Jumat, 06 Oktober 2017

Sadako Bukan Hantu!

Malam itu desir ombak bersahutan mengisi hening. Bulan bersinar cerah seperti matahari yang terbit dari balik bukit timur. Bintang-bintang tersenyum menyaksikan lingkaran mahasiswa di tepi pantai yang oleh manusia dilabeli dengan istilah Pantai Parangtritis. Niat-niat nan tulus terpancar dari wajah mereka, duduk melingkar saling memberi kehangatan.

           

Rabu, 03 Mei 2017

Kampus: Miniatur Carut-Marutnya Negara oleh Politik Praktis


Sesungguhnya tidaklah pantas jika kampus dikatakan sebagi miniatur negara. Seolah-olah kampus yang seharusnya menjadi wadah mahasiswa bersama-sama mencari ilmu berubah menjadi cermin keadaan negara. Bukan raahasia lagi jika keadaan negara saat ini tengah carut-marut oleh kepentingan segelintir orang. Politik praktis, korupsi, saling menjatuhkan antara aparatur negara dan berbagai konflik lainnya. Hal ini juga tercermin pada keadaan kampus saat ini, terutama kampus dengan organisasi mahasiswa yang begitu beragam. Akibat keberagaman dan kurangnya rasa persatuan antara organisasi satu dengan organisasi lain, dinamika organisasi kampus lalu berubah menjadi politik praktis. Dimana organisasi mahasiswa hanya antusias merebut kursi kepresidenan seperti Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM).

Minggu, 19 Februari 2017

Negeri Hutan

Desa itu berada tepat di tepi sebuah hutan lebat yang konon katanya, menurut penduduk desa dihuni oleh para iblis jahat. Tak seorangpun pernah menginjakkan kaki disana. Jangankan mendatangi hutan, melihatnya berlama-lama, bahkan dari kejauhan sekalipun sudah sangat terlarang. Para tetua mengatakan hal itu akan membahayakan jiwa kita. Karena jika saja seseorang tidak sengaja melihat salah satu penampakan iblis jahat, maka mereka akan mencuri jiwanya.

Minggu, 12 Februari 2017

Fur Therese

Salju turun lebat sekali di luar jendela. Cuaca terasa begitu dingin dan malam terus beranjak larut. Therese belum bisa menutup kelopak mata, salju yang turun menarik perhatiannya untuk tetap terjaga malam ini. Gadis yang tidak seharusnya berada di daerah subtropis itu tercenung sendiri, salju yang selalu ingin dilihatnya kini jelas terhampar tanpa henti. Andai saja waktunya tepat, Therese yang berjiwa Mareta itu pasti sudah berlari keluar sejak tadi untuk bermain bola-bola salju. Hanya saja, terperangkap dalam tubuh orang lain membuat Mareta melupakan semua mimpi-mimpi kecilnya.