sekali asing ini,
mata yang selalu mengkhawatirkannya. Therese mulai menimbang. Tidak ada orang
lain sebaik Jacob di masa ini. Jacob yang selalu ada untuknya, selalu sabar
menceritakan kehidupan Therese sebelum kecelakaan dan setia menjawab
pertanyaan-pertanyaan konyolnya.
Tapi bagaimana dengan papa dan mama
di rumah? Mereka pasti sangat khawatir. Apa yang akan mereka pikirkan jika
putri sulungnya tiba-tiba menikah dengan lelaki kuno dari masa lalu...
“Baiklah Therese, aku mengerti” ucap
Jacob akhirnya, setelah cukup lama menunggu Therse yang hanya diam mematung.
Jantung Therese mendadak berdegup
lebih keras lagi, melihat Jacob berjalan menjauhinya, menuju pintu. Ada
sebongkah rasa bersalah yang teramat menyakitkan melihat mawar merah itu
terkulai dalam genggaman Jacob yang semakin dekat dengan pintu keluar.
Therese memutar otak cepat. Aku
bukan Mareta! Bentaknya pada diri sendiri. Di sini aku adalah Therese, Therese
Malfatti yang hidup di tahun 1888! Aku Therese, bukan Mareta!
“Jacob!” panggil Therese. Dengan
langkah pasti, Mareta membawa tubuh Therese melangkah cepat menyusul Jacob.
Tanpa banyak berpikir lagi, dipeluknya punggung
Jacob.
Denting jam seolah berhenti, semua
telah terjawab malam ini. Jacob tergugu di tempatnya berdiri, merasakan tubuh
Therese menempel di punggungnya yang sempat rapuh. Setelah berhasil bangun dari
keterkejutan, Jacob menyunggingkan senyum lega. Dengan lembut, disisipkannya
bunga mawar yang sempat kehilangan warnanya itu kedalam tangan Therese yang melingkari perutnya. Therese
menerima bunga itu, sementara diam-diam matanya meneteskan sebulir air bening.
Benarkah keputusannya malam ini?
“Kita akan menikah minggu depan”
kata Jacob lembut. Therese hanya diam dan pasrah. Apa yang bisa diperjuangkannya
di lingkungan yang sama sekali tidak ia kenali ini?
***
Persiapan pernikahan dilakukan
dengan cepat seolah tanpa ada satupun kendala yang berani menghadang
kebahagiaan Jacob. Keluarga Therese dan Jacob telah sama-sama merestui, bahkan
kenatar sekali dua keluarga besar itu sangat bahagia dengan pernikahan ini.
Musim salju masih berlangsung meski hujan salju tidak lagi separah beberapa
hari lalu.
Therese tak merasakan apapun selain
sensasi-sensasi kekanakan yang menyenangkan saat ia mebcoba berbagai gaun
pengantin, memilih desain undangan pernikahan dan bucket bunga serta
permata-permata cincin kawinnya. Pernikahan ini seperti sebuah permainan bagi
Therese, tak ada cinta. Yang ia tahu, sebentar lagi dirinya hanya akan tinggal
bersama sesosok Jacob yang tampan dan baik hati dalam waktu yang lama.
Sehari sebelum pernikahan, salju
tiba-tiba melebat. Hampir tak ada seorangpun di luar rumah. malam belum begitu
larut ketika Therese mengendap-endap keluar rumah untuk menyelamatkan anak
kucing kedinginan. Dari jendela kamar, dilihatnya kucing mungil itu meringkuk
di bawah kursi taman untuk berlindung dari hujan salju.
“Kasihan sekali...” ujar Therese
setelah membawa kucing berbulu putih itu kedalam dekapannya. Kucing itu
mengeram pelan, tubuhnya lemas karena dingin dan lapar. Therese mempererat
dekapannya, berusaha melindungi si kucing dari butiran salju yang masih
bertaburan seperti kacang polong dari langit.
Saat hendak melangkah masuk, Therese
melihat sesosok lelaki dengan payung biru yang datang seminggu lalu kembali
berdiri di depan pintu gerbang rumah. Gadis itu tak kuasa menahan rasa
penasarannya. Perlahan, Therese mendekati gerbang. Awalnya ia takut kalau-kalau
lelaki itu akan berbuat jahat atau justru pergi karena merasa ketahuan, namun
ia tetap berdiri disana tanpa melakukan apa-apa.
“Apa yang kau lakukan di sini?”
tanya Therese ragu-ragu.
Lelaki itu diam. wajahnya tertutup
bayangan hitam payung yang berlumur salju.
“Selamat untuk pernikahanmu” katanya
setelah beberapa saat.
Therese mengerutkan kening. Apakah
Therese yang dulu sebenarnya mengenal lelaki ini? Siapa dia? Ah, Mareta merasa
sangat bersalah karena tak berhasil mengenali sosok di hadapannya.
“Maaf, apa kita saling mengenal
sebelumnya?” tanya Therese tanpa pikir panjang.
Lelaki itu mengangkat payung
birunya. Dari balik jeruji pintu gerbang Therese dapat melihat sosok lelaki
berambut ikal dangan mata terang. Wajahnya tampak cerdas dan tenang. Hidung
lelaki itu begitu sempurna dengan garis wajah yang anggun. Therese terpesona
untuk beberapa saat. Butir-butir salju menenggelamkan kakinya lebih dalam tanpa
Therese sadari.
“Aku mendengar kabar tentangmu yang
hilang ingatan,” kata lelaki itu. “Tapi tidak kusangka kau juga melupakanku,
Therese.”
Therese terhenyak. Siapa dia? Ucapannya
begitu menyakitkan. Apakah ada hal penting yang telah terlewat? Tentang lelaki
ini?
“Maafkan aku...” seloroh Therese
dengan perasaan bersalah. Ia merasa seharusnya dicarinya segala informasi
tentang Therese yang sebenarnya, tidak hanya dari Jacob melainkan dari berbagai
sumber, seharusnya. Tapi semua sudah terlambat, Therese telah menerima Jacob
tanpa tahu siapa sebenarnya yang dicintai Therese.
Lelaki itu menggoreskan segaris
senyum, wajah tampannya tampak begitu hangat. Therese membalasnya dengan senyuman
tanpa tau harus berbuat apa. Di bawah rinai salju, dibatasi oleh besi-besi
gerbang yang menjulang, sepasang insan kembali dipertemukan dalam rasa yang
tidak saling diketahui.
“Masuklah. Aku khawatir kau akan
jatuh sakit di hari pernikahanmu besok.” Suara lelaki itu memecah sunyi
diantara kepingan salju.
Therese diam. Seakan ada sosok kecil
dalam hatinya yang berteriak “Therese
jangan pergi! Therese, rasakan hatimu. Kau merindukan laki-laki di hadapanmu
itu dan ingin bersamanya!”
“Masuklah,” ulang
lelaki itu.
Sekali lagi Therese memandang wajah
sosok di hadapannya yang begitu memesona. Yang terpenting, mata Therese seolah terbiasa
dengan wajah itu. Ia terasa begitu familiar meski Therese yakin betul ini kali
pertamanya mereka bertemu.
“Ada yang ingin aku tanyakan.”
Therese membenahi posisi kucing dalam dekapannya agar tetap nyaman.
“Ya?”
“Pertama. Sedekat apa hubunganmu
denganku yang dulu?”
Lelaki itu tidak menjawab beberapa
saat. Kemdudian ia tersenyum sembari berkata, “kau adalah teman terbaikku di
masa lalu.”
“Kalau begitu, datanglah ke upacara
pernikahanku besok” ujar Therese. Wajahnya bersemu merah karena cuaca semakin
dingin.
Lagi-lagi lelaki itu terdiam. Kali
ini untuk waktu yang agak lebih lama. Setelah Therese hampir bosan menunggu jawaban,
barulah lelaki itu berkata “ya” dengan begitu singkat.
“Kedua” lanjut Therese, “kenapa
hampir setiap malam ketika salju turun, kau berdiri di sini sambil menatap
kamarku?”
“Kau melihatku?” lelaki itu balik
bertanya.
“Tentu saja. Bagaimana mungkin aku
melewatkan lelaki mencurigakan yang memandang kamarku?”
“Maafkan aku.”
“Aku akan memaafkan jika kau
menjawab pertanyaan keduaku tadi.”
“Aku tidak bisa memberitahumu,
Therese” jawabnya. “Kau harus mengingatnya sendiri.”
“Tapi_”
“Masuklah!” potong lelaki itu.
“Sebelum calon suamimu menemukan kita dan kau akan berada dalam masalah”
katanya sembari berpaling. Dengan langkah pelan yang pasti ia meninggalkan
Therese dengan segala tanda tanya besar.
“Sekali lagi selamat untuk
pernikahanmu!” serunya dari kejauhan. “Semoga kau bahagia, Therese Malfatti!”
Salju masih bertebaran dari langit
gelap. Therese terus memandangi setiap langkah yan menjauhinya. Setelah sosok
itu hilang tertutup tikungan jalan, Therese baru kembali ke dalam rumah.
menghangatkan kucing temuannya di depan perapian dan memberinya semangkuk susu
hangat.
***
Hari pernikahan tiba. Sisa-sisa
salju semalam telah mencair oleh sinar terang sang mentari, menjadi genangan
air yang memenuhi cekungan jalan. Suasana begitu tenang di luar sana, namun
tidak di dalam rumah keluarga besar Therese Malfatti. Sang calon pengantin
wanita benar-benar tidak bisa menyembunyikan kegelisahannya. Rasa takut dan bimbang
tergambar jelas pada wajah cantik itu.
Therese merasa ini terlalu cepat. Beberapa saat lalu ia bahkan masih seorang
gadis di awal bangku SMA yang sangat membenci melodi-melodi klasik. Sampai kotak
musik yang melantukan melodi Fur Elise
membawanya ke zaman yang salah ini.
“Therese! Sepuluh menit lagi kau
harus keluar!” seru seseorang di luar kamar.
Therese manarik nafas panjang.
Dipandanginya sosok gadis cantik dalam cermin. Dengan gaun putih berpadu
pita-pita emas dan sanggul rambut yang elegan. Tetap bernuansa kuno meski
diakuinya gadis dalam cermin itu teramat menawan. Tapi sosok itu bukan dirinya.
Therese tidak mengerti mengapa ia harus menjalani kehidupan orang lain seperti
ini. Setetes embun bening menyeruak dari sudut matanya yang berpoles. Semua
sudah di ujung tanduk, pernikahan sebentar lagi akan dilangsungkan, Therese
tidak bisa mundur lagi.
Tiba-tiba sosok lelaki berpayung
biru itu muncul dalam benak Therese. Entah bagaimana ia selalu merasa tenang
saat memikirkan sosok itu. Lelaki yang bahkan Therese tidak tau siapa namanya.
“Mungkin Therese yang dulu mengenal
pria itu dengan baik.” Bisik Therese pada dirinya dalam cermin. “Maafkan aku
Therese, aku tidak mengerti. Apakah aku salah menerima Jacob sebagai suamiku?
Apa ada orang lain yang sebenarnya kau cintai, Therese?”
Hening, tentu saja tak ada jawaban
dari sosoknya dalam cermin. Therese palsu itu terduduk lesu. Hatinya begitu
sedih hingga air mata mengalir dari kedua bola mata yang telah berpoles anggun
“Apa
yang harus aku lakukan?”
--------
Bersambung

bagus
BalasHapusklo udah tuntas coba ajukan bwt jadi novel
btw sel, aq ada cerita juga. tapi bimgung mau ngembanginnya.
HapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
HapusTerimakasih kawan
BalasHapusLangsung chat saja hehe